Bukittinggi, 23 Oktober 2012
Teruntuk FAM yang baik
di
Pare
Assalamualaikum Wr. Wb.
Salam hangat selalu.
Cukup lama terbetik dari lubuk hati untuk sekali waktu
mencoba menyuratimu. Karena saya tahu kamu cukup tabah mendengar semua ocehanku
dan selalu bijak untuk memberi sebuah pandangan yang baik akan semua curahan
hati yang tertuju padamu. Saya tahu itu dan tentunya percaya dengan semua imej
yang melekat padamu, dari orang-orang yang pernah mengenalmu, dari semua
cerita-cerita yang tak henti mengalir dari orang-orang yang pernah dekat
denganmu.
Lalu, saya beranikan juga menguntaikan kata-kata yang
tertuju untukmu. Berharap ini adalah sebuah jembatan yang akan selalu
menghubungkan kita dalam dunia aksara dan mewujudkan mimpi-mimpi yang tak kenal
batas dari seorang penulis. Benar FAM, ternyata menulis telah mampu menembus
ruang dan waktu.
Saya pernah membayangkan berada di suatu tempat yang saya
inginkan, lalu dengan sebuah karangan saya mencoba merasa hadir dan
menggoreskan kata-kata yang mengalir lewat sebuah imajinasi dalam sebuah puisi
misalnya, dan sungguh sebuah kepuasan jiwa serasa terlengkapi setelah
merampungkan tulisan itu.
Juga banyak cerita-cerita yang seakan terlengkapi saat mencurahkannya
lewat tulisan. He..he.. maaf, saya seperti mengguruimu tentang itu.
Oh ya FAM, saya ingin mengatakan padamu bahwa saya sudah
cukup lama tidak menulis surat yang ditujukan pada seseorang secara pribadi. Dan
sepertinya kebiasaan ini semakin memburuk digilas kemajuan teknologi. Orang
tidak perlu lagi melatih berbahasa Indonesia yang baik dan estetis melalui
korespondensi disaat ingin mencurahkan perasaan pada seseorang, orang tidak
perlu lagi meredam rindu dan perasaan deg-degan menanti pak pos di depan pintu,
dan orang sepertinya kehilangan waktu banyak untuk melatih diri dalam dunia
tulis menulis. Ya, ternyata perkembangan zaman tak semuanya membawa dampak
positif bagi kita. Dan, melalui surat ini kerinduan saya untuk surat-menyurat
seakan kembali terobati.
Saya tahu FAM, kamu selalu membina kebiasaan yang telah
mulai pudar itu. Melalui gerakan-gerakan dan sosialisasi yang kamu lakukan
seakan geliat untuk menulis itu kembali bangkit di tengah keterpurukan kita
dalam identitas bangsa dan di atas semua ternyata kata-kata baik dan bermanfaat
yang kita goreskan bisa menjadi amal jariah bila motto "Dakwah bil Qalammu"
itu dapat terrealisasi oleh orang-orang yang mengenalmu.
Untuk itulah FAM, sekali lagi saya beranikan untuk bergabung
dan menjadi bahagian darimu. Dan ternyata FAM, kamu memang seorang sahabat yang
baik. Sungguh saya merasa beruntung dapat mengenalmu. Terbukti dengan banyaknya
bimbingan dan ilmu bermanfaat yang saya dapatkan selama persahabatan kita ini.
Tidak hanya itu, ternyata seorang penulis perlu diketahui
eksistensinya oleh orang lain, bukan sebagai pelengkap menumbuhkan rasa bangga
bagi dirinya, karena rasa itu akan dapat menumbuhkan benih takabur dan sombong
bagi seseorang, tapi sebagai penyemangat untuk terus berkarya dan mendokumentasikan
karya-karya yang ada untuk selamanya. Semoga.
Akan hal itu kamu ternyata selalu mengerti dan menyalurkan
para penulis ke arah itu, baik melalui perlombaan, promosi karya-karya di media
masa, dan menawarkan penerbitan buku. Alhamdulillah kesempatan untuk itu
ternyata telah kamu berikan pada saya.
FAM yang baik, untuk saat ini mungkin baru itu yang ingin
saya sampaikan padamu melalui surat ini. Semoga kamu selalu senang menerima
surat-surat saya dan tentunya saya juga selalu menanti balasan darimu.
Bersama kita berharap semoga silaturahim yang telah terbina
di antara kita akan semakin baik dari waktu ke waktu dan Puncak Everest itu
sepertinya tinggal sedepa langkah lagi untuk mengibarkan bendera kita di sana. Yakinlah,
dalam renggang waktu yang terkadang seakan jauh antara kita, di satu bilik hati
namamu telah kupateri abadi.
Wassalam.
Sahabatmu
Refdinal Muzan
FAM ID 160 U
Bukittinggi

Comments
Post a Comment