Skip to main content

Ulasan Puisi “Al-Qur’an” Karya Yuli Nur Fitrah (FAM Merauke)

Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Alquran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain". (QS. Al Israa: 88)

Subhanallah, segala puja dan puji memang hanya pantas kita sampaikan kepada Allah SWT, pemilik semua kuasa, pengatur yang Maha Sempurna, penentu semua catatan yang ada di langit dan bumi, dulu, kini dan nanti.

Tak akan pernah ada satu rangkaian kata manapun yang mampu menandingi keindahan dan kedalaman makna Maha KalamNya seperti yang tertera dalam kitab suci Alquran dan kitab-kitab suci lainnya yang diturunkan sebelum kenabian Muhammad SAW.

Lalu, tak perlu kemana-mana lagi kita harus mencari sebuah sumber bacaan disaat jiwa-jiwa kita terasa hampa dan relung-relung sukma kita memerlukan satu santapan untuk memenuhi kebutuhan atas segala dahaga disaat kerontangnya musim yang menimpa, atas segala rasa lapar ketika kemarau tak mampu lagi menumbuhkan biji-biji bernas yang akan ditanak.

Dengan membaca dan menggali isi kandungan Alquran, ternyata semua kebutuhan yang tadinya kita cari selalu ada di sana, karena Alquran ternyata juga sebuah mukjizat yang masih dapat kita temui hingga di penghujung masa.

Semoga kita termasuk orang-orang yang tak melalaikan diri untuk mencari pedoman hidup di sana, terrefleksi dalam semua tindakan dan langkah-langkah kita menyusuri sisa waktu yang masih diberikanNya pada kita. Amin.

Puisi Alqur'an ini jelas sebuah bentuk renungan penulis atau sebuah imbauan kepada kita akan begitu pentingnya menjadikan Alquran sebagai pedoman hidup kita.

Secara jujur dan lugas penulis sangat mengakui bila dirinya kadang juga termasuk seorang yang sewaktu-waktu sering melupakan Kitabullah itu. Sebuah pengakuan yang patut diacungkan jempol yang sebenarnya juga dilakukan oleh sebagian besar orang yang mengaku mengimani Alquran sebagi kitab sucinya.

Ini tergambar saat kita menyimak pada dua bait pertama puisi ini:

kuasingkan dirimu saat ku bahagia...
Jangankan menyentuhmu..
Melihatnyapun ku enggan..

Ku menikmati hari-hari tanpa menjadikan mu imamku...
Meski senyum itu slalu ada..
Namun Kurasakan kedamaian yang kurang sempurna.

Ya, kita terkadang sering lupa untuk membaca dan mempedomani Alquran disaat-saat sebuah kebahagiaan, kemewahan, kegembiraan, ketenaran, dan semua glamor yang membias di kesemuan sementara di jagat panggung dunia ini kita dapati.

Kita 'mengasingkan' Kalammullah itu, sebagaimana diksi yang dipakai penulis di sini, bahkan untuk melihatnya pun hati jadi enggan. Sebuah tindakan yang memang cukup banyak kita lakukan saat terbuai oleh manisnya dunia.

Di sini penulis juga menegaskan bila senyum dan kebahagiaan yang kita raih itu bukan apa-apa, hanya kepalsuan semata, dan kedamaian hati tak akan pernah sesempurna bila kita selalu menyatu ke dalam wahyu-wahyu Allah itu.

Pesan moral dan amanat dalam puisi yang ditulis ini sangat kuat dan menyentak kesadaran kita untuk seutuhnya mengimani Alquran sebagai pedoman dan penyuluh hidup kita.

Tiap Perjalannanku berteman gelisah..
Hiburan menarik ta’ menjadikakan sedihku lepas..
Aku dilema dalam tiap keputusan..

Kuusap kembali dirimu lembut..
Kubaca dengan irama-irama syahdu dari hati...
Ku maknai tiap-tiap kalimatmu yang mengugah kalbu..

Oh.....mukzizat yang luar biasa...
Begitu setia mengobati tiap lukaku...
meski ku pernah berlalu tanpamu..

Pada bait-bait puisi selanjutnya ini, penulis cukup pandai menjaga korelasi sebuah untaian rasa yang menyambung dengan bait-bait sebelumnya. Hingga kita melihat puisi ini benar menjadi sebuah kesatuan yang utuh dalam menyatakan sebuah pesan dan kaitan kata yang indah.

