Lomba Menulis Surat: “Menulis Berlembar-lembar Puisi karena Jatuh Cinta pada Seorang Gadis Pandai Mengaji”
Surabaya, 23 Oktober 2012
Assalamualaikum Wr. Wb.
Surat ini kutulis spesial untuk sahabatku - FAM
Penebar benih cinta menulis
Di hati, aliran darah, hela napas, dan alam imajinasiku
Entah apa yang akan kutulis untuk mengisi suratku yang
sederhana ini. Seingatku beberapa bulan yang lalu aku pernah menulis dua buah
surat untukmu. Isi dari surat itu sendiri adalah tentang kekagumanku padamu,
juga segenggam doa yang kutanam dalam hati untuk berjalan bersamamu, mendaki satu
persatu undakan batu menuju puncak Everest—mengibarkan kebaikan, mimpi-mimpi,
dan semangat di sana. Tapi kali ini berbeda. Aku akan membagi sedikit
pengalamanku padamu tentang mimpi dan doa yang telah lama kusimpan.
FAM, masihkah kau ingat waktu di mana saat bulan bersinar
penuh menemani malamku yang berlalu tanpa satu pun sumber cahaya? Malam itu kau
datang bersama bidadarimu secara tiba-tiba dan tak terduga. Benar apa kata
orang tentang cinta. Cinta itu tak lain adalah sebuah rasa yang timbul saat hati
terlanjur basah, tersiram pesona yang terpancar dari dalam diri makhluk yang
kita cintai. Cinta tak lain adalah sebuah rasa yang secara spontan menghentak,
mengusik diri saat sedang nikmatnya memeluk bunga tidur, lalu mengangkat tubuh
terbang melintasi gumpalan kapas yang tak lagi terasa mendungnya. Cinta tak
lain adalah sebuah rasa yang timbul dari hati yang ikhlas tanpa ada niat jahat
tersembunyi—rasa yang sulit diungkapkan tentang kekaguman, kerinduan, dan
kesetiaan untuk saling bergandeng tangan. Memang kadang cinta bersifat misteri,
kadang membingungkan. Tapi itulah cinta. Kita takkan pernah mengerti makna
cinta sebelum merasakan kehadirannya.
Segala yang kualami dalam hidup hingga detik ini, tak pernah
sedetik pun terlewat tanpa cinta. FAM sahabatku, kau tahu, cinta yang selama
ini terpatri dalam hatiku adalah bersumber dari empat mata angin?
Yang pertama tentu adalah dari Ibu. Begitu banyak kenangan
indah yang membentuk cinta antara kami berdua—sejak awal bola mata melihat
dunia, sejak awal dunia mengajarkanku cara bernafas, juga sejak rasa sakit
belumlah datang mengisi laci memori dalam benakku. Jika cinta diibaratkan
benda, maka cinta Ibu adalah sayap: menghangatkan, membelai, dan membawaku
terbang sekuat hati menembus segala ketidakmungkinan.
Yang kedua, adalah cinta dari Ayah. Berbicara tentang
beliau, rasanya jemariku tak sanggup mengukir jalinan kata yang membentuk
sebuah kalimat sarat makna. Rasanya lidah membeku saat seseorang menanyakan,
"Apa yang dia beri untukmu?". Rasanya seluruh persendian tak sanggup
kugerakkan demi mengungkapkan segala rasa tentang beliau. Bukan karena sedikit
rasa cinta yang Ayah beri padaku, melainkan terlalu banyak---hingga sifat
kerasnya sendiri kadang tak sanggup menutupi ketulusan hati yang tak tampak di
mata, namun dapat kujamah kelembutannya di hati.
Yang ketiga, adalah dari serpihan kisah hidupku. Perjalanan
panjangku selama dua puluh satu musim menjejakkan kaki di atas bumi, membawaku
melesat ke berbagai kisah dan peristiwa. Tak banyak memang dan tidaklah terlalu
istimewa untuk diceritakan, karena aku masih terlalu muda untuk disebut seorang
Columbus. Tapi dari sanalah kutemukan cinta—dari mereka yang menyayangi,
melihat, mendengar, menolong, memfitnah, mencemooh, menyakiti, serta meracuni
hidupku dengan cara mereka masing-masing. (Ah, lagi-lagi kalimat itu!)
Yang keempat, tak kalah istimewa dari yang lain. Cinta dalam
diriku juga berasal dari satu kata, yakni 'menulis'. Dan itu berawal dari
sebuah buku. Sejak sebelum menginjak bangku taman kanak-kanak, Ibu telah
mengajariku cara bermain dengan buku. Aku merengek, saat melihat Kakaku belajar
seorang diri dengan sebuah buku. Rasa keingintahuanku yang besar akan buku,
akhirnya membuat Ibu menyerah. Aku diajari Ibu membaca dan rela meninggalkan
buku gambarku demi memahami berjuta arti yang tersimpan di balik dua puluh enam
simbol baru itu.
