Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin
berkumpul untuk membuat yang serupa Alquran ini, niscaya mereka tidak akan
dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi
pembantu bagi sebagian yang lain". (QS. Al Israa: 88)
Subhanallah, segala puja dan puji memang hanya pantas kita
sampaikan kepada Allah SWT, pemilik semua kuasa, pengatur yang Maha Sempurna,
penentu semua catatan yang ada di langit dan bumi, dulu, kini dan nanti.
Tak akan pernah ada satu rangkaian kata manapun yang mampu
menandingi keindahan dan kedalaman makna Maha KalamNya seperti yang tertera
dalam kitab suci Alquran dan kitab-kitab suci lainnya yang diturunkan sebelum
kenabian Muhammad SAW.
Lalu, tak perlu kemana-mana lagi kita harus mencari sebuah
sumber bacaan disaat jiwa-jiwa kita terasa hampa dan relung-relung sukma kita
memerlukan satu santapan untuk memenuhi kebutuhan atas segala dahaga disaat
kerontangnya musim yang menimpa, atas segala rasa lapar ketika kemarau tak
mampu lagi menumbuhkan biji-biji bernas yang akan ditanak.
Dengan membaca dan menggali isi kandungan Alquran, ternyata
semua kebutuhan yang tadinya kita cari selalu ada di sana, karena Alquran
ternyata juga sebuah mukjizat yang masih dapat kita temui hingga di penghujung
masa.
Semoga kita termasuk orang-orang yang tak melalaikan diri
untuk mencari pedoman hidup di sana, terrefleksi dalam semua tindakan dan
langkah-langkah kita menyusuri sisa waktu yang masih diberikanNya pada kita.
Amin.
Puisi Alqur'an ini jelas sebuah bentuk renungan penulis atau
sebuah imbauan kepada kita akan begitu pentingnya menjadikan Alquran sebagai
pedoman hidup kita.
Secara jujur dan lugas penulis sangat mengakui bila dirinya
kadang juga termasuk seorang yang sewaktu-waktu sering melupakan Kitabullah
itu. Sebuah pengakuan yang patut diacungkan jempol yang sebenarnya juga
dilakukan oleh sebagian besar orang yang mengaku mengimani Alquran sebagi kitab
sucinya.
Ini tergambar saat kita menyimak pada dua bait pertama puisi
ini:
kuasingkan dirimu saat ku bahagia...
Jangankan menyentuhmu..
Melihatnyapun ku enggan..
Ku menikmati hari-hari tanpa menjadikan mu imamku...
Meski senyum itu slalu ada..
Namun Kurasakan kedamaian yang kurang sempurna.
Ya, kita terkadang sering lupa untuk membaca dan mempedomani
Alquran disaat-saat sebuah kebahagiaan, kemewahan, kegembiraan, ketenaran, dan
semua glamor yang membias di kesemuan sementara di jagat panggung dunia ini
kita dapati.
Kita 'mengasingkan' Kalammullah itu, sebagaimana diksi yang
dipakai penulis di sini, bahkan untuk melihatnya pun hati jadi enggan. Sebuah
tindakan yang memang cukup banyak kita lakukan saat terbuai oleh manisnya
dunia.
Di sini penulis juga menegaskan bila senyum dan kebahagiaan
yang kita raih itu bukan apa-apa, hanya kepalsuan semata, dan kedamaian hati
tak akan pernah sesempurna bila kita selalu menyatu ke dalam wahyu-wahyu Allah
itu.
Pesan moral dan amanat dalam puisi yang ditulis ini sangat
kuat dan menyentak kesadaran kita untuk seutuhnya mengimani Alquran sebagai
pedoman dan penyuluh hidup kita.
Tiap Perjalannanku
berteman gelisah..
Hiburan menarik ta’
menjadikakan sedihku lepas..
Aku dilema dalam tiap
keputusan..
Kuusap kembali dirimu
lembut..
Kubaca dengan
irama-irama syahdu dari hati...
Ku maknai tiap-tiap
kalimatmu yang mengugah kalbu..
Oh.....mukzizat yang
luar biasa...
Begitu setia mengobati
tiap lukaku...
meski ku pernah
berlalu tanpamu..
Pada bait-bait puisi selanjutnya ini, penulis cukup pandai
menjaga korelasi sebuah untaian rasa yang menyambung dengan bait-bait
sebelumnya. Hingga kita melihat puisi ini benar menjadi sebuah kesatuan yang
utuh dalam menyatakan sebuah pesan dan kaitan kata yang indah.
