Cerpen ini menceritakan tokoh cerita Reisya yang
ditinggal oleh ibunya yang telah mendahuluinya meninggal dunia, sementara
ayahnya sendiri merupakan sosok yang tidak bertanggung jawab. Bahkan ketika
ibunya meninggal, ayahnya tidak mau menandatangani prosesi pemakaman oleh pihak
rumah sakit.
Reisya akhirnya menjalani hidup sendiri dan tinggal di
tempat kost. Dalam kesendiriannya seorang temannya, Adit selalu berupaya
menemani dan memberikan semangat kepada Reisya.
Suatu hari ketika Adit dan Reisya menuju masjid,
didapatinya seorang tua tertidur di teras masjid. Adit dan Reisya bertanya
kenapa tidur di teras masjid, bapak tua itu menjawab bahwa dia bermimpi bahwa
istri dan anaknya menunggu di sini dan istrinya sudah memaafkannya. Sampai di
sini hampir menimbulkan kesan bahwa bapak tua itu adalah ayah kandung Reisya
yang selama ini berpisah.
Bapak tua itu ikut salat berjamaah di masjid, tetapi
dalam sujud terakhirnya berlangsung lama sekali, walaupun Adit sebagai imam
sudah selesai lama tapi orang tua itu tetap bersujud. Merasa ada yang ganjil,
salah seorang makmum membangunkan bapak tua itu namun ternyata orang tua itu
telah meninggal dunia.
Suatu saat Reisya dan Adit pergi ke rumah Reisya yang
telah lama ditinggalkannya. Dari dalam rumah keluar seorang wanita muda yang
menyebabkan Reisya semakin benci terhadap ayahnya yang masih saja bermain
perempuan. Dari penuturan wanita itu, Reisya semakin kaget mendapati kenyataan
rumah itu telah dijual oleh ayahnya. Tetapi dari pertemuan dengan wanita itu
Reisya mendapat petunjuk keberadaan ayahnya.
Ternyata ayahnya telah berubah dan mendirikan sebuah
panti asuhan yang mengambil nama Reisya dan ibunya.
Penulis berhasil mendesain cerita yang hampir-hampir
membuat pembaca salah menebak, sehingga cerpen ini menarik untuk dibaca.
Isi cerita dengan penulisan hampir berbanding
terbalik, karena masih banyak penulisan yang perlu diperhatikan seperti
kata-kata yang bertanda merah. Tetapi kesalahan penulisan itu sebenarnya
tertuju pada satu hal, yaitu penulisan kata setelah kata depan “di” yang
seharusnya dipisah. Contoh: “dihadapan” seharusnya ditulis “di hadapan”
Teruslah
berkarya. Salam santun.
TIM FAM
INDONESIA
www.famindonesia.blogspot.com
[BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]
Lingkaran Cinta Ar Rahman
Oleh Anis
Swedia
IDFAM966U Anggota FAM Malang
Reisya duduk diberanda
masjid menunggu Adit dan Nita keluar dari masjid. Saat dilihatnya kedua
temannya itu sudah keluar, dia lalu berjalan dahulu. Ia bosan dan marah sekali
saat melihat Adit dan semua tingkahnya yang mulai mendekatinya dan berusaha
ikut campur akan urusan keluarganya. Baginya tidak akan ada orang yang mampu
mengerti akan hidupnya setelah kematian ibunya.
Adit berlari menyusul langkah Reisya yang cepat. Ia
menggapai lengan gadis itu, gadis yang telah mencuri hatinya. Ia menatap Reisya
dengan penuh kasih dan cinta meski Reisya tak pernah membalas perasaannya itu
dan selalu mengacuhkannya.
“Kau masih marah padaku?” Tanya Adit kepada Reisya.
Reisya diam. “Sya.. aku tidak pernah bermaksud mencampuri urusan
pribadimu..”Tambah Adit, dan Reisya masih diam. “Aku hanya tidak ingin kau
tanamkan sifat bencimu selamanya dihatimu kepada
orang tuamu yang tinggal seorang!” Tambah Adit.
“Cukup dit! Hentikan!”
Perintah Reisya. “Kau pikir kau siapa?! Kau tidak tahu aku! Dan kau tidak
pernah menjadi aku!” Ucap Reisya.
“Tidak memang sya.. aku
tidak akan pernah menjadi dirimu, namun, aku akan berusaha agar kau tidak menjadi
diriku yang yatim piatu…”Ujar Adit dalam. Reisya akhirnya memandang Adit
serba salah.
