Sahabat FAM, hari ini Tim FAM Indonesia mengulas
sebuah artikel menarik berjudul “Analisis Hasil Pilkada DKI Jakarta” karya
anggota FAM Indonesia yang berdomisili di Jakarta.
Penulis menyajikan sebuah tulisan dengan tema yang
cukup aktual, yaitu Analisis Hasil pilkada DKI yang baru saja menyelesaikan putaran
pertama. Pada Pilkada DKI Putaran Pertama, pasangan Jokowi-Ahok mengungguli
perolehan suara calon-calon yang lainnya.
Penulis berusaha menganalisis faktor-faktor yang
mendorong terjadinya kemenangan pasangan Jokowi-Ahok. Berbagai faktor
dikemukakan, yang diasumsikan sebagai hal-hal yang menyebabkan kemenangan
Jokowi-Ahok dibanding pasangan lainnya.
Satu hal mengejutkan pada analisis ini, penulis
memposisikan diri pada pasangan pemenang Pilkada, sehingga seorang pembaca yang
sengaja diminta pendapatnya langsung berkomentar dengan kata yang sudah
diperkirakan sebelumnya; “subjektif.” Akhirnya betapapun bagusnya sebuah
analisis, menjadi tidak menarik ketika unsur subjektivitas telah mendominasi
analisis tersebut.
Sebaiknya penulis berangkat dari kondisi netral,
walaupun penulis seorang pendukung salah satu pasangan sebaiknya analisis
disajikan berimbang dan tidak perlu memberitahukan posisi penulis di kubu mana.
Dengan pemaparan yang baik, pembaca akan bisa menilai sendiri kelebihan sang
pemenang.
Dari segi penulisan, artikel ini masih perlu
diperhatikan penulisannya, terutama yang diberi tanda merah (lihat blog FAM di
www.famindonesia.blogspot.com). Sebagian harus lebih teliti dalam menulis dan
sebagian akibat kesalahan penggunaan EYD. Penulisan kata setelah kata depan
“di, ke, dari” sebaiknya dipisahkan (spasi) seperti kata “diatas” seharusnya
“di atas” serta kata lainnya yang serupa.
Penggunaan kata “kepedean” lebih baik menggunakan kata
“terlalu percaya diri”
Penggunaan kata “dan lalu” “turut ikut” sebaiknya
gunakan salah satunya yang lebih tepat.
Penulisan nama hari (rabu) dan nama tempat (depok)
sebaiknya diawali huruf kapital.
Selamat berkarya, salam santun.
FAM INDONESIA
www.famindonesia.blogspot.com
[BERIKUT NASKAH ARTIKEL PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]
Analisis Hasil Pilkada DKI Jakarta ala Anak Kos (Saya)
Oleh Abdul
Basyir
IDFAM987U Anggota FAM Jakarta
Hari rabu, 11 Juli yang
lalu warga Jakarta ( yang terdaftar serta yang mendapat undangan dari panitia
TPS ) merayakan pesta demokrasi pemilihan gubernur DKI Jakarta periode
2012-2017. Ada enam pasang calon yang bisa dan boleh dipilih. Saya pun
walau lebih sering menghabiskan waktu di kota depok,
sebagai warga Jakarta yang baik ( juga terdaftar serta
juga mendapat undangan dari panitia TPS) ingin menggunakan hak pilih
saya. Maka hari rabu itu pun saya pulang ke Mampang, Jakarta
Selatan. Kebetulan juga kampus UI memang diliburkan.
Setelah melewati rintangan
banyak nya jalan yang ditutup karena didirikan TPS diatasnya, maklum
tinggal di perkampungan, akhirnya saya sampai ke TPS tempat saya terdaftar
sebagai pemilih. Kebetuan bapak saya adalah ketua TPS tersebut.
Entah kenapa bapak senang sekali meihat saya
datang. Sepertinya karena kita memang satu suara
calon gubernur kali ini. Belum bisa dibuktikan, sih.
Hehe.
Tidak sampai 2 menit saya di dalam bilik suara, karena
saya sejak ama memang sudah menentukan pilihan.
Saat itu sudah pukul setengah satu siang lewat. Pukul satu pemungutan
suara akan ditutup. Mau tahu siapa ? aduh, nanti dulu dong. Jadi tidak seru
nanti.
Ditemani hujan yang tiba-tiba mendera, sekitar pukul
setengah dua penghitungan suara pun dimuai. Mendung ini, angin ini, hujan
ini, pertanda apa kah gerangan ?
