Oleh Syamsuwal Qomar*)
Saya akan tetap menjadi kecil. Kecuali saya berani
berubah, berproses menjadi lebih besar. ~Anonim
Saya tak
menyangka, tulisan-tulisan yang saya share di jejaring dunia maya, ternyata
bisa mendapat respon cukup bagus. Bahkan secara mengasyikkan, ada yang mampu
memancing diskusi tentang menulis di Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia.
Lewatnya pula saya menemui sesuatu yang fenomenal dalam proses menulis. Sesuatu
yang saya percaya, pasti pernah menimpa semua penulis—terutama pemula. Momen di
mana benak kebanjiran ide, namun bingung bagaimana menuliskannya.
Saya biasanya
menuliskan ide-ide itu dalam bentuk coret-coretan, sampai berwujud kerangka
yang utuh. Namun, apakah masalahnya selesai? Tidak juga. Sekarang bagaimana
memulainya? Ada kepercayaan, pembuka sebuah tulisan –esai, cerpen, buku, novel,
mestinya sesuatu yang menarik. Nah, di sini ide kita sudah diuji lebih dalam.
Bagaimana kalau kita tidak juga menemui pembuka yang dirasa menarik?
Hahaha… Siapa
yang menyangka, ternyata menulis bisa menjadi hal yang sangat merepotkan.
Alangkah mudahnya, jika ide-ide yang ada di pikiran itu cukup di eksekusi
dengan lebih jujur, sederhana, sesuai diri kita yang menuliskan, apa adanya.
Tapi bagaimana jika hasilnya tidak menarik? Morat-marit? Tidak sistematis, pula
tidak sesuai dengan apa yang ingin disampaikan?
Bila itu yang
anda rasakan, hal sama juga sering menimpa saya. Saya sering merasa khawatir
akan kemampuan saya menuliskan ide sendiri. Namun mau bagaimana lagi? Hal itu
harus di lakukan. Tak peduli seperti apapun hasilnya. Ide-ide itu harus
dihargai. Begitu sudah diniati menjadi tulisan, maka itu harus diwujudkan.
Dan meski
akhirnya, terkadang saya merasa kecewa jua dengan hasil tulisan saya. Bahkan
tak urung, menghapus separuh isi tulisan –esai, cerpen, buku, dan novel, karena
merasa gagal menuangkan ide di dalamnya. Mengulangi tulisan itu lagi. Mengedit
bagian-bagian yang tidak memuaskan. Bahkan merombak total menjadi tulisan yang
sama sekali baru.
Saya menyadari
bila, inilah “nikmat” berproses menulis lebih baik. Tidak ada cara instan dalam
meningkatkan kemampuan menulis. Ini proses yang sama dengan yang dijalani
kebanyakan penulis-penulis ternama, melatih menuangkan ide dengan terus
menulis. Dan bila saya merasa mulai capek dan bosan, benak saya berbisik,
menyayangkan betapa dalamnya sudah saya “terperosok” dalam dunia penulisan.
Heleh… hehehe..
Otak saya otomatis
bernostalgia, menegur perjalanan menulis yang sudah saya tapaki. Tentang
bagaimana dulu, sewaktu menjadi mahasiswa di FKIP Unlam, saya “dipaksa” tentor
menulis saya, menerbitkan buku kumpulan artikel dengan judul “Geliat Pemikiran
Kampus”.
Saya pribadi toh,
menilai karya itu terlalu prematur. Karena baik dari gaya penulisan maupun
analisis ide-idenya masih sangat mentah. Kata-kata yang digunakan pun terkesan
membabi buta mengkritik segala sesuatu. Saya menyadari waktu itu juga, saya
gagal menghasilkan buku yang bermutu.
Di mana
kemudiannya, saya belajar jadi lebih baik. Mengawali karya saya dengan lebih
teliti. Memulai dengan melakukan perencanaan yang lebih matang. Melakukan
riset, yang kemudian menjadi fondasi mau kemana karya itu dibawa. Riset yang
juga membantu memetakan karya saya.
