Cerpen Resa Abdullah*)
Hari Senin awal pekan baru di bulan yang baru dan di tahun
yang baru 1980. Adi berangkat ke sekolah dengan semangat yang baru. Ia selalu
datang nomor satu setidaknya selalu di bilangan sepuluh. Meskipun hari itu
bukan hari tugas piket menyapu. Jalan tanah tak berbatu berpagar bambu. Teduh
sejuk segar udara pagi mengiringi langkah Adi yang nyeker menuju samudera ilmu. Semburat keemasan sinar matahari
menyelinap menghangatkan di sela dedaunan dan ranting pohon. “Pagi indah surya
bersinar memancar sepanjang hari. Tuhan, engkau baik hati menghangatkan hidup
kami. Sekarang sepanjang hari...” lirih suara Adi bernyanyi.
“Selamat pagi, Pak Yoso!” salam Adi pada penjaga sekolah
saat membuka pintu kelas tiga bertepatan dengan kedatangan Adi.
“Pagi Adi, kamu piket ya hari ini?” balik tanya Pak Wiyoso
dengan bahasa Indonesianya yang medok.
“Tidak, Pak. Sudah biasa seperti Bapak, biasa berangkat pagi
kan?” jawab Adi yang mengandung pujian. Pak Wiyoso pun tersenyum sambil berlalu
membuka pintu kelas lainnya dan membuat minuman teh untuk para guru. Adi
menaruh buku di bangku berbahan kayu jati mengkilap vernis cokelat tua
kehitaman berlapis dangkal saking tuanya. Di deretan bangku di tengah kelas,
sekejap mata kemudian ia sudah di pelataran sekolah di bawah pohon jambu mete.
“Kring-kring-kring…” bunyi sepeda tromol Pak Warsito.
“Selamat pagi, Pak Guru!” salam Adi berjalan sembari
mendekati guru kelasnya itu yang akan memarkir sepedanya tepat di bawah dan
menyandar di batang pohon jambu mete. Setelah mencium tangan, Adi segera
menenteng tas kulit sapi warna cokelat milik Pak Warsito ke ruang guru.
Pak Warsito adalah sosok guru yang paling ditakuti. Badannya
tinggi besar, galak dan tegaan. Tak
segan tangannya menjewer kuping atau menarik athi-athi kami anak muridnya sampai pedas kalau berbuat salah.
Bahkan kalau sampai diberi tugas menghafal peta buta atau tidak becus berhitung
setelah diajarkannya berulang-ulang, terkadang penuding bambunya bersarang
mulai dari tangan hingga kepala.
“Anak-anak, di kelas tiga ini kita akan belajar hitungan
matematika tentang perkalian sampai pembagian. Kalian sudah belajar penjumlahan
dan pengurangan di kelas dua. Perkalian kita pelajari terlebih dahulu, karena
pembagian itu lebih sulit,” tegas Pak Warsito.
Beliau terus menjelaskan dengan gamblang dan Adi menyimak
dengan penuh perhatian. Sementara ada saja temannya yang main lempar kertas
atau potongan kapur ketika beliau menghadap papan tulis. Sesekali mereka
ketangkap basah dan tak ayal jeweran dan satu dua tiga kali penuding itu
bersarang di kepala. Seperti Iswanto alias semplo kali ini, yang tengah
bermain-main melempar kertas buntelan ke Untari.
“Kalian harus memerhatikan ketika diterangkan, sampai
betul-betul jelas dan bisa mengerjakan soal-soal. Kalian juga harus mampu
menghafal hasil perkalian dua bilangan dibawah sepuluh. Pak Guru sudah ajarkan
bagaimana caranya menggunakan sepuluh jari tangan kita untuk hitungan perkalian
itu. Pak Guru juga sudah sampaikan hitungan matematika yang paling sulit adalah
pembagian. Kalian harus hati-hati. Operasikan dulu sesuai urutannya PIPOLONDO. Ping-Poro-Lan-Sudo. Perhatikan tanda
kurungnya! Sehingga hitunganmu tidak akan salah,” Pak Warsito menyimpulkan.
* * *
“Pipolondo dengan operasi hitungan menggunakan tanda kurung
buka dan tutup serta bilangan bulat positif dan negatif melewati nol sebagai
titik netral ditambah dengan bumbu pedas jeweran Pak Warsito apalagi panasnya
pukulan penuding bambunya yang membuat milur telah mengantarkan aku masuk ke
SMP terbaik, SMA terbaik dan perguruan tinggi Negeri terbaik”. Cerita Adi
kepada Kusnandar, MH temannya yang telah menjadi anggota legislatif dua periode
dari partai Islam.