Perlahan tapi pasti, sejumlah 347 surat suara dihitung
oleh panitia TPS. Dikomandoi bapak saya dengan pengeras suara.
Menyatakan sah tidak sahnya suatu surat suara berdasarkan aturan KPUD
Jakarta. Meihat bapak seperti itu, yang
sudah tua, yang saban tahun di TPS berseragam batik, yang ditemani panitia TPS
yang itu-itu saja saban tahun, saya bangga sekaligus sedih. Bangga betapa
berpengaruhnya bapak di kampung ini, Rt 6 Rw 6 Kelurahan Tegal Parang Kecamatan
Mampang Prapatan. Betapa diandalkannya bapak. Betapa dipercayai nya
bapak. Sedih karena saya menyadari betapa gagalnya bapak atau tokoh lain
kampung ini melakukan kaderisasi. Entah karena bapak tidak percaya orang
lain yang lebih muda, atau memang yang lebih muda itu tidak bisa
dipercaya. Atau terbentuk semacam kesepahaman sosial antara panitia TPS
saban tahun ini bahwa TPS tidak akan berjalan tanpa diri mereka. Entahlah .
Kembali ke masalah perhitungan surat suara.
Pasangan nomor 1 yang identiik dengan BERKUMIS
dan pasangan nomor 3 yang identik dengan KOTAK-KOTAK bersaing dengan
ketat. Atau lebih tepatnya bersaing dengan tepat pada awalnya.
Karena kemudian pasangan KOTAK-KOTAK ini lalu unggul jauh dari
pasangan-pasangan lainnya.
Pasangan yang identik dengan imej KOTAK-KOTAK ini
tidak lain dan tidak bukan adalah pasangan Jokowi-Ahok. Pasangan yang
identik dengan BERKUMIS tidak lain adalah Foke-Nara. Saya sebut kedua
pasang seperti itu saja tidak apa-apa kan ya ?
Kemenangan Jokowi di TPS kampung kami cukup
mengejutkan juga. Diprediksi pasangan nomor 1 menang mudah, diikuti pasangan
nomor 4. Tapi hasil berkata lain. Lebih mengejutkan lagi kemenangan
pasangan nomor 3 itu ternyata juga terjadi di kampung-kampung lain yang saya
kunjungi TPS nya. Makin mengejutkan lagi ketika di televisi saya mengetahui
bahwa pasangan nomor 3, Jokowi-Ahok ini memimpin perolehan suara sementara
pilkada DKI JAKARTA!. Tentu saja masih hasil hitung cepat….
Tapi, kaget juga. Walau saya juga memilih Jokowi-Ahok.
Yah akhirnya ketahuan, iya saya memilih Jokowi-Ahok si pasangan kemeja
kotak-kotak itu. Hehe.
Analisis pun dilakukan oleh banyak pihak. Hasil
di DKI mengejutkan sekali karena hasil banyak lembaga survei dua minggu lalu
masih menempatkan pasangan nomor satu menjadi pasangan favorit yang akan di
pilih sebagian besar warga. Tapi kenyataannya lain. Dibayar ni yaaaa ? ups. Hehe
Nahh. Di edisi tulisan kosan kali ini saya akan
melakukan analisis hasil putaran pertama pilkada DKI Jakarta. Tentu saja
ala anak kosan dan ala saya. Hehe. Walau tidak baik untuk dijadikan rujukan
untuk alasan apapun, ini adalah analisis dari perspektif yang berbeda dan pasti
menarik !!. hehe.
Oke, analisis saya dimulai.
Pertama dari kejadian dipilihnya Jokowi sebagai salah
satu bakal calon gubernur. Beliau merupakan salah satu kader dari PDI
Perjuangan, yang sampai saat ini masih menjabat sebagai walikota solo. Saat itu, ketika gegap gempita Pilkada DKI
baru saja akan bermula, Partai sepertinya
kelabakan juga untuk menyiapkan calon. Partai lain, kuning
dan biru dan hijau sudah menyiapkan calon masing-masing, calon yang
cukup kuat dan mentereng figurnya. Partai merah ini kemudian, dengan
mekanisme yang berjalan didalam pimpinan partai,
menunjuk Jokowi untuk datang ke Jakarta dan ikut bergabung dalam konstelasi
pertarungan…..
Sebenarnya partai putih juga tampaknya agak panik
hingga menunjuk figur nasional sekelas Hidayat Nur Wahid, yang juga idola saya
untuk mencalonkan diri menggantikan calon muda mereka yang sebelumnya ramai
dibicarakan. Tapi kita tidak akan fokus ke partai putih di tulisan ini. Maaf
yaaa.
