Cerpen “Impian” ini bercerita tentang kegigihan seseorang
untuk mewujudkan cita-citanya. Pada awalnya Rina mendapat tentangan yang begitu
keras dari ibunya. Namun secara perlahan tapi pasti, waktu yang berbicara. Hati
seorang ibu pun akan tersentuh, melihat sang anak bersungguh-sungguh.
Bukti itu memang diperlukan untuk meyakinkan orang-orang
yang kita kasihi bahwa apa yang kita lakukan ini adalah demi kebahagiaan
mereka. Dalam hal ini, Rina telah membuktikannya dengan menjadi pemenang juara pertama
menulis novel.
Cerpen ini mengingatkan kita akan kebenaran firman Allah SWT:
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah
kesulitan itu ada kemudahan.” (QS 94:5-6)
Berikut ini beberapa koreksi agar cerpen ini menjadi lebih
sempurna:
1. bersebrangan seharusnya ditulis: berseberangan
2. berfikir seharusnya ditulis: berpikir
3. “Sampai kapan kamu diambegini Rin?” Pertanyaan mamah
mengerutkan dahiku. Seharusnya ditulis: “Sampai kapan kamu diam seperti ini,
Rin?” Pertanyaan Mama membuatku mengerutkan dahi.
4. “Maksud mamah?” Aku menatap mamah mencoba menerka arah
pembicaraan ini. Seharusnya ditulis: “Maksud mama?” Aku menatap mama, mencoba
menerka arah pembicaraan ini.
5. “Kamu ini sarjana rin. Janganlah kamu sia-siakan dengan
seperti ini. Apa kamu tidak ingin bekerja seperti kebanyakan orang?”
Seharusnya ditulis: “Kamu ini sarjana, Rin. Janganlah kamu
sia-siakan dengan "menganggur" seperti ini. Apa kamu tidak ingin
bekerja seperti kebanyakan orang?”
6. “Rina kan sudah bekerja mah”
Seharusnya ditulis: “Rina kan sudah bekerja, Ma....”
7. mamah, seharusnya: Mama
8. ...mamah sebenarnya tidak setuju. Tapi karena aku...
Seharusnya ditulis: ...Mama sebenarnya tidak setuju, tetapi
karena aku...
9. tapi sampai sekarang aku belum juga bisa membuktikan
penerbitan impianku. Dan aku masih saja menjadi penulis biasa.
Seharusnya ditulis: Sampai sekarang pun aku belum juga bisa
mendirikan penerbit buku impianku. Aku masih saja menjadi penulis biasa.
10. Sebenernya bisa saja aku membentuk penerbitan sekarang.
Tapi tak akan seperti konsep yang aku impikan.
Seharusnya ditulis: Sebenarnya bisa saja aku mendirikan
penerbit buku sekarang, tetapi tak kan seperti konsep yang kuimpikan.
11. Tapi aku yakin dampaknya tidak akan baik dalam jangka
panjang.
Seharusnya ditulis: Namun hati kecilku mengatakan kalau dampaknya
kurang baik untuk jangka panjang.
12. sekedar, seharusnya ditulis: sekadar
13. Mencoba memikirkan rangkaian kata yang akan aku
sampaikan.
Seharusnya ditulis: ..., mencoba memikirkan rangkaian kata
yang akan kusampaikan.
14. ...handphone di saku menghamburkan konsentrasiku.
Seharusnya ditulis: ...handphone di saku membuyarkan
konsentrasiku.
15. Cepat-cepat aku membuka sms di Handphone ku bergelanyut
penasaran.
Seharusnya ditulis: Cepat-cepat kubuka SMS di handphone yang membuatku penasaran.
16. Dengan minim nya dana yang kami miliki,buletin itu masih
bisa terus hidup sampai bisa aku wariskan ke adik-adik angkatan.
Seharusnya ditulis: Dengan minimnya dana yang kami miliki,
buletin itu masih bisa terus bertahan hidup hingga dapat kuwariskan ke
adik-adik angkatan.
17. Baru akhirnya banyak sponsor yang mendatangi kami untuk
iklan di buletin yang kami rintis sempoyongan.
Seharusnya ditulis: Akhir-akhir ini memang banyak pihak
sponsor yang datang untuk beriklan di buletin yang dengan susah payah kami
rintis.
