Skip to main content

Lomba Menulis Surat: "Senang Sekali Ketika Tulisan Pertama Terbit di Koran”

Kepada Ydh:
FAM Indonesia
Sahabat saya yang baik.

Salam santun untuk FAM dan seluruh keluarga FAM di Indonesia.

FAM yang baik, saya telah mengenalmu sejak beberapa bulan yang lalu. Saya sering menjelajahi rumah mayamu dan mengintip informasi serta agenda-agendamu. Dari sanalah saya jatuh cinta padamu. Saya merasa FAM adalah wadah yang sangat saya butuhkan untuk mendukung hobi menulis saya. FAM memberikan saya banyak motivasi melalui postingan-postingan di grup facebook dan blog, serta memberikan inspirasi melalui pengalaman dan profil para penulis berbakat yang tergabung di FAM.

Alhamdulillah, sejak 18 Oktober 2012 lalu saya resmi menjadi anggota FAM Indonesia. Saya senang sekali menjadi bagian dari keluarga besar FAM yang selalu menularkan semangat menulis kepada saya.

FAM yang baik, melalui surat ini izinkanlah saya berbagi cerita tentang pengalaman saya sebagai seorang penulis pemula. Saya menyukai tulis-menulis sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Ketika itu saya senang menulis diary dan beberapa cerita-cerita anak yang entah di mana sekarang letaknya. Saya masih ingat, saat saya berusia sepuluh tahun, saya berangan-angan menjadi seorang penulis yang hebat dalam waktu sepuluh tahun lagi. Artinya saat saya berusia 20 tahun. Namun, kini di usia saya yang telah 22 tahun, nyatanya saya belum menjadi apa-apa. Saya sadar hal itu disebabkan karena selama ini saya kurang serius dalam berusaha untuk menggapai impian itu.

Ketika saya duduk di bangku SMP dan SMA, saya masih suka menulis cerpen. Saya menulis semua cerpen itu pada buku tulis dengan tulisan tangan saya sendiri.Cerpen-cerpen itu saya perlihatkan kepada teman-teman saya. Mereka memberikan tanggapan positif dan mengatakan bahwa saya berbakat menulis. Tentu saja hal tersebut membuat semangat saya semakin terpacu. Cerpen-cerpen saya ketika itu hanyalah cerpen sederhana untuk konsumsi pribadi dan teman-teman sekolah. Saya belum berani dan tidak percaya diri untuk mengirimkannya ke media. Walaupun begitu, saya tetap semangat menulis.

FAM yang baik, setelah menempuh pendidikan di jenjang perguruan tinggi, saya sempat vakum dalam dunia kepenulisan. Bahkan saya telah melupakan mimpi saya saat berusia 10 tahun dulu. Di tahun ketiga perkuliahan, perlahan-lahan semangat itu kembali tumbuh setelah saya bergabung dengan sebuah organisasi kepenulisan. Ketika itu saya mencamkan dalam diri saya bahwa saya serius ingin menjadi seorang penulis.

FAM yang baik, sebagai seorang penulis pemula, begitu banyak lika-liku yang harus saya hadapi. Saya mulai memberanikan diri untuk mengirimkan tulisan saya ke media massa. Untuk tahap awal, saya mengirimnya ke koran lokal yang ada di Sumatera Barat. Hasilnya? Tulisan saya ditolak, ditolak lagi, lagi dan lagi. Saya sempat putus asa, namun saya berkata dalam hati, “Saya hanya akan berhenti mengirim setelah tulisan saya dimuat!”

Berpuluh-puluh sudah tulisan yang saya kirim. Saya tidak ingin menyerah. Hingga suatu hari nama saya muncul di koran tersebut pada edisi minggu dalam bentuk opini singkat. Saya senang sekali. Kebahagiaan itu sulit dilukiskan dengan kata-kata. Ternyata beginilah rasanya saat melihat pertama kali tulisan kita muncul di media. Meskipun tulisan saya saat itu jauh dari kata bagus, saya tetap senang dan bertekad untuk terus berproses meningkatkan kualitas tulisan-tulisan saya. Setelah tulisan saya dimuat untuk pertama kalinya, saya menjadi semakin semangat dan termotivasi. Saya bertekad dalam hati, “Saya tidak akan berhenti menulis selagi saya masih bernapas”. Saya terus mengasah kemampuan menulis saya. Saya ingin tulisan saya suatu saat nanti muncul di media-media nasional dan dibaca oleh seluruh orang di Indonesia, bahkan saya juga bermimpi suatu hari nanti tulisan saya dibaca oleh banyak orang di seluruh dunia.

