"Penulis Novel Sabda Cinta
di Atas Nama Tuhan”
Nama lengkapnya Lina
Saputri. Lahir di Sungai Ulak, pada tanggal 2 September 1990. Anak terakhir
dari enam bersaudara, pasangan dari Asera (ayah) dan ibu Hatnah (almh). Sejak
masih berumur 10 tahun Ia sering menulis puisi dan cerpen asal jadi di buku pelajaran.
Hingga sering mendapat teguran dari guru
matematika dan guru lainnya. "Kalau buku pelajaran jangan di jadikan
gado-gado, alias jangan dicampur-campur dengan tulisan lain,” komentar
guru-gurunya.
Tapi karena
menulis adalah hobi bagi Lina, Ia tetap menulis di buku mana pun yang Ia suka. “Andai
saja saat itu saya punya uang jajan yang lebih, tentunya saya akan menulis di
buku yang khusus. Seharusnya FAM Indonesia sudah berdiri saat itu, karena
menulis di grup FAM jauh lebih murah dari pada di buku,” ujarnya sembari mengenang
masa yang telah lewat.
Lina Saputri memiliki
kebiasaan menulis di dinding kamar, dinding sekolah, bahkan di daun talas. Ia
mengaku benar-benar tertarik menjadi seorang penulis, yaitu sejak merasakan
jatuh cinta. Ia bercerita tentang cinta pertamanya saat di bangku SMP yang
kemudian mendorongnya untuk mencintai menulis dan bertekad menjadi seorang
penulis.
“Setiap hari,
ketika matahari terbenam di ufuk barat, saya sering duduk manis di Jembatan
Barito. Duduk sendirian memandang sungai yang luas sambil menyaksikan ombak
yang menghantam tepian pantainya. Buih-buih putih itu berjatuhan memecah sang
ombak dari roda kapal pesiar dan kapal tongkang penghantar batu bara yang
berlalu lalang melintasi sungai tersebut. Saya pun terus menulis surat cinta
untuk orang yang dimaksud pada selembar kertas putih. Lucunya, saya tidak punya
keberanian agar lelaki itu mengetahui apa yang ada dalam hati saya. Sehingga
saya hanya memasukannya ke dalam botol aqua plastik, lalu melabuhkan surat itu
ketika air berlandas pasang bersama tiupan angin selatan yang berhembus di sore
hari. Tak pernah tahu ke mana angin itu akan membawa surat saya, bahkan air
sungai penghantar sang kertas putih tersebut tak pernah memberi jawabannya.
Surat itu berlayar mengikuti arus yang pasang di muara Sungai Barito menuju ke
arah Sungai Kapuas, atau sungai terpanjang di Kalimantan. Sementara, orang yang
saya kagumi ada di belahan arah perkotaan jalan raya. Jelas saja surat itu tak
akan sampai ke orang yang saya tuju. Jatuh cinta membuat orang suka berkhayal,
berfantasi, menangis dan kadang tertawa sendiri. Sejak saat itulah, saya
semakin gemar menulis apapun yang terlahir di otak saya,” ujarnya dengan
kalimat sastrawi yang indah sekali.
Lina merasa perlu
mengembangkan kemampuannya dalam hal menulis, tapi faktor ekonomi keluarga ketika
itu tidak mendukungnya untuk bisa bersekolah ke jenjang yang lebih tinggi.
Akhirnya, nikah muda pun ditempuhnya untuk mendapat kehidupan yang lebih baik.
Dari pernikahannya, Lina telah memiliki seorang anak. Lina juga menjadi seorang
pengusaha di bidang pakaian dan beras. Meskipun telah menikah dan memiliki
usaha tetap yang ditekuni, kecintaannya pada menulis tak pernah hilang. Hingga,
suatu hari ia dikenalkan suaminya kepada FAM Indonesia yang diketahui melalui
internet.
Lina sangat
gembira sekali, tak berpikir panjang, Ia pun menghubungi Sekjen FAM Indonesia Aliya
Nurlela dan memintanya membimbing cara bergabung menjadi anggota FAM Indonesia.
Atas motivasi Mbak Aliya pula, Ia percaya diri menerbitkan novelnya di FAM
Publishing. Novel itu berjudul “Sabda Cinta di Atas Nama Tuhan” dan segera terbit. Endorsement dari kedua pendiri FAM Indonesia,
menghiasi back cover novel tersebut.
