Ulasan Artikel “Menjadi Solusi dan Manfaat dalam Kehanifan” Karya Aulia Wahyu Maulidya (FAM Surabaya)
Sahabat FAM, satu lagi artikel yang diulas Tim
FAM Indonesia, yaitu berjudul “Menjadi Solusi dan Manfaat dalam Kehanifan” karya Aulia Wahyu Maulidya,
anggota FAM Surabaya.
Penulis menyajikan sebuah tulisan dengan
mengambil pembahasan berupa permasalahan bangsa Indonesia, dengan
menitikberatkan pada kemiskinan, bencana alam, dan kemerosotan akhlak. Tetapi
dari ketiga permasalahan bangsa itu, kemerosotan akhlak menjadi sorotan utama
penulis. Kemerosotan akhlak disebut-sebut menjadi salah satu penyebab
terjadinya berbagai bencana alam di negeri ini.
Pertumbuhan ekonomi yang dianggap membaik, pada
kenyataannya malah menambah jurang pemisah antara orang kaya dengan kalangan
miskin (grass root). Dampak dari
kemiskinan itu banyaknya orang terlantar, anak jalanan atau wanita yang
menjalani kehidupan kelam.
Penulis lantas menyoroti kemerosotan akhlak yang
menjadi penyebab berbagai bencana di negeri ini, berangkat dari kutipan seorang
penyair Mesir Syauki Bik: “Suatu bangsa sangat ditentukan kualitas akhlaknya
. Jika akhlak sudah rusak hancurlah bangsa tersebut.” Dan menguatkannya
dengan firman Allah QS. Ar-Ruum ayat 41: ‘Telah tampak kerusakan di darat
dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada
mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar kembali (ke jalan yang
benar)’.”
Pelaku kerusakan-kerusakan itu adalah muslim
yang membawa nama Islam, maka penulis menyajikan suatu solusi yaitu peran
muda-mudi muslim untuk mengatasi kemerosotan akhlak bangsa ini. Salah satu
caranya adalah menjadikan diri sebagai orang yang paling bermanfaat bagi orang
lain pada bidang-bidang yang menjadi dunianya masing-masing.
Penulis telah menyajikan artikel ini dengan baik
dan penulisan cukup teliti serta penggunaan EYD yang minim kesalahan. Beberapa
kesalahan penulisan yang perlu diperhatikan penulis, diberi tanda merah (lihat
blog FAM www.famindonesia.blogspot.com).
Penulisan yang penting diperhatikan:
“rasulullah” sebaiknya diawali huruf kapital,
karena gelar/sebutan pengganti Nabi Muhammad SAW., penulisan kata “tuk” lebih
baik ditulis “untuk” kecuali dalam karya fiksi.
Kalimat yang rancu dan perlu diperbaiki: “Tapi itu masih satu dari
sekian banyak nestapa…” bisa diganti menjadi “tetapi itu baru satu dari…” atau
“tetapi itu hanya salah satu dari…”
Mengingat
penulis masih berstatus pelajar, maka tulisan tersebut sudah cukup baik dan
luar biasa untuk ukuran pelajar seusianya. Semoga penulis akan terus aktif
menyajikan tulisan-tulisan yang berkualitas.
Salam
santun, salam karya.
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.blogspot.com
[BERIKUT NASKAH PENULIS YANG
DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]
Menjadi Solusi dan Manfaat
dalam Kehanifan
Oleh
Aulia Wahyu Maulidya
IDFAM1001S Anggota FAM
Surabaya
Bangsa
Indonesia tengah dirundung oleh berbagai macam problematika kehidupan yang
sangat kompleks. Sebut saja: Kemiskinan, bencana alam dan yang paling parah
adalah kemerosotan akhlak yang kini mewarnai negeri merah-putih ini.
