Orang Belanda suka membaca. Di mana-mana perpustakaan ramai
dikunjungi. Hampir semua orang berlangganan dan membaca koran; kalau pun ada
yang tak mau membeli koran, pemerintah daerah setiap tempat membagikan koran
lokal secara cuma-cuma.
Toko buku berkembang marak; mereka bahkan menyediakan
boekenbon yaitu kartu kupon seharga 5 Euro, 10 Euro, atau terserah berapa Euro.
Kartu kupon itu dapat dibeli dan diberikan kepada seseorang sebagai hadiah.
Dengan cara itu, setiap orang yang menerima hadiah `buku' dapat memilih sendiri
buku yang diinginkannya, sesuai selera.
Ini tidak berarti bahwa tak ada orang yang buta aksara. Di
Belanda terdapat 1,5 juta (13 persen) orang yang dianggap buta aksara. Di
antara satu setengah juta orang ini terdapat orang-orang yang dapat membaca dan
menulis sedikit saja, namun kemampuan itu tidak memadai untuk membaca dan
memahami sebuah buku bacaan sederhana.
Sejuta di antaranya adalah orang Belanda asli dan setengah
juta lagi adalah imigran. Gejala buta aksara itu ditemui pada lapisan
masyarakat dengan pendidikan dan pendapatan yang rendah. Biasanya mereka
berusia 56 tahun ke atas. Aneh memang. Seringkali ada asumsi bahwa di setiap
negara yang (dianggap) maju, analfabetisme sudah dapat diberantas sampai ke
akar-akarnya. Nyatanya tidak.
Sampai akhir abad ke-11, hampir semua bentuk kesusasteraan
di Eropa, termasuk di Negeri Belanda, merupakan sastra lisan berbentuk puisi.
Puisi-puisi itu itu mudah dihafal dan divokalisasikan oleh para penyanyi dan
pengamen. Seniman-seniman itu dipanggil sebagai penghibur di rumah orang-orang
kaya atau di tempat-tempat umum. Selain puisi-puisi yang ditulis dalam bahasa
Belanda (kuno), juga ada naskah-naskah ilmiah dan keagamaan. Kedua jenis naskah
itu ditulis dalam Bahasa Latin.
Mulai abad ke-12, muncul cerita-cerita kepahlawanan yang
ditulis untuk dan dipesan oleh para bangsawan. Walaupun sampai sekarang masih ada saja orang yang tidak
dapat membaca dan menulis di Negeri Belanda, ketika mereka tiba di Nusantara,
budaya membaca sudah mulai berkembang.
Saya belum menemukan tulisan mengenai budaya membaca dalam
dua abad pertama kedatangan Belanda di negeri kita, namun pada tahun 1916,
seorang wartawati bernama Beata van Helsdingen-Schoevers menulis tentang
leestrommels (kotak bacaan) di Batavia (lihat Gerard Termorshuizen,
"Realisten en Reactionairen: een Geschiedenis van de Indisch-Nederlandse
Pers 1905-1942". Leiden: KITLV, 2011).
Menurut Beata van Helsdingen-Schoevers, membaca sangat
digemari di Hindia-Belanda. Di Hampir setiap rumah menyimpan leestrommel di
salah satu sudut ruang makannya. Kalau diterjemahkan leestrommel itu secara
harfiah berarti gentong bacaan. Namun, rupanya wadah penyimpan bacaan itu
sebetulnya acapkali berupa kotak kayu yang berukuran cukup besar. Sekitar tahun
1930an wadah yang terbuat dari kayu sudah banyak digantikan dengan wadah yang
terbuat dari blik (seng).
frieda.amran@yahoo.com (anggota Asosiasi Antropologi
Indonesia)
[sumber: http://nasional.kompas.com/read/2012/03/26/11315713/.Gentong.Buku.di.Hindia.Belanda]

Comments
Post a Comment