18. “Ayuk kita ikut. Masih ingatkan dengan mimpi kita
menciptakan dunia dengan tinta?”
Seharusnya ditulis: “Ayo kita ikut! Masih ingat, kan...
dengan mimpi kita untuk mewarnai dunia dengan tinta?”
19. Dari dulu dia lah yang mampu menyaingiku soal per-mediaan.
Seharusnya ditulis: Dari dahulu memang hanya ia yang mampu
menyaingiku bila berbicara tentang media.
20. “Ada apa rin? Tadi manggil mamah, kenapa sibuk dengan
HP?”
Seharusnya ditulis: “Ada apa, Rin? Tadi memanggil mama, lalu
mengapa sekarang asyik dengan HP?”
21. “oh, tidak mah. Rina berangkat dulu ya mah.
Assalamualaikum” Buru-buru aku mencuim tangan mamah. Untunglah mamah tidak
menanyaiku lagi macam-macam.
Seharusnya ditulis: “Oh, tidak ada apa-apa, Ma. Rina
berangkat dulu ya, Ma. Assalamualaikum.” Secepat kilat kucium tangan Mama.
Untung saja ia tak lagi menanyaiku.
22. Sampailah aku di mushola apung. Tempat penyendirian
favouritku. Kubuka laptop ungu kesayanganku. Sekitar lima belas menit akhirnya
ku dapatkan tulisan yang lama tersimpan. Ciptakan Dunia Dengan Tinta. Inilah
judul novel yang menjadi saksi bisu perjalanan hidupku.
Seharusnya ditulis: Sampailah aku di musala terapung. Tempat
favoritku untuk menyendiri. Kubuka laptop ungu kesayanganku. Sekitar lima belas
menit akhirnya kudapatkan tulisan yang lama tersimpan. "Ciptakan Dunia
Dengan Tinta". Inilah judul novel yang menjadi saksi bisu perjalanan
hidupku.
Judul novel boleh ditulis miring atau diapit tanda "dan".
23. Matahari semakin mendekat sembunyi di bagian bumi barat.
Cahaya kuning pun menyadarkanku hari sudah sore.
Seharusnya ditulis: Mentari beranjak menuju peraduannya.
Semburat senja menyadarkanku segera.
24. Ya ALLAH, ijinkan aku membuat bangga orang tuaku.
Seharusnya ditulis: Ya Allah, ijinkanlah aku membahagiakan
kedua orangtuaku.
25. “Rin, pertanyaan mamah kemarin belum kamu jawab”
Seharusnya ditulis: “Rin, pertanyaan Mama kemarin belum kamu
jawab?”
26. Aku tak tahu harus aku jawab apa. kali ini aku tak bisa
menghindar dari mamah lagi.
Seharusnya ditulis: Aku tak tahu harus menjawab apa. Kali
ini kutak bisa menghindari Mama lagi.
27. Aku tak mau, sungguh aku tak ngin jadi dosen.
Seharusnya ditulis: Aku tak mau!!! Sungguh, kutak ingin
menjadi dosen.
28. “iya...iya mah” Jawabku gagap. Dadaku bergemuruh. Apa
yang harus aku katakan pada mamah.
Seharusnya ditulis: “Iya.... Iya, ma....” Jawabku tergagap.
Dadaku bergemuruh. Apa yang harus kukatakan kepada mama. (Batinku berperang)
Boleh ditambahkan kata-kata di dalam tanda kurung.
29. “Rina masih ingin membangun penerbitan mah”
Seharusnya ditulis: “Rina masih ingin membangun bisnis
penerbitan, Ma....”
30. “Waalaikumsalam” Jawabku membalas senyum sahabat yang
lama tak aku jumpai itu.
Seharusnya ditulis: “Waalaikumsalam....” Jawabku membalas
senyum sahabat yang lama tak kujumpai itu.
31. Gayanya yang lugas, cerdas dan sopan disetiap diskusi
dengannya membuatku diam-diam mengaguminya.
Seharusnya ditulis: Gayanya yang lugas, cerdas, dan sopan di
setiap diskusi dengannya membuatku diam-diam mengaguminya.
32. Ia memelukku dengan erat, hangat.
Seharusnya ditulis: Ia memelukku erat-erat.