Angka
kemiskinan di Indonesia berbanding lurus dengan pertumbuhan penduduknya. Data
Badan Pusat Statistik menunjukkan 12,36 % dari total 220 juta lebih penduduk
Indonesia adalah masyarakat menengah ke bawah atau dapat dikategorikan dalam
kelas miskin. Pertumbuhan ekonomi yang berhasil dicapai oleh pemerintah
Indonesia pun tak banyak berpengaruh. Karena pada kenyataannya pertumbuhan
ekonomi tersebut justru semakin merenggangkan jarak antara kaum menengah ke
bawah dengan kaum menengah ke atas. Yang kaya semakin kaya, sedangkan yang
miskin? Semakin miskin pula lah mereka.
Di
balik megahnya deretan perumahan elite yang semakin menjamur, ternyata
rumah-rumah kecil dari kardus pun tak kalah bertebaran di tepi-tepi sungai, di
bawah jembatan, atau bahkan di tepi rel kereta api. Bukankah ini menjadi sebuah
realita yang sangat bertolak belakang?
Pernahkah
kita berpikir tentang kehidupan mereka? Dengan kondisi ekonomi yang serba kekurangan,
dorongan untuk melakukan tindak kriminalitas dan pelanggaran terhadap
norma-norma justru semakin menguat. Selama itu bisa memenuhi kebutuhannya,
apapun akan ia lakukan.
Di
tengah kemakmuran yang digembor-gemborkan pemerintah, nyatanya kemiskinan telah
mengantarkan bocah-bocah yang seharusnya duduk manis di bangku sekolah harus
turun ke jalanan tuk berebut dompet yang bukan miliknya. Kemiskinan telah
mengantarkan perempuan-perempuan agar rela mengobral harga diri dan martabat
mereka yang seharusnya dijunjung mulia. Kemiskinan telah mengantarkan
tangan-tangan mereka yang sudah putus asa sehingga tega merenggut nyawa orang
lain hanya demi sebuah kehidupan yang lebih layak. Hingga akhirnya, kemiskinan
mengantarkan mereka pada keluhan-keluhan atas ketidak adilan Tuhan, dan
menuntut mereka semakin menjauhiNya.
Kemiskinan
seakan tak pernah berhenti menghantui kehidupan bangsa Indonesia yang belum
satu abad merdeka ini. Tapi itu masih satu dari
sekian banyak nestapa yang mengganggu ibu pertiwi kita. Belum lagi masalah
kemiskinan selesai, kita sudah dihadapkan pada realita-realita pelik lainnya.
Tak
hanya kaum menengah ke bawah yang berulah, namun ternyata manusia-manusia yang
sudah beruntung atas harta dan pendidikannya justru berebut peran dibalik hancurnya moralitas negeri ini.
Sebagai
negara dengan mayoritas penduduk muslim di dalamnya, tentu menjadi aib
tersendiri ketika keutamaan akhlak mulia yang diangkat dan dibawa oleh Islam
mulai merosot dan semakin jeblok, berbanding terbalik dengan harga
bahan-bahan pokok yang kini sedang melonjak. Padahal nilai suatu bangsa sangat tergantung dari kualitas
akhlak-nya seperti dikemukakan penyair Mesir Syauki Bik “Suatu bangsa sangat
ditentukan kualitas akhlak-nya . Jika akhlak sudah rusak hancurlah bangsa
tersebut.”
Akhlak yang sudah tak lagi terupgrade, mendorong
Indonesia tuk semakin jatuh ke dalam jurang kemunduran. Lihat saja,
maling-maling berjas sudah tak bisa dihitung dengan jari, pembunuhan tragis
tanpa pri kemanusiaan hampir setiap hari menjadi hot topic dalam berbagai
media, atau kasus traficking dan pergaulan bebas yang semakin lekat dengan pejuang
putih abu-abu. Mereka hanyalah secuil dari beribu potret buram kemerosotan
akhlak bangsa Indonesia. Terlebih, pelaku-pelaku kerusakan ini mayoritasnya
adalah muslimin yang membawa nama Islam.