Pak Jokowi pun datang lah
ke ibukota, merespon panggilan ibu Megawati Soekarno Putrid
an partai yang mengharapkannya. Untuk dipilihnya Jokowi ini, saya
beranggapan bahwa Jokowi ditarik ke Jakarta juga dengan maksud untuk tidak
mengganggu kondisi di Jawa Tengah. Perseteruan (sedikit) nya tentang
penggusuran pabrik es bersejarah di kota Solo dengan bapak Bibit Waluyo cukup
mengganggu stabilitas partai di kawasan. Karena keduanya dalam satu partai, bu
Mega pasti lebih ingin kalau keduanya akur. Jadi karena notabenenya pak Jokowi adalah “bawahan” dari pak Gubernur Jawa
Tengah itu, daripada saling ribut sebaiknya pak Jokowi dijauhkan dulu. Begitu…
alasan lainnya, ini ada suara dari arus bawah Partai, yang masih kuat ideologi
dan gerakannya untuk mengajukan Jokowi, dan tidak calon lain untuk memimpin
Jakarta. Maka resmilah Jokowi lalu menjadi bakal calon gubernur.
Kemudian siapa wakilnya ?... partai merah tentu punya
stok pemimpin-pemimpin muda atau tua yang berkualitas dan berpengalaman. Tapi
yang dipilih mendampingi malah mantan bupati Belitung Timur, Basuki Tjahja
Purnama alias Ahok, yang juga mendapat julukan bupati Laskar Pelangi. Kenapa
yaa…
Analisis saya seperti ini, pertama dengan rekam jejak
pak Jokowi, diperlukan pendamping yang mirip-mirip karakternya sekaligus saling
melengkapi. Tentu bukan kebetulan juga karena Ahok cukup berhasil dan
punya nama setelah pernah menjabat sebagai bupati Belitung Timur.
Keduanya punya pola kerja yang mirip, lebih sering turun ke jalan bertemu dan
menyapa rakyatnya secara langsung. Ahok pun dibilang cukup berhasil
dengan dijadikannya beliau sebagai salah satu tokoh perubahan di Indonesia oleh
suatu kelompok media. Keduanya juga terkenal bersih dan transparan.
Lengkap lah sudah segala alasan untuk menyandingkan Jokowi dengan Ahok.
Belum lagi dengan dukugan dari Partai Gerindra yang kemudian ikut bergabung.
Wuih… . miris juga sih, pak Ahok kemudian dipecat dari partai sebelumnya karena
mengajukan diri sebagai wakil gubernur. Yah, biar saja, partai nya itu toh tidak bisa berbuat banyak calon
jagoannya babak belur dalam perolehan suara. Padahal partai kuning ini partai
yang sudah kuat sistemnya lho.
Selain karena faktor individual kedua figur tersebut,
saya juga menganalisis kecerdasan pak Jokowi secara khusus dalam membangun
merek mereka ( brand image).
Pak Jokowi tentu terhitung sangat mendadak untuk ikut
dalam pertarungan Pilkada DKI ini, tanpa banyak persiapan, beliau harus sudah
memikirkan langkah-langkah cepat pemenangan. Entah dimana, mungkin dalam perjalanan Solo-Jakarta, saya
rasa pak Jokowi ini pasti memikirkan sesuatu yang unik yang harus menjadi merek
mereka. Melihat trend yang sedang berkembang mengenai kemeja kotak-kotak,
pak Jokowi pun menajadikan kemeja kotak-kotak ini sebagai brand image pasangan
Jokowi-Ahok.
Saat itu, Jokowi belum sekalipun bertemu dengan
pasangannya, dalam perjalanan, didorong juga mungkin karena tidak membawa baju
ganti, Jokowi menyempatkan diri mengunjungi Mal Ambasador di kawasan Rasuna
Said, Jakarta Sealtan. Disana beliau
membeli sepasang kemeja kotak-kotak yang khas untuk dirinya dan Ahok, yang
kemudian menjadi brand image pasangan Jokowi-Ahok. Keputusan yang terbukti
tepat dan mujarab sekali. Tidak hanya menjadi brand image yang kuat untuk
pasangan, kemeja kotak-kotak malah mampu menggerakan tim sukses dan masyarakat
di arus bawah untuk mempromosikan pasangan ini. Bahkan, secara sadar
mereka membeli kemeja kotak-kotak Jokowi-Ahok yang dijual tim sukses yang
keuntungannya digunakan sebagai dana kampanye. Kreatif sekaligus inovatif
bukan ?. di saat calon dari partai lainnya menghabiskan dana jor-joran untuk
kampanye, yang entah darimana saja sumebr uang
itu, Jokowi-Ahok malah mengajak masyarakat ikut berperan serta secara aktif
mendukung kandidat ini.