“Diam!” Ucap Reisya. Reisya tidak tahu harus bersikap
seperti apa lagi kepada pemuda yang selama ini tulus sayang kepadanya, kepada
pemuda yang tak pernah lelah menerima sikap angkuh dan kasarnya, kepada pemuda
yang selalu menemaninya duduk sendirian di pinggir kolam saat Reisya sedih.
Kepada pemuda yang selalu diam saat Reisya melampiaskan kemarahannya karena
Reisya tak tahu harus marah dan kesal kepada siapa saat ia marah dan kesal
kepada Ayahnya. Akhirnya butir-butir air mata
keluar bagai mutiara dari kelopak matanya. Selama empat tahun ini ia sudah tak
pernah menangis. Terakhir ia menangis adalah saat dimana ia memohon ayahnya
menandatangani surat prosesi pemakaman ibunya yang diabaikan oleh ayahnya. Dipemakaman ibunyapun ia tak menangis, airmatanya
sudah kering, mungkin juga habis saat seminggu lamanya ia terus menangis,
bersujud di musholla rumah sakit memohon kepada Ilahi untuk menyelamatkan
Ibunya, namun yang maha Kuasa tetap memanggil
ibunya untuk kembali kesisiNya. Tak ada yang
mengerti kesedihannya, tak ada yang mengerti bagaimana ia merindukan hubungan
keluarga yang harmonis, tak ada yang mengerti bagaimana usaha Reisya untuk bisa
membuat ibunya tersenyum dengan prestasinya, hanya agar ibunya lupa akan
penghinaan yang diterima dari Ayahnya. Dulu, setiap hari ia mengaji bersama
dengan ibunya, sementara Ayahnya bermain-main
dengan perempuan lain.
Reisya terjatuh mengingat itu semua, Adit dengan sigap
langsung menghampirinya, berusaha menggapai Reisya, namun Reisya menolak uluran
tangan Adit. Ia berdiri sendiri dan segera mengahapus air matanya. Ia tak ingin
terlihat lemah didepan siapapun termasuk Adit.
Semenjak hari itu, setiap subuh Adit selalu datang ke
kost Reisya, di pagi hari pertama Reisya kaget tak terkira saat ibu kostnya
membangunkannya, dan saat diketahuinya Adit telah menunggunya diambang pintu rumah kostnya. Alasan Adit datang
subuh-subuh teramat sederhana, ia meminta Reisya untuk menemaninya adzan,
karena ia takut pergi kemasjid sendirian. Sebuah alasan yang aneh. Semula
Reisya menolak keras, namun setelah Adit mengancam bahwa tidak akan yang adzan kecuali dirinya, akhirnya Reisya
menyerah. Reisya hanya kasihan kepada Adit jikalau ia nanti disalahkan oleh
para takmir masjid karena ia tidak konsisten kepada jadwal yang telah
ditetapkan. Sehari, dua hari, Reisya menemani Adit dan menunggunya diteras masjid, dua hari itu pula Adit menawarkan
Reisya untuk sholat, namun Reisya tetap saja enggan sholat dan Adit tak memaksa
Reisya. Hari ketiga, Reisya tetap menemani Adit, namun
terkejutnya mereka berdua saat mereka mendapati seorang pria tua
tertidur diteras masjid. Bapak tua itu adalah bapak tua yang tinggal sendirian
di ujung jalan, bapak tua itu adalah penjual es keliling, entah dimana
keluarganya berada, sehingga ia tinggal sendiri di ujung rumah tua yang telah
reot itu. Adit dan Reisya mengampiri dan membangunkan bapak tua itu. bapak tua itu terbagun dengan sedikit terkejut,
namun ia segera tersenyum, menampilkan gusi-gusi tanpa giginya.
“Bapak? Bapak kenapa tidur diberanda
masjid? Disini dingin pak…” Tanya Reisya lembut.
Bapak tua itu tersenyum
“Istri dan anak saya datang di mimpi saya, mereka
menunggu saya disini, kata istri saya, dia sudah memaafkan saya.. leganya hati
saya jika semua mimpi saya barusan benar nyata adanya. Namun, semua saya
pasarahkan kepada Ilahi, saya adalah suami yang tidak bertanggung jawab,
sehingga istri dan anak saya dipanggil terlebih dahulu olehNya.. dahulu saya
sering sekali menghina istri saya, tapi dia tetap sabar dan terus mencintai
saya dengan tulus, mencintai saya yang telah mengabaikannya…” Tanpa terasa air
mata Reisya mengalir. Ia tak pernah tahu kehidupan bapak tua yang selalu ia
beri uang setiap bulannya itu. Reisya hanya bangga kepada bapak tua itu karena
ia gigih mencari nafkah, dan tetap mempertahankan harga dirinya dengan tidak
menengadahkan tangannya menunggu belas kasihan orang lain. Ia jadi teringat
akan ibunya yang tulus mendoakan ayahnya meski ayahnya tak pernah menghiraukan
ibunya sekalipun.