33. Ku sambut pelukan cintanya.
Seharusnya ditulis: Kusambut pelukan cintanya.
34. Ku usap tetesan air matanya.
Seharusnya ditulis: Kuusap tetesan air matanya.
35. Suara mamah memecah kehengingan sore itu. Menyadarkan
kami tidak sedang berada diatas awan.
Seharusnya ditulis: Suara mama memecah keheningan sore itu.
Menyadarkan kami agar tidak berada di atas awan.
36. Aku dapat hadiahnya 1M Rin. Besok aku diminta datang
menemui direkturnya. Uang itu bisa kita jadikan modal awal membanghun
penerbitan Rin”
Seharusnya ditulis: Aku dapat hadiah satu miliar, Rin!!!
Besok aku diminta datang menemui direkturnya. Uang itu bisa kita jadikan modal
awal untuk membangun penerbitan, Rin.”
37. Selama ini aku mengira dia pergi meninggalkan aku dan
mimpi kami. Tapi ternyata tak pernah sekejap pun dia melupakannya. Sekian lama
aku telah menuduhnya. Senang dan perasaan bersalah menggelanyuti ku.
Seharusnya ditulis: Selama ini kukira dia pergi
meninggalkanku. Tapi ternyata tak pernah sekejap pun dia melupakannya. Sekian
lama aku telah menuduhnya. Perasaan senang dan bersalah menghantuiku.
37. Atau, kamu berubah fikiran?” matanya menelisik ke
arahku. Mecari-cari apa yang ada dihatiku.
Seharusnya ditulis: Atau, kamu berubah pikiran?” Matanya
menelisik ke arahku. Mencari-cari apa yang ada di hatiku.
38. “Aku belum ada uang sebanyak itu. Aku tidak bisa jika
tidak menyumbang modal”
Seharusnya ditulis: “Aku belum ada uang sebanyak itu. Aku
tidak bisa jika tidak menyumbang modal (sedikitpun).” Perhatikan tanda titik.
39. Ternyata sudah tiga kali menelfonku dan tak aku angkat.
Seharusnya ditulis: Ternyata sudah tiga kali menelepon dan
belum kuterima.
40. “iya”
Seharusnya ditulis: “Iya.”
41. “Saya Citra dari Nukasya Press. Novel Ibu telah terpilih
menjadi Juara Satu di Sayembara Novel yang kami adakan. Presiden Direktur kami
ingin menemui anda besok jika ibu berkenan.”
Seharusnya ditulis: “Saya Citra dari Nukasya Press. Novel
Ibu telah terpilih menjadi juara satu di sayembara novel yang kami adakan.
Besok presiden direktur kami ingin bertemu, jika Ibu berkenan.”
42. ALLAH tahu apa yang aku butuhkan, dan aku yakin ALLAH
memiliki banyak jalan untuk menjalankan takdir-Nya.
Seharusnya ditulis: Allah Maha Tahu apa yang kubutuhkan, dan
kuyakin Allah memiliki banyak jalan untuk menjalankan takdirNya.
43. Man Jadda Wa jada. Alhamdulillah.
Seharusnya ditulis: Man
jadda Wa jada. Alhamdulillah. (Ditulis miring)
Demikianlah. Terus dan terus berkarya.
Salam santun, salam karya.
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.blogspot.com
[BERIKUT NASKAH
PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]
IMPIAN
Oleh Lya Lutfuntika
IDFAM1013M Anggota FAM Sleman
Aku memang sering bersebrangan dengan cara berfikir
kebanyakan orang. Mereka selalu melihatku terlalu idealis. Yah, itulah komentar
yang sering aku dapatkan dari teman-temanku.
“Sampai kapan kamu diambegini Rin?” Pertanyaan mamah
mengerutkan dahiku.
“Maksud mamah?” Aku menatap mamah mencoba menerka arah
pembicaraan ini.
“Kamu ini sarjana rin. Janganlah kamu sia-siakan dengan
seperti ini. Apa kamu tidak ingin bekerja seperti kebanyakan orang?”