Analisis keberhasilan selanjutnya adalah dari cara
pasangan Jokowi-Ahok berkampanye. Setahu dan seingat saya, pasangan ini
hanya satu kali melakukan pengerahan massa. Waktu itu di Gelora Bung
Karno, itu pun tidak di lapangan sepakbola utamanya, tempat kebanyakan kampanye
massa dilakukan. Alasan pak Jokowi, biar hemat dan tidak merusak
rumput. Tuh kan ? dalam waktu seperti ini saja pak Jokowi masih
memikirkan hal lain, hal yang mungkin kecil baginya namun tidak untuk suatu
pihak tertentu. PSSI dan timnas Indonesia sebagai ccntoh. Kalau rumput
rusak, pihak yang mengurus perawatan rumput stadion pasti harus segera
melakukan perbaikan. Diinjaki ribuan orang, rumput itu pasti banyak
rusaknya kan ? wong kalau pas main bola Cuma diinjak 22 orang saja sering
rusak. Nah, pak Jokowi tidak mau itu terjadi. Akhirnya kampanye diadakan
di bagian luar. Sungguh keputusan yang arif.
Dalam kampanye itu, pak Prabowo Subianto juga hadir
sebagai orator. Beliau juga mengenakan kemeja kotak-kotak Jokowi –
Ahok. Kampanye ini memang dihadiri banyak massa, namun hanya sekali ini.
Selebihnya Jokowi-Ahok dan tim sukses lebih sering ada di jalan, di
kampung-kampung, di rumah-rumah warga, di pertokoan, di tempat-tempat kumuh,
membagikan VCD pengenalan dan koran Jakarta Baru. Mereka berinteraksi
dengan warga, bercanda, saling sapa, berkenalan, saling diskusi, makan
diwarteg, minum kopi bersama. Mereka bersama rakyat yang akan
dipimpinnya. Saban hari dalam masa kampanye dan berjanji akan terus
melakukan ini saat jadi pemimpin Jakarta. Adakah alasan calon yang
seperti ini kemudian tidak dipilih sebagian besar warga Jakarta ?
Tapi, datang ke warga
dalam waktu kampanye yang sempit ini memang perlu strategi khusus, nah… menurut
berbagai sumber yang say abaca atau dengar,
dalam masa 2 minggu itu Jokowi-Ahok tidak sembarang saja menentukan warga yang
akan didatangi. Mereka mendatangi lokasi dimana banyak kelas menengah, dimana banyak orang jawa,
Madura, sunda atau cina,
dimana kantong-kantong orang miskin, para
seniman, pemain musik berpengaruh, dan dimana
tempat-tempat pemilih mengambang. Kelompok-kelompok inilah yang
meroketkan perolehan suara Jokowi-Ahok.
Dari segi sarana publikasi, menurut saya dibandingkan
calon dari partai lainnya, Jokowi-Ahok adalah yang paling sedikit memiliki
sarana publikasi, baik berupa iklan di televisi, baliho, spanduk, brosur,
poster, leaflet, bill board hingga majlis ta’lim. Bisa dibilang
Jokowi-Ahok sangat kurang sekali. Karena masalah dana
kah ? padahal kan dari partai juga ya. Tapi ya itu, merek
Jokowi-Ahok yang sudah terbangun kuat dengan prestasi, citra, mesin partai, dan
tentu saja kemeja kotak-kotak sangat terekam di benak para calon pemilih.
Sehingga ketika, sebagai contoh sekali saja, dalam waktu yang sangat tepat,
iklan Jokowi-Ahok muncul di televisi, image pasangan tersebut seakan menempel
terus di segala benak para pemirsah.
Hal-hal yang saya paparkan diatas
adalah hasil analisis saya sebagai anak kosan yang ikut mencoblos beliau.
Saya mendapatkannya dari banyak sumber, koran, televisi, dan beragam
diskusi. Itu adalah analisis dari sisi internal pasangan Jokowi-Ahok,
bagaimana dari sisi eksternal ?
Menurut saya, pasangan lainnya, terutama yang dari
partai tidak berhasil membangun merek yang kuat. Citra BERKUMIS, yang dibangun
oleh pasangan nomor 1 sebenarnya menjadi bahan serangan yang menguntungkan
pasangan lainnya, ketika pasangan calon nomor 2 yang Independen; Hendardji
Supandji – Riza Patria menjadikan BERKUMIS menjadi kependekan dari “ BERantakan
KUmuh dan MISkin “. Begitu hal ini terlontarkan dalam suatu acara debat
di televisi, saya rasa citra BERKUMIS malah menjadi tidak menguntungkan.
