Tragedi anak manusia yang menyentuh hati. Banyak
hikmah yang dapat diambil. Banyak teladan yang dapat dipetik. Kata demi kata
yang dirangkai akan lebih indah bila tepat penggunaan EYD, tanda baca, diksi,
dan konsistensi.
Prinsip efektif dan efisien juga perlu ditingkatkan.
Alur yang dipakai penulis di dalam cerpen ini sepertinya campuran, kadang maju,
kadang mundur. Masih ada flight of ideas. Penggunaan kalimat majemuk
sebaiknya disederhanakan menjadi beberapa kalimat tunggal. Keahlian dan teknik editing
perlu terus dilatih sampai benar-benar menjadi ahli.
Gejala bahasa “redundan” atau “tautologi” dijumpai pada
kalimat berikut ini:
1. Sebuah kehidupan keras yang
Arini harus tempuh dalam kehidupan Metropolitan yang tidak mengenal siang dan
malam.
2. Arini sudah berjanji akan
selalu membahagiakan dan menemani mama di sisa usia mama yang menjelang senja.
Ada beberapa contoh kalimat (juga frase, kata, diksi,
dsb) yang perlu direvisi total (disederhanakan, direstrukturisasi, dan diubah),
agar renyah dikunyah oleh hati dan mudah dicerna pikiran, misalnya:
1. Senin yang crowded, hari ini
Arini sudah berniat untuk mengajukan sisa cuti yang ada. Direvisi menjadi: Di
hari Senin yang padat ini, Arini telah berniat untuk mengajukan sisa cuti.
2. Semua berlalu tanpa terasa
kehidupan Metropolitan yang tidak kenal waktu telah menggilas umur secara
perlahan tapi pasti. Direvisi menjadi: Semua berlalu. Tak kenal waktu. Perlahan
tapi pasti, kehidupan metropolitan menggilas umur manusia.
3. Pagi yang semilir, Purwokerto yang
terkenal dengan kota SATRIA menyambut Arini dengan ramah, papa yang sangat
dirindukan memeluknya dengan erat, betapa Arini sangat merindukan orang tua
yang sebenarnya sangat dikasihi. Direvisi menjadi: Semilir pagi. Purwokerto,
yang terkenal dengan kota SATRIA, menyambut Arini dengan ramah. Papa yang
sangat dirindukan memeluknya erat. Betapa Arini amat merindukan orang tua yang
dikasihinya.
4. Papa Awang memeluk anak
tunggalnya, rasanya baru saja dia bisa melepas rindu anak gadis yang
bertahun-tahun tidak pernah ketemu, setelah perceraian dengan Ajeng mamanya,
dan tiba-tiba kabar yang disampaikan Arini bagai petir di siang hari.
(Cobalah untuk merasakan ada kejanggalan dan ketidakharmonisan di dalam kalimat
ini…. Temukan, lalu rasakan….)
5. Tergurat kesedihan di wajah papa
Awang, semilir angin pagi mengibaskan rambut papa Awang yang penuh dengan uban.
Arini tahu papa pasti mengingat kembali putaran waktu 17 tahun lalu saat berat
saat perceraian dengan mama, tapi pasti terlebih papa sedih dengan
kedatangannya yang hanya menuntut suatu permintaan terakhir dan mau tidak mau
papa Awang harus menepati. (Ada lompatan ide dan ketergesa-gesaan yang
menimbulkan ketidakharmonisan di dalam penyusunan kata, tanda baca, dan
kalimat)
6. Ada ketidak-konsistenan penulis di dalam menyebutkan nama. “Arini”
terkadang disebut sebagai “Arin”.
Beberapa koreksi baik secara gramatika, diksi, maupun
EYD:
1.Menutut hasil
laboratorium siang tadi... seharusnya “Menurut
hasil laboratorium siang tadi”
2. Limfoma Agresif, seharusnya “Limfoma agresif”
3. … dalam 6
bulan… seharusnya “dalam enam bulan”
4. Pembesaran kelenjar inilah yang menyebabkan berat
badan turun, demam dan keringat
malam. à Pembesaran kelenjar inilah yang menyebabkan berat badan turun, demam, dan keringat malam. (Antara kata
“demam” dan “dan” diberi tanda koma. Spasi antara kata “dan” dan kata
“keringat” dirapatkan).