Apa yang harus kita katakan kepada Rasulullah
dan para sahabat yang keimananannya sudah tak diragukan lagi atas keadaan kaum
muslimin di Indonesia ini?
Nampaknya ibu pertiwi harus lebih banyak
bersabar lagi, karena selain berbagai masalah di atas, Indonesia harus
dihadapkan pada bencana-bencana alam yang bergantian datang menerpa. Banjir,
longsor dan gempa bumi pelan-pelan meluluh lantahkan berbagai daerah di
Indonesia. Ada baiknya kita kembali mengkaji surah Ar Rum ayat 41 yang artinya:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan
manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan
mereka agar kembali (ke jalan yang benar).”
Berbekal ayat tersebut, bencana alam yang tak
kunjung henti menimpa masyarakat Indonesia disebabkan oleh manusia itu sendiri.
Hal ini tentu berhubungan dengan turunnya kualitas akhlak masyarakat Indonesia.
Lantas, apakah Indonesia harus selamanya
terpuruk dengan kemelut-kemelut tak berujung ini? Jika pemeran utama kerusakan
ini sudah terlanjur terlena dengan dunia mereka yang gelap, siapa lagi yang
bisa mengentaskan mereka dan membawa bangsa ini menuju arti kemerdekaan yang
sejati?
Di sinilah peran kita sebagai generasi muda-mudi
muslim sangat dibutuhkan. Sebagai muslim sejati, tak sepatutnya kita hanya diam
dan berpangku tangan melihat saudara-saudara kita yang masih terpuruk dalam
kerusakan yang tak pernah diajarkan oleh agama yang hanif ini. Justru kita lah
tombak masa depan yang menjadi solusi di tengah kemelut yang dihadapi ibu
pertiwi. Karena Islam sebagai rahmatan lil alamin tentunya bermakna mendalam
dan melingkupi berbagai macam aspek kehidupan. Ajaran Islam tidak
mengajarkan umatnya untuk menjadi sebab terjadinya konflik dan kerusakan. Sebaliknya, ajaran Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa menjadi
solusi di tengah-tengah kerusakan umat yang sedang terjadi.
Sebab yang paling mendasar dari jatuhnya akhlak
muslimin Indonesia adalah jauhnya mereka dari Al-Qur’an dan As-sunah. Berbeda dengan kaum muslimin pada jaman rasulullah, mereka mereka menguatkan
barisn dengan menjalin persahabatan yang sangat baik dengan Al-Qur’an dan As Shunnah. Dengan berbekal
keduanya, para generasi terbaik dahulu,
Rasulullah, para sahabat, dan para tabiin mampu menancapkan panji
– panji kebesaran Islam di puncak kejayaannya, di puncak
kebesarannya. Seorang Utsman Bin Affan, dengan insvestasinya mampu memakmurkan
Madinah. Pun demikian dengan saudagar Abdurrahman
Bin Auf, yang mampu menjaga stabilitas pasar, seorang petani yang ulet semacam
Abu Thalhah, yang mampu menjamin ketahanan pangan Madinah, kemahiran
dokter As Syifa binti Abdillah, yang menjamin kesehatan warga Madinah, kejelian
akuntan Abu Ubaidah Bin Jarrah yang telah memeratakan ekonomi yang berkeadilan
di masayarakat Madinah, atau juga kelihaian strategi perang Khalid Bin
Walid, yang membuka ruang – ruang wilayah baru untuk berdakwah. Mereka mampu
menjadikan negeri Arab yang semula tak dikenal menjadi sebuah pusat peradaban
dunia.
Semangat mereka hendaknya menular pada darah
Islam kita, sehingga kita bisa turut mengikuti jejak mereka menjadi muslim yang
hanif, solutif dan produktif di tengah kerusakan untuk membangun agama dan
bangsa.