Jelas kita masih membaca suasana renungan dari sebuah tindakan saat melalaikan diri dari Alquran. Kegelisahan ternyata tak pernah berakhir dengan segala hiburan dan kebahagiaan yang ditawarkan dunia. Bilapun itu sempat kita raih, hanya bersifat sementara semata.
Ini yang kembali kental kita rasakan sebagai amanat yang baik sekali dalam tulisan ini.

Di akhir bait puisi ini, sebuah "keajaiban" tergambarkan sebagai kesimpulan semua rangkaian kata-kata ini. Penulis ingin menyampaikan pada kita bahwa Alquran adalah sangat benar merupakan sebuah mukjizat yang dapat dirasakan oleh semua orang yang mau mendekati dan menggali isi kandungannya. Semoga kita termasuk orang yang tersentuh dengan keajaiban itu.

Puisi religius ini sangat bermakna bila kita selami dengan apa yang dimaksud dan dicontohkan penulis dalam bait-baitnya.

Dengan memposisikan jiwa penulis sebagai "lawan bicara", sebenarnya juga kita mengintropeksi diri bagaimana selayaknya menjalankan perintah agama.

Secara penulisan sebenarnya penulis cukup mampu menggali bakat kepenulisannya. Terlihat dengan kemampuan mengangkat tema dan amanat yang disampaikan.Dengan memakai kalimat-kalimat yang jelas dalam diksi-diksi yang dipilih, puisi ini sangat mengena untuk sebuah pesan, namun perlu memolesnya dengan imajinasi dan kalimat pengandaian agar dapat menjadi suguhan yang tak hanya bergizi, tapi juga nikmat disantap.

Ada beberapa perbaikan yang mungkin dikarenakan kelupaan penulis untuk mempedomani ejaan yang benar, seperti:

Pemakaian kata "ku” dan “mu". Kata "ku" dan "mu" memang berasal dari "aku" dan "kamu".
"Aku" dan "kamu" bisa kita tulis terpisah dan berdiri sendiri sama dengan kata lainnya bila kita menulis utuh seperti itu. Namun bila kita menulisnya "ku" dan "mu" berarti dia menjadi imbuhan, bisa sebagai awalan atau akhiran. Yang jelas semua imbuhan tidak bisa berdiri sendiri, harus ditulis melekat dengan kata dasar yang mengikutinya.

Kita lihat beberapa koreksi dalam puisi ini, seperti:

“ku bahagia”, seharusnya ditulis “aku bahagia
“ku enggan”, sebaiknya ditulis “aku enggan”
“ku menikmati”,  sebaiknya ditulis “aku menikmati atau kunikmati”
“menjadikan mu”, sebaiknya ditulis menjadikanmu
ta', sebaiknya ditulis “tak” atau “tidak”
“ku maknai”, sebaiknnya ditulis “kumaknai”
“ku pernah”, sebaiknya “aku pernah”.

Satu hal yang perlu menjadi perhatian penulis, kata “Al-Qur’an” harusnya ditulis “Alquran.”

Semoga koreksi ini menjadikan kita semakin cinta dengan pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Selamat menulis. Salam santun, salam karya!

TIM FAM INDONESIA

[BERIKUT NASKAH PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

Al-Qur’an
Oleh Yuli Nur Fitrah

IDFAM952M Anggota FAM Merauke

kuasingkan dirimu saat ku bahagia...
Jangankan menyentuhmu..
Melihatnyapun ku enggan..

Ku menikmati hari-hari tanpa menjadikan mu imamku...
Meski senyum itu slalu ada..
Namun Kurasakan kedamaian yang kurang sempurna.

Tiap Perjalannanku berteman gelisah..
Hiburan menarik ta’ menjadikakan sedihku lepas..
Aku dilema dalam tiap keputusan..

Kuusap kembali dirimu lembut..
Kubaca dengan irama-irama syahdu dari hati...
Ku maknai tiap-tiap kalimatmu yang mengugah kalbu..

Oh.....mukzizat yang luar biasa...
Begitu setia mengobati tiap lukaku...
meski ku pernah berlalu tanpamu..

[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...