Cerpen “Barapen” ini begitu kaya diksi, begitu kaya majas.
Kaya makna, kaya bahasa. Pembaca diajak berkelana ke “dunia lain”, dunia yang
jauh dari peradaban umat manusia. Dunia yang dilukiskan penulis cerpen ini
begitu kontradiksi namun memang benar-benar terjadi dan memang alami tanpa ada
pamrih pribadi. Masyarakatnya menjunjung tinggi tradisi. Ada keunikan
tersendiri. Ada kisah di mana “harga diri manusia” ditentukan oleh kepemilikannya
terhadap hewan babi. Ada pula adegan wanita menyusui babi! Pembaca diajak
berpetualang menemukan sesuatu yang benar-benar menggetarkan hati.
Ada majas prosopopoeia yang bergabung dengan majas hiperbola
di dalam kalimat:
Lelaki itu yakin,
babi-babi yang tak bisa diam itu sedang berusaha meneriakkan seribu umpatan.
Ada majas oksimoron yang seolah bergabung dengan majas
metafora, tampak di dalam kalimat:
Lelaki itu seperti
melihat seseorang yang terlalu mencintai, sampai tak tahu lagi seperti apa
sebaik-baiknya cara mencintai.
Ada majas perifrasis yang terlihat dari kalimat berikut ini:
Bukannya tak peduli,
ia hanya tak yakin, Pak Menteri dapat menggali lubang untuk bakar batu bila
mengangkat cangkul dengan perut sebesar itu saja nafasnya sudah satu-satu.
Ada majas personifikasi yang terlihat dari kalimat berikut
ini:
1. Asap mengepul,
pertanda batu-batu panas mulai menyemedikan daging babi di dalamnya.
2. Puisi orang
pedalaman. Menyairkan sebuah peradaban.
Ada majas antitesis yang terlihat dari kalimat berikut ini:
....agaknya semakin
sebuah zaman maju, sebenarnya ia hanya sedang kembali ke zaman batu.
Irama dari tarian majas simploke dan mesodiplosis dapat
dirasakan dari lambaian kalimat berikut ini:
Yang sejak awal ada
akan selamanya ada. Yang tak pernah ada selamanya tak akan pernah ada.
Hanya ada beberapa koreksi EYD dan sintaksis:
1. Dengan cara yang
leluhur mereka telah ajarkan… Akan lebih memikat hati bila diganti dengan
kalimat: Dengan cara yang telah diajarkan
oleh leluhur mereka.
2. Saat barapen
seperti ini memang saat yang Insoraki dan keluarganya nanti-nantikan... Juga
akan lebih memikat hati bila diganti dengan kalimat: Saat barapen seperti ini memang saat yang dinantikan oleh Insoraki dan
keluarganya.
3. Pak Menteri, sebaiknya “pak menteri”
4. didalamnya, seharusnya “di dalamnya”
5. sang tamu istimewa, sebaiknya “sang Tamu istimewa”
6. Diatasnya, seharusnya “Di atasnya”
7. ...sebelum Kepala Suku sendiri, sebaiknya “...sebelum
kepala suku sendiri”.
8. di masak, seharusnya “dimasak”
9. "Setahu saya sih bisa semalaman sampai tangis
anaknya berhenti sendiri." Sebaiknya: "Setahu saya sih bisa semalaman sampai tangis anaknya
berhenti sendiri." (kata "sih" bercetak miring).
Demikian ulasan cerpen ini. Semoga bermanfaat. Salam
Aishiteru!
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.blogspot.com
[BERIKUT NASKAH
PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]
Barapen
Oleh Zakiyah Sabdosih
IDFAM980M Anggota FAM Malang
Bila surga memang benar-benar ada di langit, dengan
mengacungkan tangannya saat ini niscaya ia bisa menukil kembang gula kapas dari
atas kepala. Sehasta jarak saja dari surga. Dari gula kapas raksasa yang
menaungi sepanjang Jaya Wijaya. Di sinilah lelaki itu kini berada. Di antara
hingar-bingar barapen di tinggi Lembah Baliem.
Seorang lelaki berkoteka memegang kepala babi, seorang lagi
memegang bagian dua kaki belakang, bersama-sama mereka mengangkatnya setinggi
kepala. Dalam jarak yang sangat amat dekat dari sana, busur panah siap
meminjamkan kematian. Cuma-cuma, tanpa perlu dikembalikan. Dan, hingga busur
panah itu dilesatkan, si babi masih meronta-ronta. Berusaha melepaskan diri
sekuat tenaga. Menguik-uik seperti kerasukan. Perang Badar antara ia dan Tuhan.
