Bagi pekerja kreatif seperti penulis, Jakarta malam hari
justru menjadi waktu favorit untuk berkarya. Ketika hiruk-pikuk dan kemacetan
di Ibu Kota sudah relatif mereda, desakan urusan praktis sehari-hari berkurang,
dan sebagian orang terlelap dalam mimpi, mereka justru menemukan suasana yang
memancing kreativitas.
Setidaknya begitulah yang dilakoni Djenar Maesa Ayu (37),
penulis dan sutradara film, dan Rani Elsanti (37), editor buku lepas. Kedua
perempuan ini lebih menikmati menulis pada malam hari, terutama sambil
nongkrong di kafe langganan. Dari situ, karya-karya mereka lahir.
Djenar Maesa Ayu memanfaatkan waktu siang hari untuk
mengurus dua anaknya dan pekerjaan rumah tangga. Kebetulan, sejak beberapa
tahun belakangan, dia memang menjadi single parents alias orangtua tunggal.
”Pada malam hari, saya mendapat kesempatan lebih longgar untuk menulis,”
katanya.
Perempuan itu kerap pergi ke kafe sekitar pukul 18.00,
setelah orang-orang kantoran pulang kerja. Dulu, dia langganan nongkrong di
Banana Kafe di Dharmawangsa Square, Jakarta Selatan. Belakangan dia lebih
sering ke coffeewar, Kemang, Jakarta Selatan.
Kafe itu dianggap nyaman karena tempatnya enak, cukup ramai,
tetapi tetap asyik untuk menulis. Kalau mood lagi terjaga baik dan gagasan
keluar, dia bisa mengetik dengan laptop sampai lupa waktu. ”Jam 24.00 itu masih
sore sekali. Jam 02.00 juga belum. Kadang, saya pulang sekitar jam 4.00 pagi
atau malah sudah terang,” ceritanya, Sabtu (3/7/2010) sore.
Dari gaya kerja seperti ini, Djenar menghasilkan skenario
film "Mereka Bilang Saya Monyet" (yang digarap bersama Indra
Herlambang), kumpulan cerita pendek "Cerita Pendek Tentang Cerita Cinta
Pendek", serta naskah film Saia. ”Malam itu memang lebih merangsang
tumbuhnya ide-ide. Tapi, saya begadang hanya dua atau tiga kali seminggu saja,”
katanya.
Rani Elsanti juga hampir setiap pekan mampir ke coffeewar
untuk menyelesaikan pekerjaan. Dia biasanya datang pada hari Senin, Selasa,
atau Rabu ketika warung kopi itu menerapkan aturan hari tanpa rokok.
Pukul 10.00, Rani sudah datang ke warung itu. Dia langsung
duduk, mengeluarkan laptop, dan memesan kopi. Setelah itu, dia tenggelam dalam
pekerjaannya mengedit atau menerjemahkan buku. Saat jam makan siang, dia
membuka bekal yang dibawa dari rumah.
Setelah makan, dia kembali bekerja, kali ini ditemani teh
papermint. Di ujung kunjungannya, Rani biasa memesan cokelat panas.
Kebiasaannya itu sudah dihapal pemilik kedai Yogi D Sumule dan Derby Sumule.
Ketika malam tiba, suaminya, Agus Mediarta, bergabung nongkrong di warung itu
sepulang kantor sampai malam. ”Setelah itu, kami pulang bersama,” ujar Rani
yang menjadi editor buku sejak tahun 2000 itu.
Warung kopi seperti coffeewar, menurut Rani, adalah habitat
yang cocok untuknya. ”Di situ orang-orangnya toleran. Tidak saling ganggu meski
mereka tahu saya ini kalau sudah bekerja jadi autis. Selain itu, kalau ngobrol
kita bisa ngomong apa saja,” ujarnya. (IAM/BSW)
Sumber : Kompas Cetak
Editor: Heru
Margianto
[sumber link: http://nasional.kompas.com/read/2010/07/04/11061839/asyiknya.menulis.malam.hari]

Comments
Post a Comment