“Sebaik-baik manusia di antaramu adalah yang
paling banyak manfaatnya untuk orang lain” Begitulah bunyi hadist
yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Yang tentunya semakin memotivasi kita tuk
menjadi solusi dan menghasilkan sebuah atau bahkan beribu manfaat di tengah
kerusakan masyarakat.
Tetapi, sebelum menjadi manfaat untuk orang lain
tentunya kita harus mempunyai suatu kualitas diri yang
mampu dipertanggungjawabkan. Memulai dari diri sendiri adalah sebuah pijakan
awal yang kokoh tuk menopang langkah-langkah kita selanjutnya. Dengan
kepribadian yang sudah tak diragukan lagi, tentunya semakin memudahkan kita
untuk merubah dan membangun masyarakat.
Hal selanjutnya adalah memadukan proses berpikir
dan berdzikir, dengan adanya keselarasan dan sinergi dalam berdzikir dan berpikir,
akan melahirkan banyak konsep dan ilmu yang bermanfaat dan menjadi solusi yang
sudah dinanti-nantikan. Tentunya dengan spesifikasi kemampuan masing-masing
dari kita.
Misalnya, yang memiliki jiwa bisnis dapat
mengaplikasikannya sebagai wirausahawan muda yang dapat menghasilkan
penghasilan sendiri, dan membuka lapangan kerja bagi kaum menengah ke bawah,
juga memberikan produk atau jasa yang bermanfaat kepada konsumennya. Atau
dengan suka rela berbagi ilmu dengan adik-adik kita di luar sana yang justru menghabiskan
masa kecilnya di jalanan, yang tidak sempat merasakan indahnya mengenyam
pendidikan. Bahkan dari seorang penulis, yang hanya bermodalkan kata-kata kita
dapat memberi kontribusi lebih. Terkadang, kata-kata pun bisa lebih tajam dari
pedang bukan? Mungkin dari apa yang kita tulis, bisa menjadi inspirasi bagi
orang lain, menjadi perantara aspirasi dari seorang rakyat kepada penguasanya,
atau bahkan menjadi media tersambungnya pintu hidayah. Betapa sangat tinggi
manfaat tersebut.
Dapat kita ambil contoh dari sebuah karya yang
baru-baru ini dipersembahkan beberapa mahasiswa ITS, Mochammad Rashid Ridho,
Ahmad Taufiqul Hafizh, Rachmadian M Pratiwi, Faishal Mufied Al-Anshary, dan
Adhika Ilham Dhata Pratomo yang menciptakan sebuah aplikasi kreatif untuk membantu
menentukan jurusan perkuliahan calon mahasiswa. Hasil karya keempat mahasiswa
Sistem Informasi (SI) ITS tersebut dinamakan Brighter Future Start Here alias
Buster. Juga maraknya acara-acara Islami yang diprakarsai oleh murid-murid SMA
dalam berfastabiqul khairat. Keduanya ini sudah terealisasi dan terbukti
memberi sentuhan baru sebagai sebuah manfaat dan solusi di tengah rusaknya
kondisi bangsa.
Tapi tentunya, diperlukan lebih dari satu orang
pribadi solutif yang produktif dalam kehanifan guna memecahkan
persoalan-persoalan pelik yang menghantam bangsa. Dan mereka adalah kita,
muda-mudi bangsa yang berani dan optimis, yang saling berhimpun dan bekerja
sama tuk kembali menguatkan barisan terdepan dengan kembali kepada Al-Qur’an
dan As-Sunnah yang sudah mencakup seluruh pedoman kehidupan. Bukankah kaum
muslimin terdahulu begitu kental persahabatannya dengan dua nafas Islam ini?
Sehingga mereka bisa menjadi sebuah generasi emas yang mengentaskan bangsanya
dari kejahiliyahan menuju cahaya terang, membawa bendera agama dan negaranya
menuju puncak kejayaan.
[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
Ket:
Gambar sekadar ilustrasi yang diambil dari google.com

Comments
Post a Comment