“Bilangan negatif dan positif itu pulakah yang
menginspirasimu memilih jurusan teknik elektro, sehingga sekarang telah mampu
menyumbangkan karya membuat piranti sensor dini gempa dan tsunami?” tanya
Kusnandar.
“Absolutly, yes!
Tetapi sekarang terhadap antum
sebagai kawan, tidak mungkin aku mengajarimu dengan jeweran apalagi pukulan.
Sekali tendang ane pasti kalah oleh antum. Ane hanya mengingatkan, karena antum
bukan dari jurusan exacta, maka
berhati-hatilah dengan hitungan. Banyak saudara-saudara kita antipati terhadap
partai bahkan institusi DPR. Meskipun tidak semua aleg itu jelek, masyarakat
kita tidak mau tahu. Mereka berharap DPR itu semuanya orang baik dan cerdas
lagi pintar. Tetapi jangan sampai kepintarannya itu untuk minteri rakyat. Bilangnya demi rakyat, tetapi menumpuk kekayaan
sendiri. Tak lagi peduli kanan-kiri. Bahkan yang telah melandasi dakwah ini
tanpa meminta ataupun menerima gratifikasi bahkan sampai sekarang masih makan
sekadar nasi lauk terasi. Kurung itu harus jelas mana yang harus antum pisahkan dan keluarkan haknya.
Kalau belum jelas tanyakan pada pakarnya. Insya Allah antum akan tetap selamat. Dan hasil kerja kita bernilai ibadah
dunia dan akhirat. Konstituen pun akan senantiasa mendoakan dan membela di kala
fitnah mendera tanpa antum harus
meminta apalagi menghiba. Jangan sampai kasus aleg “JP” menimpa antum. Sebelum Mei 2009 selalu
membacakan ayat-ayat yang tegas memberondong dan mengkritisi. Namun sekarang
setelah menikmati empuknya kursi semua ayat serba toleransi. Tak tahu batas
kurung operasi hitung. Bahkan semua mau dimasukkan kantung karungnya
sebagaimana dulu selagi masih juragan sapi. Na’udzubillaahi
mindzalik”.
* * *
“Sebelum ane
berangkat ke Australia, pesan ane: Ane akan selalu datang ke antum membawa aspirasi dengan cara yang
berbeda dan mungkin tidak pernah antum
sangka. Karena logika dan semesta kita berbeda. Ane akan mengikuti terus perkembangan antum seirama gelombang transfersal dan longitudinal di masyarakat.
Ia akan terus eksis sampai ukuran limit diferensial dan integral. Hitungan pipolondo-ku bisa saja meledakkan
kesabaranmu bagai reaksi fisi dan fusi nuklir akibat tembakan newtron yang
hanya bergerak lambat. Sekarang apa pesan antum
pada ane?” pinta Adi pada Kusnandar.
Dengan mata basah Kusnandar memeluk Adi sambil terisak
berbisik. “Selamat berjuang akhi.
Kita sama-sama berjuang. Ingatkan ane
terus, untuk menepati janji setia perjuangan kita. Ane suka cara antum. Antum bisa melihat bagaimana ane saharusnya. Karena ane adalah antum dan antum adalah ane. Nahnu
dhu’at qobla kulli syai’. Uhibbuka
fillaah…”
Pesawat Qantas mulai mendesing. Semua penumpang dari Jakarta
tujuan Sydney harus boarding. Adi pun
melepaskan pelukan Kusnandar sambil menepuk bahu belakang. “Good Luck!!! Keep in touch!”
*) Resa Abdullah,
anggota FAM Jerman (IDFAM 1040U), Memory in
Sunshine Coast Queensland, Australia 2010.
Keterangan:
pipolondo: pipa cerutu untuk menghisap tembakau/rokok.
nyeker: telanjang kaki tanpa sepatu
medok: melekat kuat logat/dialek Jawa
dangkal: kotoran/kerak yang menempel karena keringat
kuping: (daun) telinga
athi-athi: rambut jambang depan telinga
semplo: satu nama alias untuk panggilan
buntelan: kertas diremas membentuk bulatan bola kecil
milur : bekas pukulan pada kulit (otot) daging yang
membengkak
exacta: jurusan IPA
[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]

Comments
Post a Comment