Adit diam memandang Reisya, ia lalu perlahan pergi
untuk mengambil wudlu. Reisya masih terdiam, air matanya mengalir mengingat Ibunya,Ibunya yang sangat mencintai Ayahnya, Ibunya yang menderita dan Ibunya yang sabar.
Mungkin cerita keluarga Bapak tua dihadapannya
ini tidak jauh berbeda dengan cerita keluarga Reisya,pikirnya
dalam-dalam.
“Sya… sayang.. titip Ayahmu, bagaimanapun buruknya
ayahmu, ia tetap Ayahmu, darahnya ada dalam tubuhmu nak… tidak akan ada dirimu
jika tidak ada Ayahmu, takdir Allah yang menjadikanku Ibumu dan menjadikan
Ayahmu sebagai orang tua lelakimu nak…. Maafkanlah dia…” itu adalah kata-kata
terakhir Ibunya sebelum akhirnya ia pergi selama-lamanya karena kanker . Reisya
menjerit saat Ibunya menutup kedua matanya tanpa orang sangat dicintainya
berada disebelahnya.
Reisya menarik nafas dalam-dalam. Menatap kembali
bapak tua itu yang kini sedang berjalan tertatih menuju tempat wudlu. Ia jadi
teringat dulu ia berjalan selama tiga hari mencari Ayahnya dan menemukan
Ayahnya dikompleks para kupu-kupu malam. Ia
masih teringat bagaimana Ayahnya mengabaikannya dan tak menghiraukan surat dari
rumah sakit yang meminta tanda tangan Ayahnya untuk prosesi pemakaman ibunya.
Jika mengingat itu semua, amarah Reisya meledak. Namun, kini Reisya semakin
bingung apa yang harus ia lakukan, selama empat tahun ini ia telah tinggal
sendiri, hidup sendiri tanpa uang sepeserpun dari Ayahnya. Empat tahun ini pula
Reisya enggan menemui Ayahnya, ia selalu lari jika ayahnya datang menemuinya,
ia selalu bersembunyi didalam kamar kostnya jika ayahnya datang. Reisya juga
sudah banyak mendengar bahwasannya kini Ayahnya telah berubah. Namun, Reisya
tak percaya. Reisya tak mau kembali kerumahnya
lagi, karena rumahnya yang dulu hanya akan membuka kembali luka dihatinya. Namun, melihat bapak tua itu, Reisya jadi
merindukan Ayahnya, bagaimanpun juga Reisya adalah anak kandung satu-satunya,
dan sewaktu kecil ia menjadi anak yang paling disayang oleh Ayahnya…
“Sya..” Panggil seseorang. Reisya menoleh seketika
dengan matanya yang merah, menatap Adit yang memandangnya penuh sayang dan
cinta. Hati Adit semakin teriris melihat mata Reisya, meski Reisya tak pernah
cerita mengenai hidupnya, namun Adit mengerti betul kesedihan yang dipendam Reisya,
Adit semakin ingin memeluknya, menjadikannya halal untuknya, menghapus
kesedihannya dan menyayangi Reisya yang tegar dan kuat selamanya. “Mau sholat
berjamaah?” Tanya Adit dengan suara yang parau karena ia menahan air matanya.
Reisya menatap Adit dalam. Ia ragu-ragu namun ia ingin sekali sholat, ia
menatap dalam-dalam masjid dihadapannya itu,
lalu kembali menatap Adit, pemuda yang selama ini menemaninya dengan tulus,
pemuda yang tak pernah banyak bertanya dan menyalahkan sikap Reisya yang angkuh
dan egois kepada Ayahnya. Pemuda yang mulai masuk kedalam hatinya, pemuda yang
juga sebenarnya telah berhasil meluluhkan hati Reisya. Reisya tak pernah ingin
lemah dihadapan siapapun, namun dihadapan Adit ia ingin berbagi apa yang ia
rasakan.
