Sigli, 22 April 2012
Kepada Ydh. FAM Indonesia
di-
Tempat
Assalammualaikum Wr. Wb.
Dengan coretan ini, saya mencoba untuk berbagi cerita dengan
siapa saja yang mungkin sedang melewati masa-masa sulit untuk menjadi seorang
penulis.
Menulis ibarat membuat jalan raya yang menghubungkan
peradaban manusia, dan menulis juga merupakan sebuah lorong waktu yang bisa
membawa kita kembali ke masa lalu, ataupun mengantarkan kita ke terminal masa
depan. Saya pribadi menganggap bahwa dengan menulis, berarti kita telah
menyumbangkan sesuatu bagi dunia.
Menulis itu sendiri kadang ibarat lampu yang menyala di
siang hari. Dan... di siang hari, pastilah si lampu tak terlalu dihiraukan
manfaatnya karena jelas bahwa sinar matahari masih berkuasa. Namun tatkala
senja mulai naik tahta menuju ke alam gelap gempita, barulah si lampu yang
menyala tadi menjadi pahlawan yang paling berjasa. Adapun maksud saya adalah
kadang tulisan itu punya nasibnya sendiri, punya rohnya sendiri, meski ia tidak
hidup dan mendapatkan apa-apa pada zamannya atau pada masa ia dilahirkan, namun
percayalah bahwa ada tempat, ruang, dan waktu yang menunggu kehadirannya.
Seorang Chairil Anwar tak sempat melihat karya-karyanya
diapresiasi oleh banyak orang sesudah zamannya, karena ia mati muda, dan
mungkin ia juga tak pernah menyangka bahwa puisi-puisinya yang ia tulis dulu
begitu familiar di telinga semua orang Indonesia.
Dan... setelah sekian puluh tahun Tengku Hasan Tiro menulis
buku-bukunya, baru hari inilah karya-karya beliau yang dipuji-puji oleh banyak
orang di luar negeri itu, bisa sampai ke tangan orang Aceh. Sebelumnya
buku-buku sang deklarator Aceh Sumatera National Liberation Front (ASNLF) itu,
hanya bisa dikonsumsi oleh orang-orang tertentu saja.
Nah, dari uraian saya di atas, saya pribadi mencoba
berkali-kali menyakinkan diri saya bahwa apa yang sudah saya tulis akan
berjalan sendiri menemui nasib mereka masing-masing. Saya pun menyadari bahwa
menjadi seorang penulis pastilah akan melewati proses panjang yang penuh dengan
tantangan. Belajar teknik-teknik menulis beserta teori-teorinya, merupakan hal
yang lumayan sukar bagi saya, akan tetapi menemukan cara agar apa yang telah
saya tulis bisa dibaca oleh orang banyak adalah hal yang lebih sukar lagi.
Saat apa yang sudah susah payah saya tulis, dan saat semua
ide serta pemikiran dalam benak saya, saya tuangkan di helaian kertas, namun berkali-kali
pula tulisan saya tersebut berakhir di keranjang sampah karena mereka tak kuasa
melawan kata “penolakan” dari berbagai media cetak (koran). Dan berkali-kali
pula, saya meyakinkan diri untuk tak berhenti menulis, apalagi menyerah pada
kenyataan yang belum berpihak pada saya.
Semua akan indah pada waktunya. Kali ini, saya imajinasikan
tulisan-tulisan saya adalah sekumpulan orang yang sedang menempuh perjalan
menuju ke sebuah kota, namun di tengah perjalanan, mereka tersesat di hutan
yang lebat. Sekian lama mereka terlunta-lunta tanpa mengetahui jalan keluar,
hingga akhirnya, secara tidak sengaja, mereka mendapati sebuah jembatan kokoh
yang bisa menghubungkan mereka ke kota yang mereka tuju. Dan Forum Aktif
Menulis (FAM) Indonesia adalah jembatan bagi tulisan-tulisan saya.
Sekian saja kiranya yang bisa saya goreskan pada sehelai
surat ini. Salam santun dan salam karya.
Wassalammualaikum Wr. Wb.
Firdaus
IDFAM1085M, Pidie-Aceh

Comments
Post a Comment