Skip to main content

Ulasan Cerpen “Andai” Karya Nenny Mardaeny (FAM Pangkep, Sulawesi Selatan)

Sahabat FAM, hari ini Tim FAM Indonesia mengulas sebuah cerita pendek (cerpen) berjudul “Andai” karya Nenny Mardaeny, anggota FAM Indonesia di Pangkep, Provinsi Sulawesi Selatan.

Penulis menceritakan tokoh “Aku” yang tertarik pada seorang sosok laki-laki yang tiada lain adalah ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di kampusnya. Dari cerita yang disajikan tergambar bahwa sosok ketua BEM menjadi idola mahasiswi, termasuk tokoh Aku dalam cerita tersebut.

Penulis menyusun cerita ini dengan pengantar yang sangat singkat dan langsung menuju kepada pokok masalah yang dihadapi pelaku cerita. Puncak ketegangan terjadi saat tokoh Aku menunggu ketua BEM di Gazebo dengan maksud mengembalikan jaket yang dipinjamnya. Berbagai kata telah dirancang dengan harapan ada kejutan yang terjadi saat mengembalikan jaket itu.

Tetapi, harapan tokoh Aku melenceng jauh, karena sang pemilik jaket hanya dua kata saja: “Makasih ya”.

Ide cerita cukup menarik apalagi kalau dikembangkan lebih baik lagi, mengeksplorasi tokoh cerita, peningkatan konflik yang lebih memberikan kesan bagi pembaca.

Sementara penyajian tulisan cukup rapi, hanya sebagian kecil saja yang perlu perhatian seperti:

“kampus orange”, seharusnya “Kampus Orange” (karena pengganti nama UNM)

“Aku mulai berjalan ke arahnya yang memarkirkan tubuhnya di gazebo…” Penggunaan kata “memarkirkan” agak kurang tepat, sebaiknya digunakan kata “menyandarkan”, atau “merapatkan”, atau diksi lainnya yang lebih tepat.

Secara keseluruhan cerpen ini menarik walau minus konflik. Tak apa. Teruslah mengembangkan ide-ide kreatif

Selamat berkarya, salam santun.

TIM FAM INDONESIA

[BERIKUT NASKAH CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

Andai
Oleh Nenny Mardaeny

IDFAM935M Anggota FAM Pangkep, Sulawesi Selatan

Aku duduk terpaku di bangku halte depan kampus orange di kota Makassar. Kedua mataku menatap lekat deraian air hujan yang mengalir deras dari atap halte itu. Dentumannya yang keras serta angin kencang yang tak henti-hentinya mempermainkan jilbab unguku membuatku hanyut dalam ketakutan. Ditambah lagi gemuruh guruh berulang-ulang kian menambah kekalutan dalam hatiku.

Aku tak mungkin beranjak dari bangku halte itu sampai hujan benar-benar mengizinkanku berjalan menelusuri jalanan yang tak seorang pun berani melaluinya dalam kegelapan. Hanya dengan satu langkah saja, air hujan itu mampu membasahi seluruh badanku. Tapi sampai kapan akan seperti ini? Sampai kapan aku harus menunggu seorang diri seperti ini?

Tiba-tiba seseorang berlari menembus hujan dengan hanya mengandalkan sebuah jaket hitam yang menutupi badan dan kepalanya. Ia lalu memandangku saat tiba di halte. Aku pun menatap tepat ke wajahnya. Kedua mata kami bertemu. Namun dengan cepat kualihkan pandangan dari wajah laki-laki itu. Tapi, sesuatu yang aneh terjadi padaku. Aku selalu ingin menatap wajahnya sekali lagi. Walau dengan sekuat tenaga aku menahan keinginan itu, namun pada akhirnya aku tenggelam juga dalam perasaanku. Ia begitu memesona. Bahkan saat kehujanan pun, ia masih memesona.

Aku terlalu hanyut dalam pesona laki-laki itu hingga suara klakson sebuah mobil Honda Jazz membangunkanku dari khayalan anehku. Tiba-tiba laki-laki itu berjalan pelan ke arahku. Langsung saja kupejamkan kedua mataku dan berharap benar-benar bangun dari dunia khayalku.

“Berapa lama lagi kamu akan menunggu di tempat ini?” tanyanya pelan. Aku langsung membuka kedua mataku dan menatap tepat ke matanya.

Aku hanya menggelengkan kepalaku. Tapi laki-laki itu malah tersenyum. Ia melepas jaket hitam yang sedari tadi menutupi tubuhnya. “Ini…” katanya lagi.

Aku mengerutkan kening tak percaya. Namun tak urung berucap.

“Pakai dan pulanglah. Hari sudah hampir gelap. Jika kamu tetap menunggu di tempat ini, aku khawatir terjadi sesuatu sama kamu.”

