Skip to main content

Jangan Asal Semangat

Oleh Aliya Nurlela*)

Mengapa kita harus semangat?

Semangat itu adalah sikap dari orang-orang yang optimis, yaitu orang yang selalu beranggapan baik. Optimis dalam Kamus Bahasa Indonesia artinya orang yang selalu berpengharapan (berpandangan) baik dalam menghadapi berbagai hal. Sedangkan optimisme adalah paham (keyakinan) atas segala sesuatu dari segi yang baik dan menyenangkan (sikap selalu mempunyai harapan di segala hal).

Optimisme itu lebih dari sekadar berpikir positif. Karena optimisme adalah kebiasaan berpikir positif. Artinya, sebuah akhlak (tingkah laku) yang muncul karena senantiasa memandang segala sesuatu dari segi positifnya. Semangat itu sudah pasti mewarnai orang-orang yang optimis. Bagi orang yang optimis, adanya semangat dalam bertindak adalah keharusan. Sebab, melalui semangat yang dimiliki itulah ia akan terus berusaha meraih apa yang diimpikannya.

Jika semangat itu tak ada, maka itu adalah sikap dari orang-orang yang pesimis. Orang pesimis selalu memandang sesuatu dari sisi negatifnya. Kebalikan dari orang yang optimis. Orang optimis melihat adanya peluang dalam kesulitan, lain halnya orang pesimis ia akan selalu melihat kesulitan di balik peluang. Kalaupun ada hal positif yang terjadi, maka ia akan menganggap itu bersifat sementara. Karena sesuatu dipandang sulit dan negatif itulah, akhirnya menimbulkan rasa malas untuk bertindak.

Pesimis dan malas memang itu ‘sahabatnya’. Bagaimana mau semangat, kalau di hadapannya yang terlihat adalah kesulitan-kesulitan? Sekali berusaha, lalu gagal maka rasa pesimisnya akan semakin memuncak. Rasa malas untuk mencoba lagi pun tak akan ada. Pada kondisi titik ‘kronis’ seperti ini, maka sebesar apapun motivasi yang berasal dari luar tidak akan mempan. Orang lain sifatnya hanya membantu, tidak bisa mengubah. Yang harus mengubah dan menyembuhkan adalah diri sendiri. Jadilah ‘dokter’ untuk diri sendiri dalam mengobati penyakit malas tersebut!

Itulah sebabnya, semangat hanya dimiliki oleh orang-orang yang optimis. Sebagai seorang muslim, bersikap optimis itu menjadi wajib. Karena optimis adalah bagian dari bersikap husnudzan pada takdir Allah. Seluruh isi Kalamullah tidak pernah mengajarkan untuk bersikap pesimis, justru menuntun untuk selalu bersikap husnudzan dan bersungguh-sungguh dalam beramal. Kita tidak akan diberi cobaan di luar kemampuan kita, oleh karena itu harus optimis bisa menyelesaikan masalah apapun yang kita hadapi. Bukankah, janji-Nya “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Al-Insyirah: 6)

Namun demikian, jangan asal semangat. Sebab, semangat itu bisa berlaku pada perbuatan apa saja. Seorang pencuri yang optimis usahanya berhasil, pasti disertai semangat. Pada saat orang lain terlelap tidur, ia semangat bangun. Pada saat orang lain lengah, ia semangat menangkap peluang. Ia tahu jika bersungguh-sungguh maka akan berhasil. Tak peduli dengan resiko yang akan ditanggungnya, karena yang terbayang di hadapannya adalah keberhasilan. Mendapatkan hasil jarahan dan lolos dari kejaran. Itulah yang mendorong ia semangat.

Jika si pencuri itu berpikir akan ‘babak belur’ sebelum ia melakukan operasi, maka tidak mungkin bergerak selincah itu, mengorbankan waktu, dana, bahkan nyawa sekalipun. Ia optimis akan berhasil.

Mengapa kita tidak boleh asal semangat? Semangat perlu disertai ilmu. Pada urusan apa sepantasnya menerapkan sikap semangat itu. Itulah sebabnya, mencari ilmu itu wajib hukumnya. Semangat tanpa ilmu, akan menjerumuskan seseorang. Bisa jadi ia akan menerapkan sikap semangatnya itu pada hal-hal keburukan, yang merugikan diri sendiri juga orang lain.

Sahabat FAM, mari kita bersama-sama terus belajar. Mengisi waktu di dunia dengan belajar ilmu-ilmu yang bermanfaat agar tidak salah kaprah menerapkan semangat dalam setiap tindakan kita. Salam semangat!

*) Penulis adalah Sekjen FAM Indonesia

Comments

  1. ass,,, admin boleh gak blog sy dpt back link dri blog ini

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...