Skip to main content

Ulasan Puisi “26 Kata Rindu” Karya Puspa Fortuna Zulfa (FAM Tegal)

Menarik sekali puisi yang satu ini. Judulnya membuat kita penasaran untuk mencoba menghitung kata rindu yang dituangkan dalam bait-baitnya dan ternyata benar, ada 26 kata “rindu“ tertulis di sana. Maka keseluruhan puisi ini didominasi oleh kata rindu itu. Rindu yang diinginkan oleh penyairnya, rindu di atas segala rindu.

Sudah banyak puisi yang bertema seperti ini, namun puisi-puisi bertema rindu ini tetap saja indah dan berbeda pula satu sama lainnya. Penyebab terjadinya perbedaan itu karena latar belakang serta pengalaman spritual masing-masing penyair dalam mendefenisikan kata rindu itu.

Cinta. Ya, cintalah yang membuat orang menjadi perindu. Cinta yang senantiasa menghiasi kehidupan. Berangkat dari cinta pulalah manusia bisa belajar menyayangi dan memiliki rasa rindu terhadap yang dicintainya itu.

Menurut Emha Ainun Najib (seniman, penyair), untuk menghadirkan suatu karya, seorang penulis mesti meyakinkan diri sendiri bahwa salah satu penikmatnya adalah diri sendiri dan sekaligus menjadi orang kebanyakan. Artinya dia mesti rela menjadi siapa saja. Di sinilah kita menemukan sedikit kesukaran ketika mencoba memahami puisi bertema rindu seperti ini. Sebagaimana dinyatakan di atas, sejatinya pengalaman tiap orang berbeda-beda. Cita rasanya berbeda-beda, tergantung kepada sampai di mana sisi kerinduan ini hadir dalam rohaninya. Terutama untuk menjembatani hubungannya dengan Allah. Dalam suatu ukuran abstrak sangat sulit kita menjelaskan tentang level kita dengan level orang lain. Karena itu marilah kita mengkonversi dari abstrak menjadi absolut, sebagaimana dinyatakan oleh Emha Ainun Najib di atas.

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ditemukan arti kata “rindu”, yaitu “sangat ingin dan berharap terhadap sesuatu”. Melalui puisi ini, penulis mencoba mengutarakan kepada kita bagaimana efek kerinduan itu sudah menyatu dalam detak kehidupannya, ditiap jengkal langkahnya. Tepat sekali bila puisi tersebut kemudian ditulis dengan kalimat: “Aku ingin..., seakan-akan menunjukkan kedalaman pemahaman penulis tentang apa yang sedang dirasakan dan ditulisnya. Kemudian, ditemukan sebuah seni pula di sini, seni berkomunikasi yang menunjukkan penegasan pada kata atau kalimat tertentu untuk bisa dipahami oleh audien atau pembacanya. Kita menemukan pola repetisi yang indah dalam puisi ini untuk menegaskan 26 “Kata Rindu” itu. Untuk itu patut diberikan apresiasi.

Sekarang mari kita lihat penulisannya berdasarkan EYD. Ditemukan sedikit kesalahan penulisan dalam kalimat Memuja asma-Nya selalu “ku rindu“, seharusnya ditulis “kurindu”. Secara keseluruhan puisi 26 Kata Rindu ini sudah menurut pedoman EYD yang benar. Tadinya FAM mengira kalimat:

“Bukan hanya aku yang dirindunya

“Mukmin perindunya juga”

Kata “dirindunya“ dan “perindunya“ itu berkonotasi kepada Tuhan, ternyata setelah dibaca sekali lagi, dapat kita pahami “nya“ di sini adalah kata ganti dari kata “surga” pada kalimat sebelum dan sesudahnya.

Sekali lagi, puisi ini layak mendapatkan apresiasi. Seperti inilah seharusnya puisi itu ditulis. Terakhir, sebagai renungan kita tutup ulasan ini dengan sebuah ayat dari Alquranul karim tentang ubun-ubun manusia di mana di situlah tempat segala rindu yang tertuang dalam puisi ini bermukim:

“Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubun (nashiyah)-nya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka”. (Quran Surat Al-Alaq ayat 15-16).

Demikian dan salam santun.

TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.blogspot.com

[BERIKUT PUISI PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

26 Kata Rindu
Karya Puspa Fortuna Zulfa

IDFAM1002M, Tegal

Jikapun rindu mengerang
Bermimpi yang dirindu
Rindu sebenarnya tak berujung
Kini kurindu
Merindu merdu syahdu
Merindu terngiang ditelinga
Merindu salam rindu
Rindu-rinduku
Saat malam menyaksikan rinduku
Saat tangis wujud rinduku
Rindu dari segala rindu
Berpuasa rindupun takkan mampu
Karena rinduku menggebu
Menerjang segala rindu yang pernah ada
Memuja asma-Nya selalu ku rindu
Aku ingin dirindu
Rindu-Nya dengar keluhku
Rindu-rindu dari surga-Nya yang merinduiku
Bukan hanya aku yang dirindunya
Mukmin perindunya juga
Rindu-rindu berbuah surga
Aku ingin....

[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...