Oleh Aliya Nurlela*)
Sehebat apapun motivasi dari luar,
jika tak ada niat dari dalam diri sendiri untuk berubah, tak akan mengubah
apapun. Orang lain hanya sebatas memberi saran, masukkan, dukungan termasuk
kritikan. Akan tetapi semua akan kembali kepada kita. Seperti apa kita
menyikapinya. Akankah disikapi secara bijak, lalu direnungkan dan dipraktikkan.
Ataukah sebaliknya. Semua kembali pada diri kita. Sebab, keputusan terakhir ada
di tangan kita.
Ada sebuah kisah terkenal, tentang
seorang bapak dan anak yang menuntun keledai. Sang bapak ingin menunjukkan
kepada si anak tentang bagaimana caranya menyikapi komentar orang lain.
Berangkatlah mereka berdua, berjalan kaki dengan menuntun keledai. Saat
melewati sekelompok orang, mereka berkomentar, “Aneh sekali, bawa keledai
bukannya dinaiki. Koq malah dituntun berdua.”
Akhirnya, bapak tersebut menyuruh
anaknya naik ke atas keledai dan bapaknya yang menuntun. Naiklah si anak. Saat
melewati sekelompok orang lagi, mereka berkomentar, “Anak tidak tahu diri,
orangtua disuruh menuntun keledai yang ia naiki. Harusnya bapaknya yang naik
keledai.”
Lalu bapak tersebut menyuruh
anaknya turun dan naiklah ia ke atas punggung keledai. Kali ini si anaklah yang
menuntun. Lewatlah mereka di hadapan sekelompok orang. Mereka berkomentar juga,
“Orangtua tak tahu malu, anak sendiri disuruh jalan kaki dan menuntun keledai.
Harusnya mereka naik keledai berdua.”
Bapak tersebut mengikuti ucapan
orang-orang yang berkomentar. Disuruhlah si anak naik keledai di belakangnya,
lalu melanjutkan perjalanan lagi. Ketika melewati sekelompok orang, mereka
berkomentar lagi. “Ya ampun, keledai kecil dinaiki dua orang. Itu namanya
penyiksaan terhadap binatang.” Demikianlah.
Dari kisah di atas, kita tahu
bahwa yang namanya komentar atau pendapat terhadap apa yang kita kerjakan, akan
selalu ada. Baik maupun buruk perbuatan kita selalu ada yang menilai, dan
berpendapat dari sudut pandang masing-masing. Demikian pula, saat kita tak
bersemangat, selalu ada orang-orang yang memberikan motivasi atau sumbangan
saran. Komentar, pendapat, motivasi dari luar selalu ada mewarnai dalam
perjalanan hidup kita. Kita akan mengambil pendapat-pendapat tersebut, atau
mengabaikannya, itu terserah kita. Kitalah pemutus perkara atas masalah yang
kita hadapi. Kitalah penentu keputusan akhir atas semua pendapat tersebut. Akan
dibawa kemana hidup kita dan seperti apa, semua terserah pada diri sendiri.
Sekali lagi keputusan akhir ada di tangan kita.
Jika bapak dan anak dalam kisah tersebut
mengikuti setiap pendapat orang tanpa pernah menyaring setiap pendapat yang
masuk, lalu menentukan sesuai keyakinan yang dipegangnya, maka selamanya akan
berada dalam kebingungan. Semua pendapat seolah benar, tapi ketika dipraktikkan
ternyata masih belum sesuai juga. Nah, lho? Harus memiliki ukuran baik buruk,
lalu menyaring pendapat dan niat kuat melakukan. Jika sebelumnya salah, ada
niat kuat mengubahnya untuk menjadi lebih baik.
Saya pun pernah menyengaja
‘menampung’ pendapat, untuk mengetahui sejauh mana pendapat orang lain terhadap
niat yang akan saya lakukan.
Akhir-akhir ini, saya merasa tubuh
semakin ‘berbobot.’ Ada gejala ‘membalon’, he-he-he. Rasanya tidak nyaman.
Terutama saat mencari pakaian yang sesuai ukuran. Selalu tidak ada yang sesuai.
Ujung-ujungnya harus menjahitnya ke tukang jahit. Padahal, hasilnya belum tentu
memuaskan. Nah, apa yang harus saya lakukan? Apakah membiarkan tubuh semakin
‘lebar,’ atau diet?
