Sahabat FAM, hari ini Tim FAM Indonesia mengulas sebuah
puisi berjudul “Aku Bergerak di Sakura” karya Akaha Taufan Aminuddin, anggota
FAM Malang.
Banyak memang catatan-catatan dapat muncul ketika seseorang melakukan sebuah perjalanan. Tidak hanya sebuah suasana baru tapi juga segala renungan yang terbetik dalam hati akan apa yang disaksikan mampu dijadikan inspirasi bagi penulis untuk menggoreskannya ke dalam kata-kata.
Banyak memang catatan-catatan dapat muncul ketika seseorang melakukan sebuah perjalanan. Tidak hanya sebuah suasana baru tapi juga segala renungan yang terbetik dalam hati akan apa yang disaksikan mampu dijadikan inspirasi bagi penulis untuk menggoreskannya ke dalam kata-kata.
Hingga sering kita dengar seorang penulis sengaja melakukan
sebuah perjalanan tanpa suatu kepentingan khusus yang dituju, menyatu dengan
alam, mengakrabi wajah-wajah baru yang dikenal, dengan berbagai perilaku,
kebiasaan, dan adat istiadat setempat.
Hal-hal baru seperti ini tentu memberi sebuah kesan yang
mendalam, kedamaian, dan semakin kita mengerti bila di dunia ini ada berbagai
banyak yang dapat kita kenal, ada berbagai macam misteri yang dapat kita
saksikan dan kita kuak sebagai bahagian dari kehidupan ini.
Aku Bergerak di Sakura,
akan terbayangkan sebuah negeri yang dijuluki dengan nama itu. Jepang, ya
negeri yang terkenal dengan keindahan gunung Fujiamanya, dan bunga-bunga Sakura
yang menghiasi musim semi, juga dikenal dengan negara yang termasuk terdepan
dan maju dalam teknologi dengan tidak meninggalkan budaya tradisionalnya.
Sangat beruntung bila penulis sempat menjejaki kakinya di
sana, untuk sebuah pengalaman, untuk sebuah catatan yang bisa kita petik
hikmahnya.
aku bergerak di sakura
melihat pohon pinus
tumbuh subur
mengakar pada batang
jatuh satu persatu
selalu diperhitungkan
jumlahnya
tak peduli akibatnya
yang penting
hitungannya
Sebuah awal keterpesonaan penulis dengan alam yang
disaksikan di sana. Pohon pinus yang tumbuh subur, ketepatan sebuah
perhitungan, entah itu untuk kelestarian alam, atau sebagai simbol bila
orang-orang di sana selalu memperhitungkan dengan tepat dan akurat akan sebuah
tindakan dan kebijaksanaan yang diambil.
Begitu pandai penulis merangkai kata hingga menjadi sebuah
pertanyaan yang cukup dalam apa yang dimaksud sebenarnya dengan kalimat:
tak peduli akibatnya
yang penting
hitungannya
Yang jelas sepertinya di sini tergambarkan karakter sebuah
bangsa yang selalu tepat untuk sebuah perhitungan dan tindakan yang diambil.
Kedisiplinan, sepertinya begitu nilai-nilai positif yang bisa diambil untuk
kemajuan sebuah pribadi juaga bangsa ini.
Pada bait selanjutnya penulis masih memulai dengan kalimat
yang sama dengan bait sebelumnya ‘Aku bergerak di Sakura".
Pengulangan setiap bait yang muncul dengan kalimat yang sama
memang cukup banyak kita temukan di dalam puisi. Bahkan juga dari beberapa
penyair yang terkenal.
Sepertinya sebuah pengulangan yang tepat tidak membuat puisi
menjadi membosankan, justru di sana kita lihat sebuah keindahan dalam kesatuaan
sebuah puisi. Tapi sebaiknya jangan terlalu berlebihan dan membuat puisi jadi
hilang dalam arti. Skala penentuan kadar pengulangan ini bisa kita ukur dari
insting seorang penulis ketika ia merampungkan dan merevisi sebuah puisi.
Lalu, apa yang kita temukan selanjutnya dalam bait-bait saat
"bergerak di sakura?" Sekali lagi kedispilinan terhadap waktu makin
tergambar dalam puisi ini.
Walau tak ada jadwal dan ketentuan yang dibuat, mereka sudah
terbiasa secara otomatis bergerak, bekerja, dan melakukan kegiatan sehari-hari
dengan rutin dan tepat dan akurat. Benarkah mereka seperti “manusia robot tepat
waktu?"
Sebuah "ending" yang mantap telah mampu digoreskan
penulis di akhir puisinya. Dengan memberikan sebuah "nilai kejut"
dari pernyataan yang dibuatnya:
aku bergerak di sakura
menggerakkan waktu
yang ada
dalam saku bajuku
untuk masuk dalam
lipatan perutmu
‘aku mabuk dalam
belaianmu’
Waktu yang ada dalam saku baju, masuk dalam lipatan perutmu,
dan mabuk dalam belaianmu adalah kalimat-kalimat yang cukup mampu membuat
pembaca sedikit menerawang menyelami maksud terkandung di dalamnya. Sebuah
imajinasi telah mampu dihadirkan pada pembaca saat memaknai kalimat-kalimat
ini, dan ya, begitulah puisi.
Salam santun, salam karya.
FAM INDONESIA
www.famindonesia.blogspot.com
[BERIKUT PUISI
PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM INDONESIA]
AKU BERGERAK DI
SAKURA
Oleh Akaha Taufan
Aminudin
IDFAM800U, Anggota FAM
Malang
aku bergerak di sakura
melihat pohon pinus tumbuh subur
mengakar pada batang
jatuh satu persatu
selalu diperhitungkan jumlahnya
tak peduli akibatnya
yang penting hitungannya
aku bergerak di sakura
melihat tanah lapang
tak ada
mesin berputar
mengarahkan jadwal kehidupan
paling tepat
rohnya ada di dalam
‘manusia robot tepat waktu’
aku bergerak di sakura
menggerakkan waktu yang ada
dalam saku bajuku
untuk masuk dalam lipatan perutmu
‘aku mabuk dalam belaianmu’
[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
Keterangan:
Gambar sekadar
ilustrasi yang diambil dari google.com

ulasan yang sangat menarik dan tersirat dengan menawannya penuh misteri yang harus di gali, membuat hidup semakin bersemangat, gambar ilustrasinya mantaf full....terima kasih FAM INDONESIA Salam santun, salam kreatif dan sukses sepanjang masa......Aamin
ReplyDelete