Jelas kita masih membaca suasana renungan dari sebuah
tindakan saat melalaikan diri dari Alquran. Kegelisahan ternyata tak pernah
berakhir dengan segala hiburan dan kebahagiaan yang ditawarkan dunia. Bilapun
itu sempat kita raih, hanya bersifat sementara semata.
Ini yang kembali kental kita rasakan sebagai amanat yang
baik sekali dalam tulisan ini.
Di akhir bait puisi ini, sebuah "keajaiban"
tergambarkan sebagai kesimpulan semua rangkaian kata-kata ini. Penulis ingin
menyampaikan pada kita bahwa Alquran adalah sangat benar merupakan sebuah
mukjizat yang dapat dirasakan oleh semua orang yang mau mendekati dan menggali
isi kandungannya. Semoga kita termasuk orang yang tersentuh dengan keajaiban
itu.
Puisi religius ini sangat bermakna bila kita selami dengan
apa yang dimaksud dan dicontohkan penulis dalam bait-baitnya.
Dengan memposisikan jiwa penulis sebagai "lawan
bicara", sebenarnya juga kita mengintropeksi diri bagaimana selayaknya
menjalankan perintah agama.
Secara penulisan sebenarnya penulis cukup mampu menggali
bakat kepenulisannya. Terlihat dengan kemampuan mengangkat tema dan amanat yang
disampaikan.Dengan memakai kalimat-kalimat yang jelas dalam diksi-diksi yang
dipilih, puisi ini sangat mengena untuk sebuah pesan, namun perlu memolesnya
dengan imajinasi dan kalimat pengandaian agar dapat menjadi suguhan yang tak
hanya bergizi, tapi juga nikmat disantap.
Ada beberapa perbaikan yang mungkin dikarenakan kelupaan
penulis untuk mempedomani ejaan yang benar, seperti:
Pemakaian kata "ku” dan “mu". Kata "ku"
dan "mu" memang berasal dari "aku" dan "kamu".
"Aku" dan "kamu" bisa kita tulis
terpisah dan berdiri sendiri sama dengan kata lainnya bila kita menulis utuh
seperti itu. Namun bila kita menulisnya "ku" dan "mu"
berarti dia menjadi imbuhan, bisa sebagai awalan atau akhiran. Yang jelas semua
imbuhan tidak bisa berdiri sendiri, harus ditulis melekat dengan kata dasar
yang mengikutinya.
Kita lihat beberapa koreksi dalam puisi ini, seperti:
“ku bahagia”, seharusnya ditulis “aku bahagia
“ku enggan”, sebaiknya ditulis “aku enggan”
“ku menikmati”, sebaiknya ditulis “aku menikmati atau
kunikmati”
“menjadikan mu”, sebaiknya ditulis menjadikanmu
ta', sebaiknya ditulis “tak” atau “tidak”
“ku maknai”, sebaiknnya ditulis “kumaknai”
“ku pernah”, sebaiknya “aku pernah”.
Satu hal yang perlu menjadi perhatian penulis, kata
“Al-Qur’an” harusnya ditulis “Alquran.”
Semoga koreksi ini menjadikan kita semakin cinta dengan
pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Selamat menulis. Salam santun, salam karya!
TIM FAM INDONESIA
[BERIKUT NASKAH
PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]
Al-Qur’an
Oleh Yuli Nur Fitrah
IDFAM952M Anggota FAM
Merauke
kuasingkan dirimu saat ku bahagia...
Jangankan menyentuhmu..
Melihatnyapun ku enggan..
Ku menikmati hari-hari tanpa menjadikan mu imamku...
Meski senyum itu slalu ada..
Namun Kurasakan kedamaian yang kurang sempurna.
Tiap Perjalannanku berteman gelisah..
Hiburan menarik ta’ menjadikakan sedihku lepas..
Aku dilema dalam tiap keputusan..
Kuusap kembali dirimu lembut..
Kubaca dengan irama-irama syahdu dari hati...
Ku maknai tiap-tiap kalimatmu yang mengugah kalbu..
Oh.....mukzizat yang luar biasa...
Begitu setia mengobati tiap lukaku...
meski ku pernah berlalu tanpamu..
[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]

Comments
Post a Comment