“Sya.. didalam Insya
Allah kau bisa tenang…” Ucap Adit lembut, seketika itu pula air mata Reisya
kembali banjir dan Adit bingung seketika. Reisya tak pernah menyangka bahwa
kalimat yang didengarnya barusan itu berasal dari Adit. Dulu, saat ia berumur
enam tahun, Ibunya mengajaknya masuk kedalam
masjid. Waktu itu Reisya enggan masuk karena banyak orang, namun ibunya
berkata, bahwa didalam masjid ia akan menjadi tenang. Waktu itu Reisya yang
masih sekolah ditaman kanak-kanak pulang dalam
keadaan menangis karena teman-temannya mengatainya dengan kata-kata kotor,lalu ibunya mengajaknya kemasjid,
dan itu adalah kali pertama Reisya pergi kemasjid
dan selalu tenang didalamnya. Dan kalimat yang sama itu kini terdengar kembali,
namun bukan dari Ibunya, melainkan dari Adit. Reisya berdiri. Adit masih
bingung. Reisya ingin memeluk Adit, namun Reisya malu dan ia sadar bahwa ia
belum halal untuk Adit. Reisya mengangguk lemah kepada Adit dan ia lalu pergi
berwudlu. Adit lalu bertasbih kepada Ilahi melihat perubahan sikap Reisya.
Selama empat tahun ini Adit telah jatuh hati kepada Reisya karena suara Reisya
yang merdu saat ia membaca surat Ar Rahman dan menjadikannya juara tartil di
SMUnya dulu. Sejak itu Adit selalu memperhatikan Reisya, kebaikan-kebaikannya,
kecerdasannya, sikapnya yang tegar dan gigih. Dan Reisya yang kuat dan tangguh.
Salah satu takmir masjid menunjuk Adit untuk menjadi
imam. Adit ragu-ragu namun ia ingin sekali. Akhirnya sebelum ia melangkah maju
ke posisi imam, ia menoleh kearah Reisya, dan
Reisya mengangguk kepadanya. Gadis itu terlihat cantik sekali dengan mukenah
putih yang ia kenakan. Dan hati Adit kembali bergetar menatap Reisya. Adit lalu
maju kedepan dan memulai takbir.
Suara Adit lantang dan merdu saat ia membaca surat Al
Fatihah dengan tajwid yang sempurna. Lalu tanpa diduga Adit memilih membaca
Surat Ar Rahman sebagai surat dirakaatnya yang
pertama. Air mata Reisya kembali tumpah, hatinya berdegup kencang saat ia
menghayati surat kesayangan Ibunya dan dirinya itu dibaca oleh pemuda yang
telah mampu meluluhkan hatinya. Ia tak pernah menyangka bahwa ia akan mendengar
surat itu hari ini, disubuh ini, dan dilantunkan
pula oleh pemuda yang mulai ia cintai. Ia semakin mencintai dan menyayangi
Adit, bukan sebagai teman, melainkan sebagai seorang lelaki dewasa.
Seusai salam, Reisya memandang Adit dari tempatnya
dengan penuh kasih dan sayang. Ia mencintai Adit karena keteguhannya, karena
kesetiaanyya kepadanya yang acuh, karena kesolehannya dan karena Adit lah yang
mulai menyadarkannya. Reisya lalu mengalihkan pandangannya kearah bapak tua
yang masih saja dalam posisi sujud. Beberapa orang memperhatikan sujud bapak
tua tersebut yang mulai terasa janggal. Tetapi, tidak ada yang berani
mengganggunya sampai akhirnya Adit menutup doa dan bapak tua itu masih dalam
posisi sujudnya. Akhirnya dengan keberanian salah seorang dari makmum , seorang pria paruh baya menggoyangkan tubuh
bapak tua itu dan begitu terkejutnya semua orang didalam
masjid itu termasuk Reisya dan juga Adit. Bapak tua itu terjatuh dengan mata
yang tertutup dan senyum ikhlas yang terpampang rapi diwajahnya. Adit dengan
sigap memeriksa kondisi bapak itu.
“Innalillahi wainna ilaihi roji’un” Ucap Adit pasrah.
Hati Reisya meloncat kaget, bapak tua itu meninggal dalam posisi sujudnya.
Subhanalloh…. Air mata Reisya kembali mengalir. Dan kali ini Reisya semakin
takut kalau ia akan kehilangan Ayahnya…
***
Reisya dan Adit berdiri diambang
pintu rumah Reisya yang megah. Reisya ragu-ragu untuk memasuki rumahnya itu,
namun karena Adit berdiri tegap disebelahnya,
keragu-raguannya hilang seketika. Saat Reisya hendak melangkah kembali, begitu
terkejutnya ia saat ada seorang gadis muda keluar dari rumahnya. Amarahnya
kembali memuncak dan fikirannya mulai penuh dengan hal-hal yang negetif tentang
Ayahnya. Ternyata rumor mengenai Ayahnya yang telah berubah tidak benar!