“Rina kan sudah bekerja mah”
Aku terdiam. Menjadi penulis bukanlah profesi yang
menjanjikan secara materi. Dari dahulu mamah sebenarnya tidak setuju. Tapi
karena aku menyatakan mimpiku ke mamah kalau aku akan membangun penerbitan,
mamah tidak bisa memaksaku mencari pekerjaan lain. tapi sampai sekarang aku
belum juga bisa membuktikan penerbitan impianku. Dan aku masih saja menjadi
penulis biasa.
Sebenernya bisa saja aku membentuk penerbitan sekarang. Tapi
tak akan seperti konsep yang aku impikan. Banyak teman yang mengajakku. Tapi
aku yakin dampaknya tidak akan baik dalam jangka panjang. Karena tujuanku
bukanlah sekedar mendapat uang.
“Mah...” aku terdiam sejenak. Mencoba memikirkan rangkaian
kata yang akan aku sampaikan. Belum sampai aku bicara lagi, handphone di saku
menghamburkan konsentrasiku.
Vita??? Tumben dia menghubungiku. Cepat-cepat aku membuka
sms di Handphone ku bergelanyut penasaran.
“Assalamualaikum. Rin, ada sayembara menulis novel. Juara
satu mendapat hadiah 1 M. Bisa buat modal kita bikin penerbitan kalau lolos.”
Kita??? Aku kira dia sudah lupa dengan mimpi yang pernah
kami buat dulu semasa kuliah. Vita lah partnerku satu-satunya membuat buletin
kampus on line. Dengan minim nya dana yang kami miliki,buletin itu masih bisa
terus hidup sampai bisa aku wariskan ke adik-adik angkatan. Baru akhirnya
banyak sponsor yang mendatangi kami untuk iklan di buletin yang kami rintis
sempoyongan.
“Ayuk kita ikut. Masih ingatkan dengan mimpi kita
menciptakan dunia dengan tinta?” Aku membalasnya bernada tantangan sekaligus
harapan. Vita memang partner media yang cocok denganku. Dari dulu dia lah yang
mampu menyaingiku soal per-mediaan.
“Ada apa rin? Tadi manggil mamah, kenapa sibuk dengan HP?”
Nada mamah penasaran melihatku yang senyum-senyum sendiri memencet-mencet HP.
“oh, tidak mah. Rina berangkat dulu ya mah. Assalamualaikum”
Buru-buru aku mencuim tangan mamah. Untunglah mamah tidak menanyaiku lagi
macam-macam.
Sampailah aku di mushola apung. Tempat penyendirian
favouritku. Kubuka laptop ungu kesayanganku. Sekitar lima belas menit akhirnya
ku dapatkan tulisan yang lama tersimpan. Ciptakan Dunia Dengan Tinta. Inilah
judul novel yang menjadi saksi bisu perjalanan hidupku.
Matahari semakin mendekat sembunyi di bagian bumi barat.
Cahaya kuning pun menyadarkanku hari sudah sore. Aku pulang dengan perasaan
senang penuh debar jantung. Oh, kalau aku bisa menjadi juara, aku bisa membuat
penerbitan bersama Vita. Ya ALLAH, ijinkan aku membuat bangga orang tuaku.
“Rin, pertanyaan mamah kemarin belum kamu jawab” Pertanyaan
mamah menahanku di depan pintu. Debaran bahagiapun sekejap berubah diam dan
menjadikanku sesak. Aku tak tahu harus aku jawab apa. kali ini aku tak bisa
menghindar dari mamah lagi. Tak mungkin aku harus membuat mamah sedih dengan
ketidakpastianku. Mamah pasti akan memaksaku mendaftar jadi dosen. Aku tak mau,
sungguh aku tak ngin jadi dosen. Pekerjaan yang akan membuatku tersiksa pasti.
“iya...iya mah” Jawabku gagap. Dadaku bergemuruh. Apa yang
harus aku katakan pada mamah.
“Rina masih ingin membangun penerbitan mah” Akhirnya
kata-kata ini keluar juga. Entahlah apa yang akan dikatakan mamah selanjutnya.
Aku pasrahkan saja keputusan mamah. Meski harus menjadi dosen.
“lalu?” jawab mamah singkat membuatku bingung berdengung
lagi. Apalagi yang harus aku katakan untuk menjawab mamah.
“Rina sedang membangun jaringan mah. Kalau Rina rasa sudah
cukup apa-apa yang diperlukan, Rina akan langsung membangun mah.”