Hingga akhirnya
buku kedua saya berbuah. Buku itu, “Oemar Bakri Kenal Internet”, akhirnya
berhasil menjadi bagian dari proses kreatif. Waktu itu, di Kota Banjarbaru
sedang ramai-ramainya pelatihan IT berupa pengenalan blog kepada guru-guru. Saya
menangkap momentum ini untuk menuliskan pengetahuan dan pengalaman saya di
dunia IT, yang bisa diintegrasikan dengan dunia pengajaran dan pendidikan.
Karena sebelumnya
memenej blog www.syamqomar.wordpress.com,
saya sudah mempunyai pengetahuan dasar tentang tutorial blog ini. Tinggal
menambahkan informasi-informasi dasar tentang internet lainnya. Untuk itu saya
bermitra erat dengan ‘mbah google’, hehehe... Jalan-jalan ke wikipedia, hingga
membaca banyak referensi tentang tema yang ingin diangkat.
Ternyata setelah
sudah mewujud, karya itu tidak serta merta diapresiasi. Saya gagal
menawarkannya sebagai buku tutorial. Karena proyek itu mandeg di tengah jalan.
Setelah itu, saya mencoba menawarkannya ke beberapa penerbit, sudah dengan desain
pagemaker, pdf, dan kovernya. Namun, tidak satu penerbit pun berminat, dengan
alasan, pangsa pasar yang terlalu sempit.
Berbulan-bulan
berlalu tanpa hasil, tapi tak disangka, ternyata ada konsultan penerbit yang
tertarik mengakuisisi buku ini. Melalui e-mail, ia menawarkan beberapa rupiah
untuk membeli hak ciptanya. Dan setelah melewati banyak kontemplasi, heleh,
saya pun merelakan karya ini pergi dengan pertimbangan, saya pasti bisa membuat
karya yang lebih baik lagi.
Saya yakin,
beberapa rekan menulis pasti memiliki rona perjalanan yang lebih berwarna.
Bahkan bisa jadi, melewati proses yang
lebih dahsyat. Satu hikmah yang mungkin bisa disepakati bersama, ialah –jangan
sampai, hambatan menuangkan ide membuat kita berhenti menulis.
Yap. Saat hasil tulisan
kita dikritik, adalah pertimbangan kita untuk memperbaikinya. Bila kita merasa
itu membawa perkembangan, lakukan, perbaiki, dan jadikan lebih baik lagi. Bila
tidak, lupakan. Buatlah karya baru yang lebih baik lagi.
Saat kita yakin
karya kita sudah bagus, namun setelah di antar ke sana-ke mari, tak satu
penerbit pun tertarik, maka adalah pilihan kita untuk memperbaikinya. Bila kita
yakin kalau karya kita memang bagus. Dan merasa kalau penerbit melakukan
kesalahan dengan tidak menerbitkannya, maka Anda bisa menerbitkannya sendiri
dengan cara POD (Print on Demand).
Intinya, tidak
pernah ada jalan buntu dalam dunia penulisan. Kebuntuan hanya mungkin terjadi,
jika dilakukan oleh sang kreator itu sendiri. Entah kita menjadi lemah karena
kritikan-kritikan, terlalu malas, atau merasa tak lagi punya waktu sehingga
karya kita mandeg. Tentu saja, semua hal ini pernah menimpa kita semua, saya,
anda, siapa saja yang ingin menjadi kreator dari karyanya. Inilah “nikmatnya”
berproses. Hihihi
Maka lewat
tulisan ini lagi, saya ingin mengapresiasi semua rekan-rekan online, blogger,
facebooker yang masih produktif bertelur karya. Salam Kreatif, teruskan
kenikmatan Anda berproses. Heleh. Yang belum, silakan terinspirasi dan
berproses menulis secepatnya. Heleh. So’ So’an... Hahaha.
*) Penulis adalah
anggota FAM Indonesia, berdomisli di Banjarbaru, Kalimantan Selatan

Comments
Post a Comment