Sabtu, 20 Oktober 2012
Tertuju ke FAM Indonesia
di tempat
Assalamuaalaikum Wr. Wb.
Salam santun, sebelum pena ini merangkai kata izinkan saya
memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
kesempatan untuk merangkai kata dalam balutan kalimat di sini. Sungguh besar
anugerahNya untuk kita semua, napas, jiwa, raga yang sempurna terus menemani
kita hingga waktu itu tiba.
FAM yang saya hormati…
Sedikit bercerita tentang kisah saya, suka duka dalam
mengarungi pengalaman selama di FAM Indonesia, saya bukanlah sosok hebat dalam
penulisan, bukan pula sastrawan handal dalam merangkai kata, modal saya menulis
hanyalah gumpalan kata yang tersaji di buku harian sederhana, tak ada karya
yang saya banggakan semua hanya tulisan sederhana.
Dengan segala kekurangan, saya mencoba untuk terus berbuat,
memotivasi siswa-siswa yang ada di sekolah untuk terus menulis, terus membaca
dan terus berkarya, berbuatlah… sekecil apapun itu! Itu kata-kata yang sering
saya urai dalam tiap bimbingan yang saya lakukan.
Pengalaman demi pengalaman membuat saya semakin dewasa,
mengerti dan memahami segala kondisi. Pernah suatu hari saya memohon izin untuk
mensosialisasikan FAM di sekolah, tapi mendapatkan tanggapan negatif. Mereka
hanya berpikir saya mencoba meraih keuntungan dengan menjual nama FAM, mereka
tidak yakin dan mengatakan akan menghubungi kembali nantinya, tapi nyatanya
tidak pernah dapat tanggapan. Bahkan yang lebih menyakitkan ada sekolah yang
sudah membuat janji tapi dengan sepihak membatalkan tanpa alasan yang jelas,
saya kecewa, saya marah, saya merasa dipermainkan, karena pada dasarnya saya
paling benci sosok ingkar, apapun alasannya.
Kisah lainnya sangat membekas di relung hati ini adalah pada
saat saya pulang dari sosialisasi FAM di SMA 1 Sigli menuju Meureudu, di tengah
jalan yang sudah sore motor saya mogok, duit di kantong tidak punya, mentari
hampir tenggelam, jarak Meureudu masih jauh (sekitar 30 Km) akhirnya sore itu
saya mendorong motor hingga sampai rumah. Sungguh pengalaman yang luar biasa.
Apa saya jera dengan semua itu? Tentu tidak, saya tidak akan
berhenti sampai di sini, semua itu adalah lika-liku kehidupan, ada baik ada
buruk, ada senang dan ada susah, semua akan indah pada akhirnya, di sini hanya
bagaimana kita bisa bersabar menanti dengan tiap usaha yang kita perbuat.
Kisah lain tentu juga banyak pastinya, 2 kabupaten di Pidie
dan Pidie Jaya terus kami sosialisasikan tentang FAM Indonesia, karena target
kami adalah “Mem-FAM-kan Aceh”, jadi seluruh Aceh Insya Allah akan kami datangi
untuk memperkenalkan FAM Indonesia, tentu saja dengan para mitra dari FAM
Indonesia yang ada di Aceh yang dari hari ke hari semakin bertambah. FAM Aceh
butuh kualitas, bukan kuantitas, kami tidak butuh tempel nama FAM jika tidak
ingin untuk belajar. Dan Alhamdulillah, FAM Indonesia semakin dikenal, semoga
ke depannya semakin terkenal, amin.
Keluarga FAM yang saya cintai...
Dengan pendirian saya yang teguh Insya Allah saya akan terus
berbuat, memberikan warna baru dalam perjalanan FAM ke depannya, semoga kita
akan terus belajar dalam suasana sederhana seperti ini, karena ilmu itu bisa
kita dapatkan di mana saja dan kapan saja, Insya Allah. Demikian cerita kecil
saya yang tertuang dalam surat ini, semoga memberikan kesan bagi saya juga
teman-teman sekalian.
Akhirul Kalam,
Wassalamua'alaiku Wr. Wb.
Salam santun, salam karya
Maulidin Akbar
FAM1028, Sigli, Aceh
[Sumber: www.famindonesia.blogspot.com]

Comments
Post a Comment