Baiklah, saya coba meminta
pendapat dari orang-orang terdekat. Hitung-hitung survei sederhana. Pertama
kali yang dimintai pendapat adalah seorang teman perempuan yang berbadan kurus.
“Bagaimana pendapat Anda, jika saya diet?” tanya saya serius. Jawabnya, “Wah,
tidak usah diet Mbak. Gemuk itu kelihatan segar dan berisi. Saya malah ingin
gemuk.” Oh ya? Itu pendapat dari orang kurus (ssst… bukan langsing. Kurus dan
langsing berbeda).
Baiklah, pendapat berikutnya. Ada
yang menyarankan naik turun tangga belasan kali dalam sehari, angkat beban,
lari pagi, kurangi makan, jangan makan gorengan, jangan minum yang manis-manis,
termasuk jangan makan nasi di malam hari. Tak kurang-kurang ada yang
menyodorkan resep minum jus sayur tanpa makan nasi selama seminggu. Pendapat
mayoritas adalah, “Sudahlah, jangan diet. Gemuk itu pertanda sehat dan
bahagia.” Hmm… benarkah? Bukankah gemuk itu artinya tidak ideal? Sesuatu yang
tidak ideal, bukankah itu pertanda tidak sehat? He-he-he. Bertanya sendiri dan
dijawab sendiri.
Nah, bagaimana pendapat suami?
“Lebih baik tidak usah diet atau mengecilkan badan dengan cara apapun. Nanti kalau
mudik ke rumah mertua, dianggap suaminya tidak merawat. Kok anaknya kurus…” Hi-hi-hi…
ini versi menantu takut mertua.
Sudah terkumpul banyak pendapat.
Ternyata beragam sekali. Jika semua pendapat itu diserap begitu saja tanpa
disaring, lalu dipraktikkan satu persatu, maka tubuh kitalah yang menjadi
percobaan. Kita pula yang merasakan akibatnya, apalagi jika menyerap cara diet
para seleberitis yang terkesan ekstrem. Ada yang menempuhnya dengan cara sedot
lemak, abdominoplasty, akupunktur dan
lain-lain.
Demikian pula, saat harus
mengambil pendapat tidak perlu diet. Pendapat tersebut tidak sepenuhnya juga
benar. Wah, jika dibiarkan tanpa upaya apapun tubuh saya bisa semakin
mengembang, he-he-he. Dengan mencoba diet dan menerapkan salah satu pendapat orang
lain saja, belum ada perubahan yang berarti. Saya ambil pendapat minum jus
sayur herbal instan selama seminggu. Harus menahan lapar setiap hari dan mual
saat meminumnya. Lalu hasilnya? Anggap saja, berat badan sebelum diet 70
kilogram. Nah setelah minum jus sayur, turun setengah kilogram. Jadi berat
sekarang adalah 69,5 kilogram. Hanya setengah kilogram? Hmm… kalau dibulatkan,
tetap saja 70 kilogram. Bukan begitu? Hi-hi-hi…. Itu artinya, belum ada
perubahan berarti.
Di sinilah tugas kita menyaring
dan menimbang, lalu mengukur baik-buruknya sesuai keyakinan yang kita pegang.
Setelah itu pilih mana yang terbaik dan berniatlah yang kuat untuk melakukan.
Saya dengarkan pendapat ahli gizi
yang menerapkan diet dengan memutar dua kalori yaitu karbohidrat dan protein
yang harus dikontrol asupannya. Caranya dengan menerapkan makan empat kali
sehari, dengan menu yang telah diatur. Melaparkan diri, sangat tidak dianjurkan
dalam diet ini. Menurutnya, karbohidrat sangat dibutuhkan tubuh. Jika
kekurangan karbohidrat maka tubuh akan lemas dan pusing.
Baiklah, saya ambil satu pendapat
yaitu pendapat ahli gizi. Lalu berniat dipraktikkan. Mulailah praktik mengikuti
tahapannya dan sebelas hari kemudian, 7 kilogram telah ‘melayang.’ Itu artinya
ada perubahan meskipun lambat.
Nah, sahabat FAM, yang saya maksud
dalam tulisan ini bukan berarti diterapkan dalam hal menurunkan berat badan saja,
akan tetapi berlaku dalam segala hal. Bahwa sehebat apapun motivasi dari luar,
jika diri kita tidak ada niat untuk berubah, maka tidak akan pernah berubah.
Keputusan akhir ada di tangan kita!
*) Penulis adalah Pengurus Forum
Aktif Menulis (FAM) Indonesia

Comments
Post a Comment