Aku benar-benar terpesona dibuatnya. Bukan hanya karena wajahnya, tapi lebih oleh sikapnya. Tak heran jika ia cukup disegani di kampus orange itu. Seorang ketua BEM yang terkenal karena kebijaksanaannya.

Ketika Honda Jazz itu menghilang dari pandangan, aku terdiam. Hanya desiran angin dan gemuruh guruh yang kian berontak di telingaku. Aku telah hanyut oleh pesona laki-laki itu. Dan aku tahu, aku telah menjadi penggemarnya.

Mataku kini terarah pada jaket hitam di pangkuanku. Wangi parfumnya telah mengambang di udara. Tapi senyumannya masih membayang di mataku.

***

Semenjak itu, aku kerap memerhatikannya. Mengamati setiap gerak-geriknya di kampus orange itu. Setiap kali ia tersenyum, aku pun ikut tersenyum. Tapi, setiap kali ia berdekatan dengan gadis, hatiku berontak.

Aku mulai berjalan ke arahnya yang memarkirkan tubuhnya di gazebo, bangunan segitiga yang tak berdinding, hanya tiga lembar seng yang menutupi bangku-bangku yang berbahan semen itu. Tapi aku kemudian terhenti. Mataku mulai menjalari tubuh yang tengah berjalan di hadapanku. Aku berdiri mematung menggenggam sebuah jaket hitam yang bukan milikku. Tak cukup semenit, ia telah berlalu dari hadapanku. Ia melewatiku begitu saja. Ingin rasanya mengucap ‘hai’ kepadanya, tapi kata itu tak pernah bisa terucap dari mulutku. Hanya wangi parfumnya yang kembali mengambang di udara.

***

Aku duduk di gazebo pagi-pagi. Berharap dapat bertemu dengannya, mengingat gazebo adalah tempat favoritnya bersama teman-teman seangkatannya. Selama menunggu, aku sibuk menata kata-kata yang akan kuucapkan saat bertemu dengannya. Hingga wajah orientalnya, menyapa mataku. Ia berjalan ke arahku, tepatnya ke arah gazebo.

Ia semakin mendekat. Aku pun berdiri, bersiap-siap. Tanganku mulai gemetar dan berkeringat dingin. Sebentar lagi, aku dapat menatap wajahnya dari dekat. Menatap senyuman yang ia torehkan khusus untukku.

“Ini, jaket kakak…” kataku pelan.

Ia hanya menatapku. Bingung.

“Jaket yang dipinjamkan kepadaku di halte,” kataku cepat. “Hm, makasih….”

Ia tak menjawab. Hanya jaket hitam itu yang tak lepas dari pandangannya. Hingga seorang gadis berteriak memanggil namanya. Laki-laki itu mengalihkan pandangannya ke arah gadis itu. Ia segera berjalan mendekatinya. Tapi, tiba-tiba ia terhenti dan berbalik menatapku. “Makasih, ya.”

Aku tertegun. Hanya dua kata itu yang terucap di bibirnya. Padahal, aku telah menunggu lama untuk dapat berbincang dan menatap senyumannya. Tapi semuanya jauh di luar harapanku. Dan akhirnya aku harus sadar, aku hanyalah seorang gadis yang telah menjadi penggemarnya.

***

Aku duduk terpaku di bangku halte depan kampus orange di kota Makassar. Kedua mataku menatap lekat deraian air hujan yang mengalir deras dari atap halte itu. Dentumannya yang keras serta angin kencang yang tak henti-hentinya mempermainkan jilbab unguku membuatku hanyut dalam ketakutan. Ditambah lagi gemuruh guruh berulang-ulang kian menambah kekalutan dalam hatiku.

Tiba-tiba dua orang berlari menembus hujan dengan hanya mengandalkan sebuah jaket hitam yang menutupi kepala mereka. Tapi mereka terlihat sangat menikmati menit-menit indah itu, bahkan saat tiba di halte tempatku berdiam diri, mereka masih terlihat bahagia. Laki-laki itu menatapku sedetik dengan tersenyum, lalu menatap gadis di sampingnya dengan penuh rasa cinta.

Aku sudah tahu kalau akhirnya akan seperti ini. Aku hanya bisa memandang senyuman laki-laki itu dari jauh. Sebuah senyuman yang selamanya akan menarik hatiku. Walau ia tak akan pernah mengerti tentang perasaanku, namun aku sudah merasa bahagia dapat menjadi pemuja setianya dalam sebuah angan-angan yang kuciptakan sendiri, yang selamanya tak akan pernah ia ketahui.


Ket: Gambar sekadar ilustrasi yang diambil dari Google.com

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...