Dulu, buku adalah barang langka yang hanya bisa dinikmati
oleh segelintir orang. Kemudian, saat Gutenberg berhasil menciptakan mesin
cetak, buku segera menjadi barang yang diproduksi secara massal dan kini siapa
saja dapat dengan mudah mendapatkannya.
Zaman pun terus melaju, buku dengan media kertas sudah
beralih ke media lain. Dari media kertas ke nonkertas (paperless). Pemicunya
beragam, dari isu kepedulian terhadap lingkungan hingga perkembangan teknologi
yang sangat pesat. Sehingga saat ini kita pun mulai akrab dengan ebook atau buku yang berformat digital.
Sayangnya, di Indonesia buku digital belum menemukan
momentumnya. Masyarakat masih menggandrungi buku cetak biasa. Akan tetapi,
Pangestu Ningsih, CEO Mizan Digital Publishing, optimis bahwa momentum buku
digital akan segera tiba, bahkan perlahan-lahan sedang berlangsung seiring
dengan kecenderungan masyarakat yang gandrung dengan gadget.
Perempuan kelahiran 27 Juli yang tulisannya sudah dimuat
berbagai media lokal dan nasional ini bercerita tentang prospek buku dijital
dan pentingnya penulis mengetahuinya.
Apa kelebihan dan kekurangan buku digital dibandingkan
dengan buku cetak biasa?
Yang pasti, buku digital lebih hemat ruang. Bayangkan bahwa
dalam satu tablet, Anda dapat menyimpan ribuan bahkan ratusan ribu buku. Buku
digital juga lebih prolingkungan karena tidak memerlukan kertas, yang berarti
tak perlu menebang pohon. Buku digital juga lebih efisien karena tidak dicetak,
sehingga harga buku lebih murah. Kekurangannya—kalau bisa disebut
kekurangan—saat ini orang-orang masih menggandrungi buku konvensional.
Masyarakat kita masih menyukai “romantika buku kertas” yang bisa terlihat saat
ditenteng, dipegang bentuk fisiknya, atau dibaui aroma kertasnya. Tetapi siapa
tahu, dengan kemajuan teknologi, di masa depan kita bisa menciptakan piranti
lunak yang bisa menguarkan bau kertas dari buku digital.
Secara singkat, bagaimana proses produksi buku digital ini?
Sebagian hampir sama mekanismenya dengan buku cetak biasa
seperti proses pengiriman dan penerimaan naskah, proses edit, disain dan tata
letak. Hanya saja, di akhir proses alih-alih pencetakan buku, kita melakukan
konversi file naskah ke dalam format ebook
yang kita kehendaki, misalnya format pdf atau epub. Untuk penjualan, buku digital
ditawarkan melalui aplikasi-aplikasi ebook
yang ada di appstore (iOS) maupun di google play (android), seperti Wayang
Force, Scoop, dan lain-lain.
Menurut Anda, apakah penulis-penulis di Indonesia, khususnya
penulis muda, sudah melek dengan fenomena ini?
Secara umum, para penulis sudah menyadari perkembangan ini,
meski ada beberapa yang masih ragu karena alasan keamanan dan juga minat,
pengetahuan, serta daya terima masyarakat yang masih rendah terhadap buku
digital. Kalau untuk prosentase royalti sama saja dengan buku cetak biasa.
Namun pada saatnya nanti ada potensi volume penjualan buku digital jauh lebih
besar sehingga secara absolut, nilai nominal yang diterima penulis pun akan
lebih besar.
Sejak kapan Mizan menerjuni buku digital? Bukankah di
Indonesia buku digital belum menemukan momentumnya?
Mizan mulai membuat ebook
pertama kali pada 2001 dengan buku berjudul “Wasiat Sufi” yang kemudian dibagi
secara gratis lewat situs www.mizan.com. Tentu ini masih dengan metode
sederhana, buku diunduh melalui PC. Peminat ternyata cukup besar waktu itu,
sampai server mizan crash. Saat ini,
apalagi waktu itu, ebook memang belum
booming, namun Mizan selalu berusaha
mengeksplor hal-hal baru, termasuk dalam teknologi buku digital ini. Saya rasa
momentum itu tidak akan lama lagi. Dulu, saat merilis ebook “Wasiat Sufi”, kami masih bicara “10 tahun lagi momentumnya”.
Lalu sekitar dua tahun lalu saat dibentuk unit Mizan Digital Publishing, kami sebut
“lima tahun lagi”. Tetapi sekarang, mungkin masa itu sudah datang. Kalaupun
harus memberi waktu, rasanya tidak akan lebih dari satu tahun. Kita tahu, makin
ke sini kita menemukan makin banyak generasi yang digital native (melek gadget
sejak lahir). Remaja sekarang sangat banyak yang menikmati buku atau komik yang
mereka unduh dari internet. Komik misalnya, jumlah yang diunduh dari internet
bisa ratusan bahkan ribuan judul, dengan setiap judulnya terdiri atas puluhan
episode.
Bagaimana Mizan mengedukasi masyarakat tentang buku digital
ini?
Edukasi dilakukan antara lain melalui iklan, pameran, media
sosial, juga pembagian ebook gratis
di situs mizan.com. Di Mizan sudah banyak karya yang terbit dalam bentuk
digital, seperti Arvan Pradiansyah, Hernowo, Haidar Bagir, dan hampir semua
penulis lokal yang karyanya terbit di Mizan. Termasuk juga karya-karya penulis
cilik Kecil-kecil Punya Karya.
Apa yang harus dipersiapkan para penulis dengan fenomena
ini?
Penulis tentu dapat memandang fenomena buku digital sebagai
tambahan media penyampaian ide-ide mereka. Teruslah berkarya. Kalaupun ada
perubahan, barangkali kita harus pikirkan karakter media digital yang
semestinya lebih dinamis, sehingga buku digital pun dapat kita kembangkan
dengan fitur-fitur tambahan (audio/video), interaktif, dan lain-lain.
(Pikiran Rakyat, 2012)
[sumber: http://ranting-basah.blogspot.com/2012/09/digital-book-masa-itu-sudah-datang.html]

Comments
Post a Comment