Sebuah hasrat dan
keinginan menyatukan hati dan jiwa, pada kekasih hatinya dilukiskan cukup indah
dan menarik dalam puisi ‘Melatiku’. Bahasa simbol yang mencakup sifat sementara
tidak berkenan. Seperti pelangi yang indahnya sesaat, biasanya datang kalau
musim hujan dan matahari muncul menyinari, maka pelangi hadir dengan tatawarna
yang menghiasi.
Kita simak baris
puisi berikut ini:
Melatiku,,,,
Aku tak ingin serpihan hati kita terbias jadi
pelangi
Walau indah, namun, hanya sesaat
Dan dipertegas
lagi dengan penyairnya tidak mau hanya cinta sesaat, artinya dengan hijau
kelopakmu, walau sejuk hanya sesaat. Keabadian cinta yang sangat di harap dalam
sajak ‘Melatiku’:
Melatiku,,,
Aku tak ingin sejuk embun hatiku bersatu dengan hijau
kelopakmu
Walau sejuk, Namun, hanya sesaat
Melatiku,,,
Aku tak ingin kebersamaan kita bagai mimpi sesaat
Hanya menyisakan gelisah dan rasa bersalah
Biarkanlah aku melangkah
Sepeti titik-titik air hujan yang mencoba lepas
dari cengkeraman langit
Walau akhirnya bumi akan menelanku
Yakinlah aku akan kembali
Semakin penuh
misteri sajak ‘Melatiku’ yang berbicara tentang kematian juga, walau akhirnya bumi akan menelanku yakinlah
aku akan kembali…. Tentunya di alam berbeda, dan puisi ‘Melatiku’ juga
mengingatkan umur manusia yang dibatasi oleh Sang Pencipta. Maka manfaatkan
waktumu dengan sebaiknya dalam kehidupan ini.
Wow…. puisi yang
indah dan sangat romantis, cinta abadi dan kekal… melati bau harumnya?
Yang perlu
dikoreksi, sebaiknya tidak menggunakan tanda koma yang terlalu banyak seperti: “Melatiku,,,,”.
Itu mengurangi keindahan puisi. Sebaiknya tanda koma diganti dengan tanda
elipsis (...).
Teruslah menulis.
Salam santun, salam karya.
TIM FAM INDONESIA
[BERIKUT PUISI PENULIS YANG DIPOSTING TANPA
EDITING TIM FAM INDONESIA]
Melatiku
Oleh Warno Adi Susilo
IDFAM730M Anggota FAM Wonogiri
Melatiku,,,,
Aku tak ingin
serpihan hati kita terbias jadi pelangi
Walau indah,
namun, hanya sesaat
Melatiku,,,
Aku tak ingin
sejuk embun hatiku bersatu dengan hijau kelopakmu
Walau sejuk,
Namun, hanya sesaat
Melatiku,,,
Aku tak ingin
kebersamaan kita bagai mimpi sesaat
Hanya menyisakan
gelisah dan rasa bersalah
Biarkanlah aku
melangkah
Sepeti
titik-titik air hujan yang mencoba lepas dari cengkeraman langit
Walau akhirnya
bumi akan menelanku
Yakinlah aku akan
kembali
[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
Ket: Gambar hanya sekadar ilustrasi, diambil dari
google.com

wah, ternyata puisiku diulas juga. terima kasih
ReplyDelete