Dari hal ini, aku bersyukur. Karena sedikit banyak, sifat
keras kepala yang kumiliki sejak kecil, menjadikanku seorang pecinta buku meski
masih 'hijau'. Buku cerita bergambar kulahap habis. Terus berlanjut hingga aku masuk
sekolah dasar. Pelajaran membaca amat kugemari. Bahkan saat SMP aku rela
menabung selama dua atau tiga minggu--tak memakai uang jajanku—demi membeli
sebuah buku berjudul "Berapakah Berat Bumi?" Kau tahu buku yang
kumaksud? Buku itu berisi pertanyaan seputar dunia sains. Rasa ingin tahuku
memang tak terbendung. Kupikir buku itu sanggup memuasakan rasa penasaranku
yang menggebu akan sebab-akibat yang ada di alam.
Tapi, jangan kau salah duga. Hobi membaca sejak lama itu
belumlah cukup untuk menjadikanku seorang yang pandai merangkai huruf menjadi
sebuah kalimat yang bermakna. Aku memang kutu buku—jika boleh disebut demikian
(aku tidaklah begitu pandai)—tapi aku bukanlah seorang penulis cerita yang
baik, apalagi puisi. Barulah sejak aku menyukai seorang gadis yang pandai
mengaji—teman sekelas semasa SMA—kemampuan menulisku datang secara tiba-tiba.
Aku mulai menulis berlembar puisi untuknya. Entah berapa banyak puisi yang
kuhasilkan. Itu berawal sekitar akhir tahun 2007, saat aku masih duduk di kelas
sebelas. Perlahan namun pasti, hal ini memberi perubahan besar pada diriku dan
caraku memandang alam sebagai 'guru'. Sejak itu, menulis menjadi salah satu
sumber cintaku.
Seiring berjalannya waktu, sebuah tangan tak tampak—the invisible
hand—membimbingku hingga terdampar di sebuah kota yang jauh dari kampung
halaman. Di sana aku bekerja, berjuang untuk meraih mimpi-mimpi. Entah karena
terlalu banyak masalah yang mendera, suatu malam aku melamun lantaran tak bisa
tidur. Kudengar bisikan hati agar aku segera melakukan sesuatu. Selama ini
sudah banyak puisi yang kuhasilkan hanya dari inspirasi seorang gadis saja,
tapi tak pernah sekali pun kucoba mengirimkan tulisanku ke media. Maka kubuka
kembali ingatanku beberapa tahun sebelumnya, tentang mimpiku untuk menerbitkan
sebuah buku.
Tahukah kau, Kawan, apa yang terjadi? Aku merasa hidup...
Benar-benar hidup!
Berbekal kartu memori handphone, aku pergi ke warnet yang
berjarak sekitar setengah kilometer dari rumah kostku—dengan berjalan kaki. Itu
kulakukan karena aku tak punya laptop maupun flashdisk. Kusimpan
tulisan-tulisanku di sana.
Mungkin kau berpikir bahwa sebelum kusalin tulisan itu ke
dalam komputer, kutulis terlebih dahulu di atas selembar kertas. Bukan, bukan
itu yang kulakukan. Aku menulis apa yang saat itu kurasakan—kebanyakan puisi—dengan
menggunakan handphone butut yang kubawa dari kampung. Pekerjaanku tak
memungkinkan untuk membawa sebuah buku catatan yang dapat menampung ide yang
datang berterbangan sewaktu-waktu dan pergi seenak hati saat kita terlambat
untuk segera menangkapnya. Tak perlu kusebutkan lagi pekerjaanku itu, karena
kurasa kau telah lama mengenalku. Biarlah hanya kita, rumput yang bergoyang,
dan Tuhan saja yang tahu. (Hehe)
FAM sahabatku, kita pun tahu, mimpi memang tak pernah mudah
untuk diraih. Berbagai macam cobaan kembali menguji seberapa jauh daya tahanku,
seberapa kuat tubuhku atas terjangan badai. Namun keinginan untuk menerbitkan
buku tak pernah lenyap sedetik pun dari pikiranku. Uang tabungan untuk membeli
laptop yang selama ini kuimpikan pun, masih harus kupakai untuk keperluan lain.
Sayangnya, cinta yang tumbuh dari satu kata itu--'menulis'--terlanjur melekat
di hati dan jiwa. Dihasut pun, atau dipanas-panasi agar cinta itu meninggalkan
diriku jauh, tetap tak bisa. Aku terus menulis apa pun yang terjadi. Cinta ini
takkan goyah!