“Kapan targetmu?” Deg. Jantung terasa berhenti mengikuti
diamku. Aku terdiam lama. Mamah melihatku lalu menyeruput secangkir teh yang
dipegangnya dari tadi.
“Assalamualaikum” Suara keras dari luar pagar mengagetkanku.
Aku menengok dan melihat sesosok gadis putih tinggi dengan jilbabnya yang
melambai-lambai disentuh angin. Senyum kecilnya khas menghiasi baby face-nya.
“Waalaikumsalam” Jawabku membalas senyum sahabat yang lama
tak aku jumpai itu. Hampir enam bulan aku tak menemui gadis yang sering kali
membantaiku dalam diskusi. Gayanya yang lugas, cerdas dan sopan disetiap
diskusi dengannya membuatku diam-diam mengaguminya. Bukan tak jarang aku berdebat
kusir dengannya, tapi bukan tak jarang pula aku dan dia pergi tertawa dan
menangis bersama. Yah, dia lah sahabat terbaikku.
“Rina...” teriaknya sambil berlari menujuku. Ia memelukku
dengan erat, hangat. Dia memang tak berubah. Bahkan parfumnya sama seperti yang
di pakainya dulu semasa kuliah. Ku sambut pelukan cintanya. Semakin erat aku
menyambungkan tanganku ke tubuhnya.
Pundakku basah. Aku angkat wajahnya, matanya merah sedikit
bengkak. Ku usap tetesan air matanya. Tak terasa, air pun menetes dari kelopak
mataku. Aku tak sanggup melihatnya menangis. Padahal aku tak punya alasan untuk
menangis. Dan aku pun tak tahu kenapa dia menangis. Ikatan hatiku dengannya
memaksaku untuk merasakan apa yang ia rasakan tanpa ada alasan.
“Kalian ini kenapa? Ketemu kok malah nangis?” Suara mamah
memecah kehengingan sore itu. Menyadarkan kami tidak sedang berada diatas awan.
“Rin...aku tadi ditelfon Nukasya Press. Novelku jadi juara
dua. Aku dapat hadiahnya 1M Rin. Besok aku diminta datang menemui direkturnya.
Uang itu bisa kita jadikan modal awal membanghun penerbitan Rin”
Senyumnya mengembangkan hatiku. Aku bahagia dia ternyata
masih mengingat mimpi yang dulu kami buat. Selama ini aku mengira dia pergi
meninggalkan aku dan mimpi kami. Tapi ternyata tak pernah sekejap pun dia
melupakannya. Sekian lama aku telah menuduhnya. Senang dan perasaan bersalah
menggelanyuti ku.
“Tapi Vi...” Kataku tertahan.
“Kenapa Rin? Kamu masih ingat mimpi kita kan? Atau, kamu
berubah fikiran?” matanya menelisik ke arahku. Mecari-cari apa yang ada
dihatiku.
“Aku belum ada uang sebanyak itu. Aku tidak bisa jika tidak
menyumbang modal”
Vita dan Mamah pun terdiam. Menunduk. Mungkin mereka
memikirkan jawaban apa untukku. Vita memang bukanlah orang yang perhitungan
masalah uang. Tapi dia tahu aku tak bisa mendapatkan sesuatu dengan cuma-cuma.
Suara HP mengalihkan perhatianku.
Nomor siapakah ini? Ternyata sudah tiga kali menelfonku dan
tak aku angkat.
“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam. Apakah ini dengan Ibu Rina?” suara wanita
yang lembut itu membalas. Nada bicaranya seperti dia sudah mengenalku,
menjadikanku penasaran siapakah gerangan.
“iya”
“Saya Citra dari Nukasya Press. Novel Ibu telah terpilih
menjadi Juara Satu di Sayembara Novel yang kami adakan. Presiden Direktur kami
ingin menemui anda besok jika ibu berkenan.”
Dunia memang penuh kejutan. ALLAH tahu apa yang aku
butuhkan, dan aku yakin ALLAH memiliki banyak jalan untuk menjalankan
takdir-Nya. Man Jadda Wa jada. Alhamdulillah.
Ket: Gambar sekadar
ilustrasi, diambil dari google.com
[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]

Comments
Post a Comment