5. “Arin Dokter boleh mendiagnosa, tetapi Allah yang
berkendak.” Seharusnya, “Arin, dokter boleh mendiagnosis, tetapi Allah yang
berkehendak.”
6. sholat, seharusnya “salat”
7. ...membutuhkan untuk istirahat, sebaiknya “perlu
beristirahat”
8. ...omprengan, seharusnya ditulis miring
9. Profesi sebagai Sales Support menuntut dia untuk
selalu..., sebaiknya “Profesi sebagai sales support menuntutnya untuk selalu...”
10. membiayayai, seharusnya “membiayai”
11. Hingga Arini bisa merampungkan S1... Sebaiknya, “Hingga
Arini dapat menyelesaikan S1....”
13. ...dan sudah stadium 3. Sebaiknya, “...dan
sudah stadium tiga”
14. sang papa,
seharusnya “sang Papa”
15. …Arini menjelang 30 tahun, papa masih usia 51
tahun. Sebaiknya, “…Arini menjelang tiga puluh tahun, papa masih berusia 51
tahun”
16. Hanya saja sekali ini Papa mau menempati
permintaan... Sebaiknya, “Hanya sekali ini saja Papa mau menepati permintaan...”
17. “ Pa, Arin sakit kangker kelenjar getah bening dan
angka… Sebaiknya, “Pa, Arin sakit kanker kelenjar getah bening dengan angka…”
18. ...kembali putaran waktu 17 tahun lalu saat... Sebaiknya,
“...kembali putaran waktu tujuh belas tahun lalu saat...”
19. Sedangkana,
seharusnya “Sedangkan”
20. melantarkanmu, seharusnya “menelantarkanmu”
21. elukan, seharusnya “pelukan”
22. ...untuk menyatukan 2 hati. Seharusnya, “...untuk
menyatukan dua hati”
23. ...kesejukan bathin. Seharusnya, “...kesejukan
batin”
24. Penulisan frase "takdir Sang Rabb", sebaiknya
"takdir Sang Rabb." atau "takdir Ilahi."
Selamat berlatih menulis. Semoga menjadi lebih baik
dan akhirnya menjadi yang terbaik!
Salam santun. Salam karya!
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.blogspot.com
[BERIKUT NASKAH PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]
Sesejuk Hati Arini
Oleh Noorhani
Dyani Laksmi
IDFAM992U Anggota FAM Bogor
Limfoma Agresif (intermediate/derajat keganasan
tinggi) cepat tumbuh dan menyebar dalam tubuh dan bila dibiarkan tanpa
pengobatan dapat mematikan dalam 6 bulan. Angka harapan hidup rata-rata
berkisar 1 - 2 tahun dengan sekitar 30-40% sembuh.
Terjawab sudah setelah akhir-akhir ini pembengkakan
pangkal paha yang Arini alami adalah pembesaran kelenjar getah bening .
Pembesaran kelenjar inilah yang menyebabkan berat badan turun, demam dan keringat malam.
“Arin Dokter boleh mendiagnosa, tetapi Allah yang berkendak.” Masih
terngiang selepas sholat Isya bersama
mamanya. Arini bisa melihat kepedihan hati seorang mama yang mengetahui umur
putri tunggalnya divonis berumur tidak lama lagi.
“Sudah aku pasrahkan semua hidupku pada Mu ya Rabb.” Arini berdoa menjelang tidurnya. Tetapi semakin mencoba memejamkan
mata ternyata semakin banyak bayangan berputar-putar dalam pikirannya,
sementara sisi lain fisiknya membutuhkan untuk istirahat karena besok adalah
hari Senin, Arini harus berangkat lebih pagi dengan mengejar mobil omprengan yang kerap berebut dengan para
karyawan lain.
