"Menerbitkan Novel Pertamanya di FAM Publishing”
Yasin Abiru Sabil adalah nama pena dari Rahmat Herdiansyah.
Lahir di Bandung, 20 Desember 1991. Ia anak bungsu dari tujuh bersaudara. Ibu
tercinta yang telah melahirkannya kini telah tiada. Saat ini, Yasin telah lulus
dari Ma’had Al Imarat Bandung setarta D2 dengan jurusan Bahasa Arab dan Studi
Islam pada Januari 2012 dan kini tercatat sebagai mahasiswa semester lima di
Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiyah Bandung, dengan jurusan PAI (Pendidikan
Agama Islam).
Menurutnya, Yasin Abiru Sabil adalah nama pena yang diambil
dari tiga buah kata. Yasin, karena penulis terinspirasi dari Syeikh Ahmad Yasin
(tokoh pergerakan Palestina, semoga Allah merahmatinya). Abiru Sabil, bermakna
“Penyeberang Jalan”. Sejatinya manusia hanya menyeberang di zebracross dunia yang akan berujung di
tepi akhirat sana, maka ikuti rambu-rambu Ilahi hingga kita semua selamat
sampai tujuan yang haqiqi.
Penulis yang kerap dipanggil “Yasin” oleh sahabatnya, mulai
tertarik membuat cerita sejak duduk di bangku SD. Ketika SMP ia menyukai
pelajaran bahasa Indonesia. Terlebih lagi ketika disuruh oleh gurunya untuk
membuat sebuah karangan. Pernah ketika ulangan harian ia mendapat nilai 100 pada
pelajaran favoritnya itu.
Semenjak duduk di SMK, Yasin aktif di Rohis (Kerohanian
Islam) dan mengelola mading Rohis. Sebagai ketua Rohis, ia merasa harus aktif
dan produktif seperti visi ROHIS di SMKnya: “Ibadah Aktif, Belajar Produktif”. Salah
satu wujud keaktifannya, tulisannya banyak menghiasi mading Rohis.
Ketika mengetahui ada sebuah wadah kepenulisan nasional yang
terlihat sangat pesat perkembangannya, Yasin segera mendaftar sebagai anggota.
Baginya, FAM (Forum Aktif Menulis) Indonesia adalah “gerbang” menuju impian
untuk menjadi seorang penulis muda yang berdakwah lewat tulisan.
Even yang diikuti pertama kali adalah Lomba Milad Sekjen
FAM, Aliya Nurlela. Salah satu surat terbuka yang ia kirim, terpilih sebagai
surat terbuka terbaik ke tiga. Judul surat terbukanya, “Seorang Muslimah
Pengukir Pena.” Ia pun berhak mendapat piagam penghargaan dari FAM Indonesia
dan surat terbukanya akan ikut diterbitkan dalam buku terbaru Sekjen FAM. Awal
yang baik sejak bergabung di FAM Indonesia.
Setelah menjadi anggota resmi FAM Indonesia, even-even yang
diadakan FAM Indonesia selalu ia ikuti. Meskipun tidak selalu menjadi pemenang.
Baginya, yang penting selalu aktif berkarya. Berkat FAM Indonesia pula, buku
pertamanya terbit. Novel berjudul “Ustad Seumur Jagung (USJ)” telah diterbitkan
FAM Publishing. Novel tersebut menjadi novel pertama yang diterbitkan FAM
Publishing. Sekarang novel USJ sudah mendapat pesanan dari teman-teman dan
kenalannya, baik melalui dunia nyata maupun dunia maya.
Demikian pula, salah satu cerpennya yang berjudul “Jalan
Peta Saksi Cinta” lolos seleksi dalam proyek buku antologi cerpen FAM
Indonesia. Cerpen tersebut menjadi salah satu cerpen yang berada dalam buku
“Pesona Odapus.” Akan segera diterbitkan pada bulan Oktober 2012. Setelah
bergabung dengan FAM Indonesia, Yasin merasa beberapa impiannya di dunia
menulis telah menjadi nyata.
“Cita-cita saya adalah menjadi seorang guru, yang
benar-benar guru. Guru yang menjadi teladan bagi anak didiknya, dan guru yang
dicintai anak didiknya. Semoga melalui ukhuwah di FAM Indonesia, bisa
memudahkan jalan meraih cita-cita tersebut,” ujarnya penuh harap.
[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]

Comments
Post a Comment