Setelahnya, babi-babi lain menunggu giliran. Lelaki itu
yakin, babi-babi yang tak bisa diam itu sedang berusaha meneriakkan seribu
umpatan. Hanya saja, orang-orang ini tak dapat memahami bahasa binatang.
Apalagi suara babi itu yang paling tidak merdu di antara para hewan. Tapi,
orang-orang ini tak akan terlalu memperdulikannya. Yang terpenting bagi mereka
saat ini adalah apakah babi-babi itu bisa langsung mati dalam satu lesatan
panah. Bila babi itu langsung mati seketika itu juga, mereka percaya itu
sebagai pertanda. Bahwa acara ini akan berjalan lancar sesuai rencana. Namun,
bila babi-babi itu tak jua langsung mati seketika, diyakini pula acara ini tak
dapat berjalan lancar sesuai rencana mereka. Ada nafas lega setelah para lelaki
memastikan babi-babi itu langsung mati saat itu juga.
Sejenak ia teringat akan pemandangan pertama yang ia lihat
kemarin begitu sampai di sini. Seorang wanita sedang menyusui anaknya di dada
sebelah kiri, dan sekaligus pada saat yang sama menyusui anak babi di dadanya
yang lain. Wanita menyusui babi! Membaginya susu murni seperti anaknya sendiri.
Lelaki itu seperti melihat seseorang yang terlalu mencintai, sampai tak tahu
lagi seperti apa sebaik-baiknya cara mencintai.
Di tanah ini, babi memang sebuah harga diri. Kekayaan orang
tergantung dari jumlah babi yang dimiliki. Hanya ditempat inilah seekor babi
mendapatkan penghormatan tertinggi. Tinggal serumah dengan babi atau bahkan
melihat pemilik rumah rela tidur di luar sementara babinya tidur di dalam rumah
merupakan hal yang tak jarang terjadi di sini.
Untuk itulah sebenarnya lelaki itu datang kemari. Untuk
melihat zaman batu dengan mata kepalanya sendiri. Zaman batu di abad dua satu.
Bukan untuk meliput kedatangan Pak Menteri yang sejatinya menjadi tugasnya
seperti wartawan-wartawan lain yang jauh-jauh datang ke sini.
Hari ini memang Pak Menteri mau kemari. Menengok rakyatnya
di pedalaman negeri. Begitu judul yang digaung-gaungkan di sini. Maka, sedari
tadi hingar bingar di tempat ini sedianya diadakan untuk menyambut kedatangan
tamu penting itu. Barapen, memasak rupa-rupa makanan dengan metode bakar batu.
Ritual tradisional Papua yang dilakukan saat ada pernikahan, upacara kematian,
bukti perdamaian antar suku, atau juga penyambutan tamu.
Semasa yang sama, saat para lelaki dengan segera
memotong-motong babi sebelum darahnya jadi dingin dan membeku, para wanita
sibuk mempersiapkan bahan makanan lain yang akan dimasak. Kayu bakar sudah
dikumpulkan, sebentar lagi siap digunakan untuk memanaskan batu, dengan cara
menumpukkannya sedemikian rupa agar dapat membakar batu didalamnya hingga kayu
habis dan batu menjadi panas. Batu yang sudah panas membara itulah yang
nantinya akan digunakan memasak bahan-bahan makanan. Dengan cara yang leluhur
mereka telah ajarkan.
“Pak Menteri datang!”
Salah seorang wartawan berteriak.
Seketika, semua bidikan kamera mengarah pada sang tamu
istimewa. Pak Menteri datang sebelum barapen dimulai. Sengaja, supaya ia bisa
ikut bakar batu secara langsung. Mendekatkan diri dengan masyarakat di sini,
begitu ujarnya pada ajudannya tadi.
Setelah sibuk menyalami para warga yang berebut tangannya,
kini ia berniat membantu para lelaki. Oraborus sedang sibuk menyiapkan lubang
bakar batu dalam tanah ketika Pak Menteri tiba-tiba menghampirinya dan memberi
tawaran untuk membantu membuat lubang. Oraborus acuh saja. Bukannya tak peduli,
ia hanya tak yakin, Pak Menteri dapat menggali lubang untuk bakar batu bila
mengangkat cangkul dengan perut sebesar itu saja nafasnya sudah satu-satu.