Sebuah kehidupan keras yang Arini harus tempuh dalam
kehidupan Metropolitan yang tidak
mengenal siang dan malam. Arini sudah bekerja hampir tujuh tahun dalam
perusahaan multinasional, setiap hari bahkan kadang hari Sabtu harus dihabiskan
di depan komputer. Profesi sebagai Sales
Support menuntut dia
untuk selalu up date dengan segala urusan penjualan sales yang
Arini support. Arini bersyukur gaji yang diperoleh cukup untuk
menghidupi dirinya dan mamanya. Arini sudah
berjanji akan selalu membahagiakan dan menemani mama di sisa usia mama yang
menjelang senja.
Sejak mama bercerai dengan papa, waktu Arini duduk di
kelas 1 SMP mama bekerja keras untuk menyekolahkan Arini, dari menerima
jahitan, pesanan makanan, kadang merias pengantin mama Ajeng terima demi membiayayai sekolah Arini. Hingga Arini bisa merampungkan S1 Fakultas Ekonomi Jurusan
Manajemen, dan sekarang Arini menjelang usia 30 tahun, hasrat untuk berumah
tangga belum juga terpikir, dirinya terlalu fokus pada pekerjaan.
Semua berlalu tanpa terasa kehidupan Metropolitan yang
tidak kenal waktu telah menggilas umur secara perlahan tapi pasti. Hingga Arini
tersadar, sakit yang kerap mendera menyebabkan beberapa kali pingsan akhir-akhir
ini ternyata kanker pembesaran kelenjar getah bening dan sudah stadium 3.
Yang menjadi pikiran Arini adalah kehidupan mamanya
tanpa dirinya apabila waktunya telah habis, sementara saudara tidak ada. Kakak
Mama sudah meninggal semua, keponakan mama semua juga punya beban hidup
masing-masing. Terbesit untuk menghubungi papa yang sempat Arini dengar
kabarnya dari seorang teman yang rumahnya dekat dengan papa, kalau papanya
masih sendiri.
Senin yang crowded,
hari ini Arini sudah berniat untuk mengajukan sisa cuti yang ada. Hatinya sudah
bulat untuk pergi ke Purwokerto tempat papanya tinggal. Semua Arini atur
sedemikian rupa agar mama tidak curiga dengan kepergiannya kali ini.
Arini sangat menyadari akan luka hati mamanya yang
bercerai dengan papa karena adanya gosip orang ketiga, segala kepedihan dan
ketakutan sebagai anak broken home kerap membayangi setiap
perjalanan hidupnya. Kondisi ini jugalah yang menyebabkan Arini susah untuk
dekat dengan kaum lelaki, beberapa kali Arini putus karena keluarga pria tidak
mau anaknya berhubungan dengan anak yang berasal dari keluarga broken
home.
Selama berpisah dari papanya sempat papa Arini sharing dengannya
alasan-alasan papa dan mama berpisah, yang akhirnya tanpa Arini sadari
sebenarnya mereka masih saling menyayangi hanya karena egois dan kabar yang
terlalu dibesar-besarkan dari orang yang tidak menyakai keharmonisan
keluarganya. Arini bertekad di sisa waktunya ingin menyatukan papa dan mamanya
untuk menghabiskan masa tua mereka.
Pagi yang semilir, Purwokerto yang terkenal dengan
kota SATRIA menyambut Arini dengan ramah, papa yang sangat dirindukan
memeluknya dengan erat, betapa Arini sangat merindukan orang tua yang
sebenarnya sangat dikasihi.
Duduk mencakung di beranda depan, Arini mengamati
wajah sang papa yang tetap kelihatan
awet muda, menikah muda memang membawa keuntungan tersendiri buat papanya. Anak
telah dewasa tetapi papa masih muda dan kuat. Saat usia Arini menjelang 30 tahun, papa masih usia 51 tahun karena dulu lulus SMA papa langsung menikahi mama
yang hanya selisih 1 tahun.
“Mamamu tidak tahu Arin ke Purwokerto? Kenapa sayang?”
Arin terdiam sesat, tapi Arin memantapkan hati untuk
mengutarakan keinginan hatinya, sudah tidak ada waktu lagi semua harus Arini
sampaikan, apa yang menjadi keinginan hatinya dan permintaan terakhir.
“Pa, Arin selama ini tidak pernah meminta apapun dari
Papa. Hanya saja sekali ini Papa mau menempati permintaan
terakhir Arin ya ?”
