Oleh Ma’arifa Akasyah*)
Ada sebuah rindu yang mengganjalku malam ini dengan segala pernak
pernik sekolah. SMA 1 Pegandon, tempat yang aku pilih sebagai sekolah lanjutan
tingkat atasku dengan berbagai alasan. Tapi, dampak yang ku dapat saat dan
setelah berpijak di atas buminya, sungguh luar biasa. Tentang kebangkitan
menulisku yang sempat ‘mati suri’, SMA ini memberikan banyak motivasi. Terutama
Bu Santi Beni, guru bahasa Indonesiaku dua tahun berturut-turut. Bu Santi telah
mengamanatkan suatu lomba kepada Husni Mubarok (bukan presiden Mesir), Linda
Ayu Wardhani (adik kelasku), dan aku.
Ya, lomba menulis artikel populer bertema Menulis Meningkatkan Daya Kreasi Generasi
Cerdas dan Mandiri dengan ‘embel-embel’ tingkat Jawa Tengah. Wow dan keren
sekali bagiku. Mendengar kata ‘Jawa Tengah’ saja sudah begitu terbayang jumlah
dan kemampuan peserta yang akan mengikutinya. Saat itu terbesit bahwa aku tetap
harus menyelesaikan kepercayaan yang satu ini, meski hanya untuk ‘menyenangkan
Bu Santi’. Saat itu, komputer ‘jadul’ adalah teman paling setia yang ku temui
malam hari seusai belajar untuk persiapan ulangan kenaikan kelas XI. Tak banyak
kata yang bisa ku rangkai dalam semalam. Dengan ‘deadline’ yang cukup mendadak—sebab
letak sekolah yang terlalu jauh dari informasi—membuatku merasa terlalu
terbebani dengan hal ini. Tapi, bapak selalu menenekankan bahwa sesuatu yang
diperjuangkan akan membuahkan hasil. Pedoman yang ku gunakan saat itu hanyalah
sebuah buku berjudul “Pokoknya Menulis” (aku lupa penulisnya, yang pasti
berjumlah dua orang) dan ‘download’an dari internet yang kebanyakan tak
bersumber dengan pasti. Semua ku kerjakan hingga selesai sebelum Bu Santi
mengejar-ngejarku untuk memebrikan naskah.
Berdoa? Ya, aku memang seharusnya berdoa setelah naskah itu
dikirim ke panitia. Tapi, itu tak ku lakukan. Pesimis begitu menggandrungiku
hingga aku sama sekali tak bersemangat untuk mengharap keajaiban datang.
Bagiku, menjadi partisipan tingkat Jawa Tengah saja sudah di luar dugaan. Tapi,
Allah begitu menyayangiku yang lupa berdoa ini. Telepon berdering mengabarkan
bahwa aku berhasil menjadi salah satu dari dua belas besar lomba itu. Seketika,
petuah bapak ku yakini benar dan aku berjuang bukan hanya untuk menyenangkan Bu
Santi.
“Maaf, Pak. Lomba apa?” tanyaku terbata. Mungkin, akan
terdengar bahwa aku mengikuti banyak lomba hingga tak tahu aku berhasil atas
lomba apa. Namun, sebenarnya karena ‘saking’ aku tak percaya atas informasi
itu.
Menuju LPMP Jawa Tengah (kata LPMP baru kukenal saat membuka
surat tugas dari pihak penyelenggara yang datang tiga jam sebelum
keberangkatanku), aku bertemu sebelas peserta dari sekolah lain yang mampu ku
baca kehebatannya lewat sesi presentasi. Nomor urut sepuluh dari dua belas
peserta tentu saja kesempatan bagus untuk mendengarkan peserta di nomor urut
sebelumnya. ‘Minder’, itulah yang menyelimutiku saat aku memperhatikan
presentasi mereka. Ada yang membahas tentang ekstrakulikuler KIR, ada yang
menyelipkan banyak kata mutiara dalam bahasa asing, ada yang memaparkan lewat
sudut pandang musik, menyisipkan pidato Bung Karno di dalamnya, dan yang paling
hebat adalah menggabungkan antara dunia tulis, jurnalistik, dan kebudayaan
sintren. Sedang yang aku bawa saat itu hanyalah materi sederhana yang akan
terlihat kerdil saat aku presentasikan.