Lama kelamaan, Pak Menteri akhirnya menyerah. Lakon utama
barapen adalah mereka sendiri. Tak perlu cameo lagi. Ujung-ujungnya, ia memilih
duduk bersama seorang lelaki tua yang sedang melinting tembakau sambil melihat
para lelaki lain menjapit batu yang sudah panas dengan apando lalu menaruhnya
di dalam lubang yang sudah dilapisi daun pisang dan alang-alang. Batu-batu
disusun mengikuti bentuk lubang yang seperti keranjang. Kemudian, daun pisang
dan alang-alang ditaruh kembali di atasnya. Barulah, di atas batu panas yang
sudah dilapisi ilalang, daging babi yang sudah dipotong-potong diletakkan.
Diatasnya, kembali ditutup dengan ilalang dan dedaunan. Lapisan selanjutnya,
batu yang membara ditumpuk lagi seperti sebelumnya, dengan dilapisi ilalang dan
dedaunan yang tebal pula di atasnya. Asap mengepul, pertanda batu-batu panas
mulai menyemedikan daging babi di dalamnya.
Kemudian, hipere disusun di atas ilalang sebelumnya. Sekali
lagi ditimbun dengan alang-alang dan batu membara di atasnya. Pandanglah
Oraborus, tangan kekar dibalut hitam legam kulitnya dengan gesit memindah batu
panas ke dalam lubang pembakaran. Hitam legam namun semurni-murninya pola
pakaian kehidupan. Sementara Insoraki, salah satu wanita tanpa bra, tampak
sibuk dengan sayur dan umbi-umbian. Dalam hatinya, lelaki itu membandingkan busana
Insoraki dengan wanita-wanita yang biasa ia lihat di kota maju, agaknya semakin
sebuah zaman maju, sebenarnya ia hanya sedang kembali ke zaman batu. Ah,
tidakkah negeri ini begitu besar cintanya pada warisan leluhur?
Kini Insoraki meletakkan tirubug, nahampun, dan towabug, di
lapisan selanjutnya, lalu menutupnya lagi dengan alang-alang agar uap panasnya
tak keluar. Yang terakhir, ia memasukkan buah merah, menimbunnya dengan
alang-alang, dan batu panas lalu menutupnya kembali dengan rerumputan. Selesai
sudah. Tinggal menunggu panas batu mematangkan semua bahan.
Lelaki itu mendekati kerumunan yang mengerubungi Pak
Menteri, semua sibuk mengambil gambar sambil bertanya ini itu sedang ia malah
sibuk memotret Insoraki sedari tadi. Saat barapen seperti ini memang saat yang
Insoraki dan keluarganya nanti-nantikan. Bakar batu sejatinya selalu membawa
ketakziman. Puisi orang pedalaman. Menyairkan sebuah peradaban.
Lelaki itu akhirnya memilih memotret Insoraki lagi. Hingga
ia menyadari, leluhur Insoraki barangkali telah meramalkan masa depan tanah ini
dengan baik. Dengan mengajari anak cucu mereka bakar batu, mereka telah
mendioramakan hidup mereka sendiri. Hidup yang tak tersentuh dunia. Yang sejak
awal ada akan selamanya ada. Yang tak pernah ada selamanya tak akan pernah ada.
Bandul waktu yang porosnya berhenti, tak memantul lagi, akhirnya mengajari
mereka satu hal: setia.
Segera setelah panas batu mematangkan semua makanan dalam
satu jam, tumpukan alang-alang dibuka. Semua makanan dikeluarkan lalu
dihamparkan di atas daun pisang. Oraborus mengeluarkan pisau dari tulang
kasuari, dengan cekatan ia memotong-motong daging babi lagi agar bisa segera
dibagikan setelah ini. Asap mengepul lebih banyak lagi dari tumpukan batu yang
dibuka. Menggiring roh-roh pencipta selera makan ramai-ramai berdatangan.
Insoraki dan para wanita lain mengambil buah merah yang
sudah matang. Diremas-remasnya buah merah itu sampai pastanya keluar, lalu
setelahnya saus kental itu dituang di atas daging babi dan sayur-sayuran.
Kemudian lelaki itu melihat wanita lain menaburkan garam di atasnya. Dan satu
lagi, ia melihat wanita itu menaburkan bubuk penyedap rasa sebagai sentuhan
terakhirnya. Di tanah yang tersembunyi dari bumi seperti ini, kau bisa
menemukan penyedap rasa. Di tanah yang bahkan sabun mandi saja tak ada!
