Cerpen ini bercerita tentang seorang pemuda yang bekerja
sambilan sebagai seorang sales. Ia melakukan semua itu karena membutuhkan uang
untuk biaya sekolahnya. Maka pekerjaan yang membutuhkan mental dan kesabaran
yang kuat itu dilakukannya.
Cerita ini cukup pendek. Konfilk dan klimaks cerita kurang
terasa. Beberapa kesalahan dapat ditemui terutama dalam penulisan EYD dan
dialog. Teknik penulisan dialog yang benar adalah sebagai berikut:
1. Akhir dialog diakhiri dengan tanda baca (titik, koma, tanya,
seru) lalu ditutup dengan tanda petik
2. Jika dialog diakhiri dengan tanda baca koma, maka huruf
pertama setelah tanda petik adalah huruf kecil. Namun jika diakhiri dengan
tanda baca titik, tanya dan seru, maka huruf pertama setelah tanda petik menggunakan
huruf besar.
Sisi positifnya, secara tersirat cerpen ini mengajarkan
kepada kita untuk pantang menyerah mengejar apa yang kita impikan. Meski harus
berjuang keras, mengesampingkan rasa lelah yang terus mendera. FAM berharap
penulis terus berlatih agar kualitas tulisan semakin membaik.
Salam santun, salam karya!
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.blogspot.com
[BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM
INDONESIA]
Mengukir Impian
Mengejar Cita
Oleh Ahmad Dasri
IDFAM1017U, Padang,
Sumatera Barat
“Ah ... sudahlah, kalau memang nasib baik takkan kemana”
pasrahku dalam hati sambil menghentikan lamunan yang dari tadi membawaku entah
kemana,kutenteng tas besar berisi barang dagangan yang hendak kubawa keliling
kota itu untuk dijual. “Salesman”, ya .. itulah profesi yang kugeluti saat
duduk di bangku sekolah menengah di kota ini, setelah pindah sekolah dari
kampungku.
“Assalamu ‘Alaikum kak, buk”, begitu awal pembicaraan yang
diajarkan seniorkuuntuk membuka pembicaraan dengan customer. Ada yang menjawab
salam, ada yang diam saja dan bahkan ada pula yang cuek dan tidak menoleh sama
sekali. “Permisi sebentar kak, buk”, “boleh nggak saya minta waktunya sebentar?,
ini saya ada bawa perlengkapan untuk keperluan ibuk dan kakak sehari-hari,
siapa tau nanti ada minat atau sekedar liat-liat barangkali juga nggak apa apa”
kata kata itu selalu kuhafalkan untuk menawarkan barang dagangan pada
customer.“Senyum dan sabar jadi modal yang sangat penting” begitu seniorku
menambahkan.
Sepulang sekolah, siang itu cuaca cukup bersahabat, kuteguk
segelas air putih dan sepotong roti kelapa sambil mengumpulkan energi yang
tersisa untuk mencari biaya semesteran yang tinggal seminggu lagi harus dibayar
sebagai syarat ujian akhir.
Pampangan, nama sebuah kelurahan kecil di kota
itukuputuskansebagai sasaran lokasi untuk menjajakan barang daganganku hari
itu, emak-emak dan anak gadis yang duduk di beranda rumahnya, entah ngegosip
atau sekedar bercengkerama akanmenjadi pusat perhatian untuk customer yang akan
dihandle karena jenis produk yang dijual umumnya buat perempuan.
Kurogoh saku celana, masih ada lima ribu perak.“Cukuplah
untuk ongkos” pikirku. Sesampai di lokasi, dari Rumah ke rumah aku tenteng tas
besar itu berharap ada customer yang membeli, terik matahari bukan main
garangnya membakar kulit sawo matangku.Kali ini pandanganku tertuju pada
seorang ibuk separuh baya tengah bersantai di halaman rumahnya sambil membaca
surat kabar, pagar rumahnya cukup tinggi namun tidak terkunci. Seperti biasa,
aku minta izin sama pemilik rumah sebelum masuk.
“Assalamu ‘alaikum” ucapku menyapa.
“Wa ‘alaikum salam” jawab ibu itu sambil menghentikan
bacaannya dan melihat ke arahku.
“Ada apa dik, silahkan masuk” tambahnya lagi dengan ramah.
Aku buka pintu pagar rumahnya yang tinggi itu dan menutupnya
kembali lalu masuk untuk menemui. Baru berjalan sekitar tujuh atau delapan
langkah ke depan, tiba tiba dua ekor anjing herder menggonggong ke arahku
bahkan langsung mengejarku. Saking takutnya, tanpa pikir panjang aku langsung
melempar tas besar lagi berat itu ke luar pagar dan langsung melompat pagar dan
berlari sekencang-kencangnya. Kuurungkan niat untuk kembali ke rumah itu meski
pemilik rumah itusudah mengusirnya.Setelah berlari beberapa jauh dari rumah itu
“Kok bisa ya, pagar setinggi itu bisa kulompati dan tas seberat ini terasa
ringan seketika” pikirku dalam hati, heran.
Seminggu berlalu menjelang ujian akhir, Alhamdulillah biaya
semesteran bisa dilunasi dan aku bisa mengikuti ujian akhir seperti
teman-temanku yang lain. Uhhh ... Lega sekali rasanyaJ
Minggu depan Raport dibagikan, kali ini tidak akan lagi
seperti biasanya waktu belajar di bangku Sekolah Dasar, mamak (Ibu) akan datang
ke sekolah mengambil raportku, mamak akan belikan hadiah 1 buah tas kalau aku
meraih Juara I, 1 kodi buku paperline kalau meraih Juara II, dan sebutir telur
ayam plus “upa upa” (culture batak) kalau dapat Juara III, tapi perjalanan
waktu menuntutku berperan lebih menghadapi semuanya. Sebuah piala mungil
kuterima dari kepala sekolah. Sedih namun bahagia suasana hati bercampur saat
itu. betapa tidak, kali ini bukan mamak yang terima. “Mak, andai mamak ada
disini, aku akan kasih piala ini untuk mak” gumamku dalam hati, rasa sedih dan
bahagia bercampur jadi satu.Tangisan tak mampu kubendung saat menerima piala
itu, disambut peluk hangat dari Ibu Kepala Sekolahyang mencoba menghentikan
tangisanku.
Sumber foto:
Google.com
[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]

Comments
Post a Comment