Skip to main content

Lomba Menulis Surat: “Nenek Menyimpan Puisi Pertama yang Saya Tulis”

Kepada:
Yth. FAM Indonesia
di tempat

FAM yang baik, saya senang sekali dapat menuliskan cerita di grup ini. Saya teringat saat duduk di bangku SMP kelas 1 di mana kakek saya telah dipanggil Sang Khalik. Kepergian kakek membuat saya sedih dan kehilangan. Tentu saja. Saya sangat dekat dengan kakek dan nenek karena saya adalah cucu pertama bagi mereka. Bahkan saya menuliskan puisi untuk kakek tak lama setelah kepergiannya. Sahabat FAM mau tahu?

Kakek Nenekku
Oh, betapa sedih hatiku
Kehilangan kakekku yang kucintai
Aku selalu teringat kepadanya
Dengan menangis tersedu-sedu
Kini hanya nenekku satu-satunya
Hanya dia kini yang sangat mencintaiku
Betapa pedihnya cinta itu
Kini aku hanya mendapat cinta dari nenekku

Itu adalah penggalan puisi yang saya tulis sebagai curahan hati. Saya tidak tahu puisi itu bagus atau tidak, karena saya membuatnya bukan untuk dinilai atau dilombakan. Saya hanya menyimpannya di lemari tanpa memberikannya pada nenek. Suatu hari, tanpa sengaja nenek menemukan kertas itu. Nenek menangis dan memeluk saya. Kejadian itu sangat membekas di hati saya.

Saya tak pernah menduga nenek masih menyimpan puisi saya sampai ajal menjemputnya enam tahun yang lalu. Saya menemukannya saat membereskan lemari pakaian nenek sebulan kemudian. Saya terpaku. Terkejut. Kertas itu telah berubah warna menjadi kuning. Namun nenek telah melipatnya dengan rapi. Bagi saya, itu adalah penghargaan yang luar biasa dari nenek. Bertahun-tahun nenek telah menyimpannya.

Menjadi seorang penulis bukanlah cita-cita saya. Maklum saja, dulu tidak ada kecanggihan teknologi seperti sekarang. Jangankan facebook, internet saja sangat langka. Apalagi untuk mempelajari tentang cara menulis yang baik. Waktu itu, saya lebih tertarik untuk membaca buku karena melihat tumpukan buku di almari bapak. Rasa penasaran dengan isi buku selalu ada dalam hati saya. Hal ini berlangsung sampai saya masuk perguruan tinggi. Saya sangat suka membaca novel dari Agatha Christie, novelis favorit saya. Saat itu saya sempat berpikir ingin mempunyai sebuah buku sepertinya. Saya ingin mempunyai pembaca setia yang selalu menunggu tulisan buku saya.

Tapi setelah saya di wisuda, bahkan bekerja, menikah dan mempunyai dua orang anak, saya belum terpikirkan untuk menulis. Kesibukan di kantor dan waktu yang sedikit untuk buah hati saya, membuat saya memilih untuk keluar dari pekerjaan setelah sebelas tahun mengabdikan diri di perusahaan swasta. Setelah keluar dari pekerjaan inilah, saya mulai membuka dan mencari di internet kegiatan yang berhubungan dengan menulis. Rasa ingin menulis mulai tumbuh. Akhirnya saya bisa menemukan FAM dan langsung mengikuti lomba cerpen meskipun tidak menjadi pemenang. Saya baru belajar menulis setelah mengenal FAM. Hanya dengan duduk di dalam kamar, saya bisa memperoleh informasi dan kegiatan menulis dengan mudah. Banyak sahabat dan penulis muda selalu bersemangat menulis. Kagum, itulah kata yang bisa saya ucapkan. Tapi tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar, itu yang saya lakukan sejak empat bulan yang lalu. Saya juga mengikuti proyek antologi yang diadakan oleh FAM. Alhasil, buku Pesona Odapus telah terbit. Saya cukup bangga nama saya tertera di buku itu.

Tulisan saya tidak berhenti sampai di situ. Saya juga menulis cerpen di sela waktu saya sebagai ibu rumah tangga. Cerpen itulah yang akhirnya dibukukan oleh FAM Publishing dengan judul Pigura Retak. Tidak. Saya bukanlah penulis hebat. Saya hanya menuangkan ide yang keluar dari hati saya.

Dua puluh tiga tahun telah berlalu setelah kakek tiada, kini kertas yang berisi puisi tersimpan rapi di lemari saya. Saya akan menyimpannya sebagai kenangan kepada kakek dan nenek. Itulah tulisan pertama saya dalam membuat puisi. Saya tak akan pernah melupakannya. Suatu hari nanti, saya akan memperlihatkannya pada buah hati saya. Saya bangga pada nenek yang telah menganggap tulisan saya berarti untuknya. Terlebih lagi saat suami saya juga melihat dan membaca puisi itu. Tahukah sahabat, apa komentarnya? Dilaminating agar tidak rusak, itu kata suami saya. Saya tersentuh dan terharu mendengarnya. Rasanya bahagia, tulisan saya sangat dihargai meskipun itu adalah coretan di masa kecil. Semoga tulisan saya yang telah dibukukan oleh FAM, bisa tersimpan di hati pembaca dan sahabat FAM.

Salam santun,
Laura
FAM890U-Tegal

[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...