FAM yang baik, saya yakin, mimpi yang diiringi dengan usaha dan doa akan membuahkan hasil. Saya bermimpi menjadi seorang penulis hebat yang tulisan-tulisan saya bermanfaat untuk sesama. Saya yakin, Allah akan memeluk mimpi-mimpi saya. Saya percaya, ketika saya melakukannya dengan niat ikhlas, Allah akan memudahkan jalan saya. Saya tak akan berhenti berdoa dan berusaha sebab Allah Maha mengabulkan doa-doa hambaNya.

FAM yang baik, saya ingin sekali menjadi penulis yang bisa memberikan manfaat bahkan bisa membawa perubahan. Lebih dari itu, saya ingin Allah melimpahkan pahala kepada saya sekiranya orang-orang termotivasi berbuat kebaikan setelah membaca tulisan saya. Hal tersebut ingin saya jadikan tabungan amal dan sadaqah jariyah kelak.

FAM yang baik, saya menyadari bahwa tulisan dapat membawa perubahan. Tinta orang beriman lebih tajam dari pedang, begitulah istilah yang pernah saya dengar. Maka disaat mulut saya tak mampu berucap banyak, saya ingin goresan aksara menjadi penyambung lisan saya dalam menyampaikan kebaikan untuk banyak orang. FAM yang baik, Napoleon Bonaparte mengatakan bahwa dirinya lebih merasa takut terhadap satu orang penulis daripada seribu orang tentara, juga Heinrich Boll, seorang penulis asal Jerman yang pernah meraih Hadiah Nobel Sastra pada 1972 juga berkomentar, “Di belakang tiap kata berdiri suatu dunia, tiap orang yang menggunakan kata harus menyadari bahwa ia mengguncang dunia”. Nadine Gordimer, sastrawan asal Afrika Selatan juga punya pendapat, “Pada mulanya adalah kata, tetapi kemudian menjadi senjata”. K.H. M. Isa Anshary, seorang tokoh pergerakan Islam di Indonesia menuliskan: “Revolusi-revolusi besar di dunia selalu didahului oleh jejak pena dari seorang pengarang. Pena pengarang mencetuskan suatu ide dan cita, menjadi bahan pemikiran pedoman berjuang.” Sungguh begitu besar efek dari sebuah tulisan. Karena itulah saya juga ingin memberi konstribusi untuk dunia melalui tulisan-tulisan saya. Amin!

FAM yang baik, disaat semangat saya turun, saya teringat perjuangan orang-orang besar yang menulis dengan tetesan keringat dan darah. Perjuangan saya belum apa-apa dibandingkan mereka. JK Rowling saat menulis serial Harry Potter yang meraih predikat Mega Best Seller di seluruh dunia itu, ia tulis saat masa depresi karena tidak punya pekerjaan. Aidh al-Qarni menulis "La Tahzan" saat di jeruji besi. Buya Hamka menulis "Tafsir al-Azhar" saat di bui. Bung Karno menulis "Indonesia Menggugat" saat mendekam di penjara Banceuy. Sayyid Quthub menulis "Fi Zhilal lil Quran" saat di penjara. Sementara saya? Saya orang bebas, namun masih belum mampu menulis satu judul buku pun. Saya merasa tersentil oleh mereka, karena itu saya akan terus maju untuk menjadi seorang penulis.

FAM yang baik, bersama FAM saya merasa semangat saya dalam menulis semakin bertambah. Saya berharap FAM dapat menjadi sahabat saya untuk mewujudkan impian saya. Mari bersama-sama kita tebarkan kebaikan melalui untaian aksara. Terima kasih untuk FAM yang telah menyediakan dindingnya untuk saya coreti dengan curahan hati saya.

Sampai di sini dulu surat dari saya, terima kasih juga untuk keluarga besar FAM yang telah meluangkan waktu untuk membacanya.

Wassalamualaikum Wr.Wb.

Salam santun,
Ridha Sriwahyuni (Ayu)
FAM 1091 Agam, Sumatera Barat

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...