Benar saja, aku harus berpuas diri dengan peringkat tujuh
yang berbeda dua poin dari peringkat enam. Sang juara harapan tiga itu pula
adalah teman satu kabupaten (SMA Negeri 1 Kaliwungu) yang pulang dalam satu
mobil denganku dengan membawa piala. Ya, aku memang tak bisa memberikan piala
untuk sekolahku saat itu. Tapi, aku pulang dengan membawa pengalaman luar biasa
mengenal mereka dan motivasi tinggi untuk menulis.
Mulailah revolusi kepenulisanku dimulai. Aku menulis sebuah
cerpen sederhana yang aku kirim ke majalah pendidikan kabupaten, Ganesha ’05.
Super, cerpenku langsung dimuat di edisi selanjutnya. Tapi, sangat disayangkan
saat aku sama sekali tak mendapatkan kabar atas dimuatnya cerpen itu. Aku
mengetahuinya lewat ucapan selamat seorang teman. Di mana pihak majalah berada?
Perjuangan selanjutnya ku mulai dengan mengikuti lomba-lomba
online yang ku kirim lewat komputer perpustakaan. Begitu lekat di memoriku saat
aku harus merayu teman-teman agar mengalah dan mengijinkanku untuk menggunakan
satu dari dua komputer itu. Ada yang langsung memberikan kursi, tapi lebih
banyak yang marah-marah dan mengusirku.
Dari lomba online inilah aku menemukan FAM Indonesia lewat
sebuah lomba cipta cerpen dan puisi. Tergerak hati ini untuk mengikuti lomba
yang mengharuskan diri untuk mendaftar sebagai anggota. Akh, aku hampir putus
asa saat melihat pesan Bunda Aliya tentang biaya regristrasi. Tapi, sungguh
berbahagia saat Bunda Aliya mengabarkan tentang lomba dalam rangka milad beliau
di Juni 2012. Kesempatan luar biasa yang mampu kugapai saat mendapat beasiswa
registrasi FAM. Tereeeeet, jadilah
aku seperti sekarang.
Saat naskah cerpen Laring
Pembela-ku dinyatakan layak masuk antologi FAM, aku bagikan kabar gembira
itu di grup kelasku. Teman-teman menanggapi dengan berbahagia. Dan siapa
sangka, malam ini aku dikagetkan dengan pesan temanku yang ingin membeli
novelku?
“Novel yang mana? Belum jadi, Saudara. Aku baru menjadi
kontributor, belum punya buku sendiri. Tapi, terima kasih dan aku
mengamininya,” jawabku dengan menahan tawa. Akh, begitu tinggi apresiasi mereka
kepadaku hingga ber’husnudzon’ sebaik itu.
Malam ini, aku sungguh dirundung tawa yang memecah
kesepianku. Bersama beberapa tetes kerinduan yang membasahi pipi saat aku
membuka kembali album kenangan sekolah, aku merasakan sebuah angin mengeringkan
pipiku. Sungguh aku menginginkan bisa membuat mereka bahagia. ‘Ibuk’, bapak, Bu
Santi, Pak Sis (kepala sekolah yang berjanji akan memberiku uang seribu rupiah
jika aku mendapat juara 1 di LPMP), teman-teman XII IPA 2, dan SMA 1 Pegandon
yang telah memberikan banyak hal padaku. Dan sungguh aku menyesalkan bahwa aku
tak aktif menulis saat masih berpijak di SMA. Bukankah aku bisa mengirim secara
gratis di komputer perpustakaan atau lab? Bukankah aku masih punya banyak
referensi buku yang bisa ku baca semauku dan kapan pun? Sekarang aku telah
terpaku di rumahku sendiri, hanya sesekali mendengar bel sekolah ala bandara
yang samar-samar sampai belakang rumahku. Tapi, tak boleh hal ini menjadi
pembatas semangatku.
Malam ini, teriring lagi perjuangan panjang kehidupanku di
SMA Pegandon termasuk dunia kepenulisanku yang masih sangat muda ini. Dan
sebelum aku menutup lima belas September ini (bertepatan dengan ulang tahun
salah satu temanku, Fitatul Islamiyah), aku hendak menyelipkan kata. SMA-ku,
jika selama tiga tahun aku belum bisa memberikan satu piala pun di lemari
tuamu, aku akan menebusnya dengan buku-bukuku. Aku janjikan bahwa aku pasti
berbagi buku sebagai ucapan terima kasih yang mungkin terlalu kecil untuk
digenggam.
*) Ma’arifa Akasyah,
ID FAM815U, anggota FAM Indonesia, berdomisili di Kendal

Mice :)
ReplyDelete