Pikirnya. Reisya seketika berbalik dan..
“Adit!” ia mendengar ada seorang yang memanggil Adit.
Reisya kembali berbalik dan mendapati gadis muda tadi berlari kearahnya dan
juga Adit. Gadis itu tersenyum melihat Adit, sedang Reisya jijik melihatnya.
Adit mengerutkan kening mencoba mengingat-ingat siapa gadis yang berlari kearahnya. Gadis itu sampai dan ingin memeluk Adit,
namun Adit dengan sigap menolak pelukan gadis itu. Reisya semakin melotot
melihat gadis itu dan tingkahnya yang genit. “Dit.. ini gua Neti, sahabat loe
kecil! Leo Adit kan? Praditya Amuja? Universitas Indonesia jurusan kedokteran?”
Tanya gadis itu. Adit mengangguk lemah sembari mengingat-ingat gadis itu. Adit
lalu teringat seketika saat Adit memerhatikan tahilalat
di telapak tangan gadis itu.
“Neti, kamu, Aneti Seisa Rahardja?” Tanya Adit, dan
gadis itu mengangguk pelan. “Kenapa kamu ada disini?”
Tanya Adit. Lalu gadis itu menceritakan bahwa ia dan keluarganya sudah dua
tahun ini pindah kesini. Begitu terkejutnya
Reisya saat mendengar kenyataan bahwa rumahnya telah dijual oleh Ayahnya. Lalu
gadis itu juga memberitahu pemilik rumahnya itu yang dahulu sekarang tinggal dimana. Tanpa membuang-buang waktu Reisya dan Adit
lalu pergi mencari alamat yang diberikan gadis
itu.
***
Adit dan Reisya tiba di sebuah rumah yang besar namun
tak mewah, dengan halaman yang luas dengan papan nama yang tertulis “PANTI
ASUHAN REISYA DAN ALIYA” Reisya ternganga membaca namanya dan nama ibunya itu.
ia lalu melayangkan pandangannya kepada rumah itu. Diberanda
rumah itu terdapat seorang lelaki paruh baya yang duduk diatas kursi roda sedang membacakan buku yang dihadapannya terdapat sekitar duapuluh hingga tiga
puluh anak-anak. Reisya lalu berlari menuju kesana. Sesampainya disana, ia berdiri terkejut memandang ayahnya yang
duduk diatas kursi roda. Tanpa pikir panjang
Reisya lalu berlari memeluk Ayahnya.
“Ayah.. maafkan Reisya..” ucap Reisya terisak. Ayahnya
memeluk Reisya erat sekali. Dalam hati, ia bersyukur sekali bahwa putri yang
amat disayanginya telah kembali, bahwa bukan Reisya yang semestinya minta maaf
kepadanya, melainkan dirinyalah yang seharusnya minta maaf kepadanya…Adit
tersenyum dan juga menangis bahagia untuk gadis yang dicintainya.
***
Hari ini hari yang begitu cerah dihati Reisya. Reisya terlihat cantik sekali dalam
busana muslim kebaya putih. Ia melihat dirinya dicermin.
Ia tak pernah menyangka bahwa ia akan melangsungkan pernikahan sederhana disebuah panti asuhan milik ayahnya. Dihalaman rumah penuh berjejer mobil-mobil mewah milik
kolega-kolega bisnis Ayahnya. Lalu pintu kamarnya terbuka, seorang sahabatnya
masuk, menggandeng tangannya dan menggiringnya keluar.
Reisya memandang Adit sejenak, sebelum akhirnya ia
duduk disebelah Adit. Dihadapnnya duduk Ayahnya
yang siap menikahkannya dengan Adit. Dua orang lelaki itu saling berjabat
tangan mengucapkan janji dihadapan para malaikat
atas nama Allah, dan tanpa diduga oleh Reisya, Adit membacakan surat Ar Rahman
sebagai maharnya untuk Reisya. Reisya menangis disetiap
ayat yang terlantunkan sebagai maharnya itu. Ia merasa bahwa ibunya turut hadir
dipernikahannya. Ayahnya terharu saat Adit
membacakan surat itu, ia kembali teringat akan istrinya. Istri yang telah
disia-siakannya. Dan kini ia berjanji bahwa ia tak akan pernah menyia-nyiakan
putrinya.
Fabiayyi ala irobbikumma tukadziban
Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang kau dustakan
Ket: Gambar sekadar ilustrasi yang diambil dari google.com
[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]

Comments
Post a Comment