Berpuisi adalah ekspresi jiwa kita. Setiap puisi yang kita
buat, biasanya lebih sebagai perwakilan hati. Tak jarang, seorang penulis
terheran-heran dengan kalimat-kalimat yang telah ia tulis sendiri. Tanpa
disadari, muncul kejutan-kejutan ekspresi yang menggambarkan sebuah situasi:
cinta, rindu, dendam, kebencian, indah, bahkan permusuhan. Puisi sering juga
menjelma menjadi mantra-mantra yang mampu menaklukkan kerasnya hati seorang
pembaca.
Karena puisi lahir dari dalam diri seseorang, kita perlu
merangsang agar ia mau keluar menjadi kalimat-kalimat canggih yang indah.
Proses perangsangan itu tak berbeda dengan saat kita menulis cerpen atau novel.
Hanya saja, menulis puisi lebih dibutuhkan konsep simbol dari kata-kata yang
harus kita pilih untuk mewakili ungkapan perasaan atau suatu situasi yang ingin
kita lantunkan menjadi bait-bait syair yang mempesona.
Untuk itu, setidaknya kita harus melalui proses perangsangan
itu sebagai berikut. Meskipun beberapa orang tidak harus melewati proses ini,
setidaknya bisa membantu atau mempermudah lahirnya sebuah puisi.
1. Meditasi untuk
ketenangan hati
Meditasi tidak harus dilakukan seperti orang sedang
melakukan yoga. Anda hanya perlu menenangkan pikiran sebelum melakukan proses
selanjutnya. Dalam setiap agama, kita mengenal istilah sembahyang, yang tidak
lain adalah proses meditasi untuk menenangkan diri atau berdialog dengan Sang
Pencipta.
2. Membayangkan
peristiwa atau situasi
Jika ketenangan hati telah menghampiri Anda, silakan
membayangkan peristiwa atau situasi yang indah atau yang selama ini membuat
hati Anda bergejolak atau tertarik untuk mengamati ulang.
3. Mengilustrasikan
dalam media
Setelah membayangkan peristiwa atau situasi, silakan mencoba
mengilustrasikannya secara ringkas ke dalam pikiran. Akan lebih mudah jika Anda
melakukannya dalam bentuk coretan-coretan kalimat atau beberapa kata di kertas,
di laptop, atau media apapun yang mampu menyimpan gagasan Anda.
4. Meraba simbol dan
tanda kalimat
Tahap selanjutnya, ringkaslah kalimat-kalimat atau rangkailah
kata-kata yang telah Anda ilustrasikan dengan kalimat atau kata-kata yang
menyimbolkan atau menjadi tanda khas dan menarik sesuai dengan hati dan
pikiran.
5. Merapikan dan
menghaluskan kalimat atau kata
Terakhir, jangan lupa membaca ulang kalimat-kalimat yang
telah Anda susun tadi, dan rasakan nada dan intonasinya. Jika Anda masih
merasakan ada kejanggalan, ulangi terus membacanya hingga didapatkan kenikmatan
dan kepuasan spiritual atas karya puisi Anda sendiri itu.
Begitulah proses perangsangan ide untuk menjadi sebuah puisi
yang menarik dan memesona. Anda tidak perlu ragu untuk melakukannya. Sebab,
setiap orang memiliki potensi untuk membuat keindahan dalam puisi karyanya.
Setidaknya, puisi Anda bisa membantu melegakan berbagai masalah yang sedang
dihadapi. Akan lebih beruntung lagi jika Anda kumpulkan puisi tersebut, lalu
diterbitkan menjadi sebuah buku. Bukankah itu sangat memuaskan secara
spiritual? Selamat mencoba.
[sumber: http://www.titahsurga.com/2012/10/belajar-menulis-puisi-indah.html]

Comments
Post a Comment