Hingga tibalah saat di mana Nenekku jatuh sakit. Aku harus
sering-sering menengok beliau. Sementara kucoba mengakrabkan diri dengan
suasana warnet baru di dekat kampung halaman. Tapi, FAM, jangan terkecoh dengan
kata 'baru' yang baru saja kusebutkan. Karena warnet ini sama sekali jauh
dengan hal-hal yang berbau baru. Warnet itu berdiri sejak aku masih duduk di
bangku SMP kelas satu, sekitar tahun 2003, dan kurang mendapat perhatian dari
pemiliknya. Maka dapat kau bayangkan setebal apa debu yang tumbuh di atas
layar-layar persegi di sana.
Jelas, warnet itu bukan tempat yang nyaman untuk melakukan
'pekerjaan' ini. Selain pengap dan gelap, tempat berdebu itu tak pernah sepi
dari anak-anak SD yang bermain game online. Jadilah aku mengetik di bawah
tekanan yang tak sanggup kugambarkan. Suara bising dari bocah-bocah nakal itu,
juga yang berasal dari pemutar musik sang penjaga warnet—membuat kepalaku
hampir pecah. Tak jarang bulir-bulir keringat sebesar biji jagung berjatuhan
memenuhi wajah dan leherku. Panas, kotor, berisik, gelap—itulah yang kurasakan.
Tempat itu benar-benar 'menguji' mental, menguras keringat, dan airmata. Jarak
warnet itu sendiri dari rumah Nenek sekitar tiga kilometer. Untuk ke sana, aku
harus mengayuh sepeda gunung di tengah godaan panas matahari yang
menghanguskan. Tapi dengan semangat yang tak kalah kobarannya ketimbang bola
api di atap langit, kukayuh sepedaku dengan senang hati hanya untuk mengirim
satu-dua naskah untuk lomba kepenulisan—demi mengejar mimpi sekaligus
pengorbanan rasa cintaku pada menulis.
Kini, hampir tiap malam lamunan membawaku ke dalam doa,
membuatku teringat akan apa yang telah kulakukan selama beberapa bulan di
warnet. Memang tak banyak tulisan yang kuhasilkan di sana. Tapi aku merasa
terharu. Entah apa yang membuatku merasa demikian. Sekali lagi, cinta adalah
misteri yang indah tak terperi.
Laptop itu pun rela kujemput demi menemani setiap waktu yang
kujalani bersama semangat akan mimpi—ketika ide yang tak jarang membanjir di
kepala dan tak sanggup kuhentikan.
Tahukah FAM? Aku merasa bahagia meski masih sangatlah jauh
bagiku untuk menjadi seorang penulis besar. Namun aku bahagia akan semangat
yang mereka—orang-orang berarti dalam hidupku—suntikkan dalam hati dan
pikiranku. Aku bahagia akan apa yang telah Tuhan beri untukku. Aku bersyukur
atas semua ini.
FAM, sahabatku...
Jika saja cinta tak merasuki sejak hari aku mengenal becak
dan rasa sakit suntikan polio saat pertama kuingat menjalani hidup di dunia ini
bersama Ibu...
Jika saja cinta tak menyergapku sejak pertama kurasakan
sengatan lebah membengkakkan jari telunjukku lalu Ayah hadir di sana untuk
menyembuhkanku dengan ilmu alamnya...
Jika saja mozaik hidupku menyebar hanya ke satu arah tanpa
menemui seorang pun manusia yang rela meluangkan, meski sedetik saja, kebaikan
atau keburukannya padaku...
Jika saja buku dan seorang gadis yang pandai mengaji itu tak
pernah menyihirku hingga tumbuh rasa cintaku yang teramat dalam pada huruf dan
apa yang diajarkan alam sebagai guru...
Pastilah tak pernah tanganku mengais tanah 'barat' demi
meraih 'timur'...
Pastilah tak pernah kukenal sosokmu yang sederhana namun
penuh cinta...
Pastilah tak kukenal orang-orang hebat yang mengajariku
makna hidup...
Pasti tak pernah sedetik pun kurasakan nikmatnya bermimpi...
Dan tak pernah mataku memandang betapa hidup yang susah ini
sangatlah patut untuk disyukuri.
Semua ini berawal dari mimpi. Memang masih sangat jauh
untukku. Tapi sedapat mungkin aku akan terus berusaha, sepanjang nyawa masih
terjaga dalam tubuh kurusku ini.
FAM, kurasa hanya itu yang dapat kutulis di suratku kali
ini. Semoga persahabatan kita tak pernah lekang oleh waktu. Semoga mimpi-mimpi
membawa kita berada nyata di ujung Everest, mengibarkan bendera cinta menulis.
Karena sungguh... Sungguh... Jika cinta sudah tumbuh, segala kesulitan pasti
akan menjelma menjadi sayap yang mampu membawa kita terbang melalui segala
badai dan duri yang menghadang.
Salam Persahabatan dariku, untukmu selalu...
Ken Hanggara
FAM801M-Surabaya
@kenzohang

Comments
Post a Comment