“Terakhir, memang Arin mau pergi kemana?”
Sesaat Arin terdiam,“
Pa, Arin sakit kangker kelenjar
getah bening dan angka harapan hidup
rata-rata berkisar 1 - 2 tahun atau bahkan bisa kurang dari ini.”
“Arini sayang..” Papa
Awang memeluk anak tunggalnya, rasanya baru saja dia bisa melepas rindu anak
gadis yang bertahun-tahun tidak pernah ketemu, setelah perceraian dengan Ajeng
mamanya, dan tiba-tiba kabar yang disampaikan Arini bagai petir di siang hari.
Papa Awang terduduk lemas dan tanpa terasa air matanya menetes. Rangkaian kata
yang tadinya akan disampaikan menjadi beku, papa Awang ingin menanyakan kapan
puterinya berumah tangga. Semua sirna.
“Pa, selama ini Mama masih sangat mencintai Papa.
Walau Mama selalu mengatakan tidak tetapi Arini tahu dari setiap perilaku Mama
yang kerap malam-malam mencium baju Papa yang Mama selalu rapikan, juga
foto-foto kenangan kita Mama simpan rapi di lemari yang Mama kunci karena takut
aku akan membuka-buka, tapi suatu hari saat Mama pergi, Mama lupa meninggalkan
kunci itu tergantung dan Arini bisa melihat semua pernak-pernik, foto Papa
masih sangat Mama rawat. Tidak sekalipun Mama berpaling pada pria lain.”
Tergurat kesedihan di wajah papa
Awang, semilir angin pagi mengibaskan rambut papa Awang yang penuh dengan uban.
Arini tahu papa pasti mengingat kembali putaran waktu 17 tahun lalu
saat berat saat perceraian dengan mama, tapi pasti terlebih papa sedih dengan
kedatangannya yang hanya menuntut suatu permintaan terakhir dan mau tidak mau
papa Awang harus menepati.
“Pa, Arini tahu mungkin ini berat buat Papa juga Mama,
tapi demi Arini. Arini tidak bisa menjaga Mama lebih lama lagi, inilah yang
menjadi pikiran Arini saat ini. Sedangkana
saudara Mama tidak ada, siapa yang akan merawat Mama?”
“Arini, maafkan Papa selama ini melantarkanmu sayang.” Papa Awang memeluk
lebih kencang dan Arini merasakan hangatnya elukan
seorang papa.
“Papa, sudahlah Arini sudah memaafkan semuanya. Arini
sadar ini semua takdir dan Allah jugalah yang berkehendak.”
“Papa, Arini ingin saat-saat terakhir Arini bisa
melihat Papa dan Mama kembali bersatu. Arini yakin Mama masih mencintai Papa,
apalagi terbukti Papa sampai 17 tahun
ini tetap sendiri.”
“Demi Arini, apapun akan Papa lakukan. Papa janji akan
merawat Mama…,tapi apakah Mama masih mau menerima Papa Arin, setelah sekian tahun?”
“Arini yakin Pa, Mama akan mau menerima Papa. Karena
di hati Mama cinta sejatinya tetap Papa.” Arin
meyakinkan Papa yang penuh keraguan.
Setelah banyak bertukar cerita, melepas kerinduan
seharian. Semburat senja Jakarta menyambut Arini dan Papa Awang yang telah
memasuki stasiun Gambir dalam sebuah kereta.
Arini memegang erat Papanya, pasti Mama akan kaget
dengan surprise yang Arin bawa. Yang terjadi terjadilah, kali
ini Arin mantap untuk menyatukan 2 hati
yang tengah meniti waktu senja untuk saling melepas egonya dan bersatu atas
nama cinta yang sempat terkoyak. Semilir senja membawa kesejukan bathin Arini, hingga menyambut saatnya ajal
yang telah menjadi takdir Sang Rabb.
BEJ, 30 Juni 2011 “masih disela-sela kerjaan”
[sumber:
www.famindonesia.blogspot.com]
Keterangan:
Gabar
sekadar ilustrasi. Sumber omaigat.wordpress.com

Comments
Post a Comment