Hamparan makanan itu disajikan di hadapan Pak Menteri,
sementara semua penduduk mengelilinginya di kanan kiri. Pak Menteri mendapat
penghormatan menerima jatah makanan sebelum Kepala Suku sendiri. Insoraki
mengambil hipere yang paling besar, seperti tahu porsi yang tepat dari besar
perut seseorang lalu menyerahkannya pada Pak Menteri.
Baru setelahnya, Insoraki memberikan hipere dan daging babi
pada yang lain. Pada semua yang siap mati kekenyangan. Pada lelaki itu juga.
Hanya saja tanpa daging babi. Insoraki sudah tahu, kebanyakan orang luar yang
datang kemari adalah muslim. Yang katanya tak makan daging babi. Entah kenapa.
Tak pusing-pusing lah ia mencari tahunya.
“Mari, duduk di sebelah sini …” Pak Menteri menepuk tempat
kosong di sebelahnya pada lelaki itu.
Yang diberi tawaran langsung duduk. Menaruh kameranya lalu
tanpa ba-bi-bu segera membelah hipere pemberian Insoraki. Uap panas yang
mengepul dari serat-serat lembut di dalam hipere langsung masuk dalam mulutnya
bersamaan dengan jejalan pertama yang dikunyahnya. Sejenak ia diam menghayati
lidahnya bekerja. Rasanya, itu ubi paling manis yang pernah ia rasa. Mantra
selera tiada duanya.
“Enak?” tanya Insoraki begitu melihat lelaki itu memakan
hipere hasil masakannya seperti manusia yang tak pernah melihat ubi sebelumnya.
“Ha?” Lelaki itu masih hanyut dalam hening cipta hipere
pertamanya.
Insoraki mengangkat ibu jarinya, “Enak ka?”
“Oooh, enak Mama ...” Lelaki itu ikut mengangkat ibu jarinya
begitu terbangun dari buaian hipere di lidahnya.
Tiba-tiba, ada yang tersedak. Terbatuk-batuk sebelum hipere
yang ada di mulut sempat ditelan, “Minum, minta air minum!” Tangan Pak Menteri
menggapai-gapai udara. Memanggil siapa saja yang bisa membawakan air untuknya.
Ajudannya dengan segera mengambilkan air mineral yang telah
dibawa sebelumnya.
“Ah, saya terlalu lahap sampai tersedak.” Pak Menteri
menutup botol air mineral. Separuh isi botol telah berpindah dalam perutnya.
“Saya sendiri juga baru tahu, Pak, ubi biasa kalau di masak
pakai bakar batu bisa enak begini.”
“Sungguh beragam budaya negeri kita ini, bukan? Di mana lagi
kita temukan budaya bakar batu yang unik seperti ini?”
Lelaki itu mengunyah potongan hipere terakhir, “Di
kham-phung ha-lha-manh sha-yha a-dha, Phak.” Mulutnya penuh, mengunyah
sekaligus menelan, “Ibu-ibu yang anaknya menangis, biasanya memasak batu dalam
kuali. Setahu saya sih bisa semalaman sampai tangis anaknya berhenti sendiri.”
Pak Menteri masih sibuk menghabiskan hipere-nya.
Lelaki itu melanjutkan, “Seingat saya, di sana malah hampir
setiap hari. Unik-unik ya, Pak, tradisi bangsa kita ini?”
Ia dan Pak Menteri tertawa bersama. Seolah sahabat lama yang
tak bersua. Insoraki memberikannya hipere lagi untuk dihabiskan. Sedang Pak
Menteri rupanya lebih menyukai barugum daripada makanan lain yang disediakan.
Sampai saat ia tertawa, warna merah barugum tertinggal di gigi putihnya.
Insoraki menatap labu dan barugum yang masih berasap di
tangan Pak Menteri, “Enak ka?”
Batu, April - Mei 2012
*Cerpen ini pernah diikutkan dalam Lomba Cerpen Apresiasi
Sastra 2012, dan penulis mendapat penghargaan berupa Penulis Cerita Pendek
Terfavorit Kategori B Apresiasi Sastra FIB Universitas Gajah Mada 2012
Catatan:
Cameo: Bintang tamu
Apando: Alat untuk menjapit batu panas, dibuat dari kayu.
Hipere: Ubi jalar
Tirubug: Daun singkong
Nahampun: Labu parang
Towabug: Jagung
Barugum: Buah merah
Enak ka?: Enakkah?/ Enak tidak?
[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
Ket: Gambar sekadar
ilustrasi yang diambil dari google.com

Forum FAM Malang ada di mana niech... :O
ReplyDelete