Tidak hanya itu, Lina juga mendapat motivasi dari Mbak Aliya untuk
mempromosikan FAM ke sekolah-sekolah di lingkungan tempat tinggalnya. Ia
benar-benar menjalankan pesan itu dan kini beberapa sekolah di daerahnya
menyambut baik kehadiran FAM Indonesia.
“Harapan saya
hanya satu. Jika suatu hari nanti saya telah tidak ada lagi, saya ingin tulisan
saya itu bisa dikenang sepanjang masa. Terutama buat orang-orang terdekat, juga
buat teman-teman semua yang mengenal saya di dunia nyata ataupun maya. Karena
hari ini atau esok, akan menjadi sejarah sepanjang masa. Bahkan saya tak pernah
tahu, suatu hari nanti saya akan dikenang seperti apa di mata kalian semua.
Tetapi buat saya, FAM telah menjadi bagian sejarah terindah yang membangun
kehidupan, cinta, dan mimpi saya menjadi lebih nyata,” katanya serius.
Lina juga
berharap, semoga anak cucu turunan ke-100 tahun ke depan dan generasi
selanjutnya tetap memilih FAM Indonesia sebagai wadah membangun kemajuan bangsa.
Karena bangsa yang maju, dimulai dari rakyatnya yang mampu membangun bangsanya lewat
buku.
“Mulai sekarang,
ajarkan orang-orang terdekat kita untuk cinta menulis dan membaca. Sudahkah Anda
memperkenalkan FAM kepada orang-orang terdekat kita? Jika belum, mulailah
berbenah diri mengenalkan FAM bukan hanya di media, tapi juga di lingkungan
kita berada. FAM is My Soul, mengapa?
Karena FAM adalah wadah yang tepat untuk mengembangkan bakat menulis kita,” ujarnya
penuh semangat,” katanya lagi.
“Apakah kalian
ingin tahu, sejak kapan saya benar-benar tertarik untuk menjadi penulis?
Jawabannya, sejak saya ..., jatuh cinta...!”
Hmm, jatuh cinta?
Jadi penulis? Mengapa memilih FAM?”
Lina
mengungkapkan, setiap orang selalu ingin mengembangkan apa yang menjadi
hobinya, begitu juga dirinya. Tapi faktor keuangan keluarga ketika itu mencegah
langkah kakinya untuk maju. Bukan hanya dirinya yang mendapat pendidikan
sekolah yang terbatas. Kakak-kakaknya juga.
“Hanya Kak Nana
yang bisa sekolah mencapai sarjana, itu pun karena memang dia pintar dan
mendapat beasiswa. Meskipun begitu, saya tidak pernah menyesal terlahir dari
keluarga yang tidak mampu. Karena saya yakin dalam hati kedua orangtua saya,
mereka pun sebenarnya bersedih melihat anak-anaknya putus sekolah. Alhamdulillah, sekian waktu berjalan
saya bisa merajut pendidikan di FAM Indonesia. Itu membuat saya merasa bangkit
dari keterpurukan, dari semangat yang pernah hilang dalam hidup saya,” ujarnya.
Lina mengatakan
lagi, "Jika suatu hari saya bisa menerbitkan buku, saya tidak berharap
lebih dari buku tersebut. Saya menulis tidak berharap tulisan saya harus dibeli
orang, ataupun mengharap royalti yang segudang. Saya menulis karena hobi,
karena saya suka, dan karena saya cinta kepada kertas dan pena. Walau pun tidak
menutup kemungkinan, sukses dalam menulis akan membuat diri kita nantinya bisa
kaya karena seringnya berkarya. Sehingga akan dikenal orang di mana-mana,
bahkan mendapat keuntungan yang luar biasa. Tapi apapun itu, menulislah karena
cinta dan jangan mengharap layak terbit atau tidak. Karena dengan seringnya
menulis, akan menunjukkan jati diri kita yang sebenarnya, kalau kita pun bisa
berkarya dengan menulis. Bukankah tidak etis, kalau di zaman modern rakyatnya
hanya suka sebagai pembaca yang siap saji semata? Ayolah, kita jangan hanya
sebagai pembaca. Mulailah ambil kertas dan pena, tulis tulis dan tulis,”
ajaknya optimis.
[www.famindonesia.blogspot.com]
Comments
Post a Comment