Selain itu, pasangan nomor 1 ini tampak nya
terlalu percaya diri dengan memasang kepdean “ 1
PUTARAN “ nya di segala bentuk publikasi kampanye. Saya rasa yang
membaca, yang memang bukan fanatik BERKUMIS akan kesal, gemes, marah, atau
apapun sehingga malah tidk mau memilih pasangan
nomor 1. Memang sterlalu kepedean bisa menyebalkan.
Apalagi yaa..
Menurut saya dengan sangat banyak
nya publikasi yang dilakukan; spanduk, billboard, koran, hingga iklan di
televisi menjadi tidak menguntungkan. Masyarakat tentu akan jadi punya
pemikiran, “ ini duit darimana ya buat bikin
iklan ?? “ masyarakat kan sudah cerdas lho.
Belum lagi ditambah citra partai biru yang mengusung beliau. Runyam lah sudah kalau tidak bisa ditemukan
penawarnya.
Calon yparta yang
lain juga tampaknya sama, walau saya cukup kaget juga pak Hidayat Nur Wahid
hanya mendapatkan 11 % lebih suara dari pemilihnya yang kemungkinan besar dari
PKS. PKS itu solid. Kemungkinan besar massa PKS juga terbelah ke pasangan
nomor 1 dan 3 atas dasar berbagai faktor.
Calon nomor 6 ? duh. Saya tidak mau membahas, mesin
partai Golkar dan PPP pasti sedang tidak berjalan lancer.
Perolehan suara pasangan mereka bahkan mampu dikalahkan paangan independen nomor 5; Faisal Basri – Biem Benjamin.
Pasangan independen ini termasuk salah satu fenomena dalam pilkada ini.
Bagaimana kemudian akhirnya calon Independen bisa mengalahkan calon dari
partai, partai kuning dan hijau pula. Ini adalah bukti Independen punya tempat
tersendiri di hati para warga. Merea sudah
bosan juga dengan CALON DARI PARTAI. Makanya mereka memilih CALONNYA WARGA.
Well… begitulah analisis hasil (hitung cepat) Pilkada
DKI Jakarta ala saya kali ini. Seperti yang anda ketahui urutan perolehan suara
adalah nomor 3 – nomor 1 – nomor 4 – nomor 5 – nomor 6 – nomor 2. Pilkada
pun akan berjalan dua putaran dengan mempertarungkan pasangan Fauzi
Bowo-Nachrowi Romli dengan pasangan Jokowi – Ahok. Alhamdulillah, puji
syukur selama masa pelaksanaan pemilu kemarin berjalan aman damai dan
tenteram. Warga memang sudah cerdas, sehingga tahu mana yang baik mana
yang tidak, dan tidak usah bikin ribut.
Sekedar tambahan, saya ingin mengomentari tentang
dorongan isu SARA dalam kecenderungan memilih. Isu SARA juga digunakan
untuk mencegah suatu calon dipilih. Menurut saya ini sudah bukan masanya
lagi. Ketika suatu pasangan mengedepankan isu SARA tertentu untuk dirinya
lalu menggunakan isu SARA lain untuk menjatuhkan pasangan lain, hal ini malah
akan menghancurkan suara pasanagn calon yang
melontarkan. Belum lagi juga turut ikut
mencederai demokrasi. Masihkah hal ini terjadi ? masih, masih. Saya menyaksiannya sendiri ketika suatu calon terus menggembor-gemborkan
isu SARA tertentu untuk kepentingan dirinya dan lalu
menyerang pasangan lain. Perolehan pasangan lain itu malah jadi melebihi
pasangan yang menjelek-jelekkan. Karena apa ? karena setiap elemen dalam SARA
yang dijadikan senjata untuk menjatuhkan malah bahu-membahu untuk menjatuhkan
balik pihak yang bermain kotor itu.
Sudah saatnya isu SARA dikeluarkan dari politik dan
demokrasi. Kita harus memilih pemimpin atau partai yang paling baik buat
kita, yang menrut kita bisa memberdayakan dan
mensejahterakan kita semua.
Salam demokrasi. Salam anak kos kampus UI.
Keterangan:
Gambar sekadar ilustrasi yang diambil dari Google.com
[sumber:
www.famindonesia.blogspot.com]

Comments
Post a Comment