Cerpen “Cappuccinoku Tak Hangat Lagi” ini bercerita tentang
kerinduan seorang anak kepada kedua orangtuanya yang telah tiada. Ia merindukan
hangatnya kebersamaan saat menikmati cappuccino buatan sang Ibu.
Penulis benar-benar merasakan kepiluan yang mengisi ruang
jiwanya, terutama saat ia menerima surat kelulusan Ujian Nasional (UN).
Teman-temannya bergembira dan bahagia menerima surat kelulusan itu bersama
orangtuanya, sementara ia? Tak tahu entah kepada siapa surat kelulusan itu
dipersembahkan. Batinnya berkecamuk.
Dan, puncaknya, ia mengadukan keadaan yang dialaminya kepada
Allah SWT. Jiwanya dilanda duka. Hidupnya dirundung nestapa. Untaian kalimatnya
benar-benar menggetarkan jiwa. Itulah sebait doa yang terucap dari hati penuh cinta.
Ada beberapa majas yang dijumpai pada cerpen ini yang
dipakai penulis untuk berindah-indah di dalam ceritanya. Misalnya majas Prosopopoeia
tampak di dalam kalimat:
“Pikiranku melayang jauh.”
Majas Perifrasis terlihat di dalam kalimat berikut ini:
1. Hhhh… rasanya aku ingin berhenti saja menjadi penghuni
dunia ini.
2. Ayahku, sudah berhenti jadi penghuni dunia ini, 6 tahun
yang lalu. Ibuku sudah 3 tahun yang lalu.
Majas Epistrofa jelas terlihat di dalam kalimat berikut ini:
Sungguh berkecamuk dadaku saat ini Tuhan. Serasa ingin luluh
semuanya, Tuhan. Tak terbendung lagi Tuhan. Jika Engkau masih mengizinkanku
menjadi penghuni dunia ini, mohon berikan aku kekuatan Tuhan.
Untuk sempurnanya cerpen, maka berikut ini koreksiannya:
“Siapa yang datang, nak??” seharusnya ditulis: “Siapa yang
datang, Nak?”
“alumni”, seharusnya “alumnus”
“Aku tahu dari Guru, bahwa aku lulus dalam Ujian Nasional”, seharusnya
ditulis: “Aku tahu dari guru bahwa aku lulus UN (Ujian Nasional)”.
“Nak, ini sudah Ibu ambilkan suratnya. Ibu pulang dulu ya.” Seharusnya
ditulis: “Nak, ini sudah ibu ambilkan suratnya. Ibu pulang dulu ya.”
“Oh… iya Bu. Terima kasih banyak.” Aku menerima surat itu
dan tersenyum.
Seharusnya ditulis: “Oh, iya Bu. Terima kasih banyak,” aku
menerima surat itu dengan tersenyum.
Ayahku, sudah berhenti jadi penghuni dunia ini, 6 tahun yang
lalu. Ibuku sudah 3 tahun yang lalu.
Seharusnya ditulis:
Ayahku sudah berhenti menjadi penghuni dunia ini selama enam
tahun yang lalu, sedangkan ibuku sudah tiga tahun yang lalu.
Mereka menerima surat kelulusan itu dengan penuh suka cita.
Sedangkan aku?? Bukannya aku tidak bersyukur Ibu. Tapi, apa tidak boleh aku
merindu?
Seharusnya ditulis:
Mereka menerima surat kelulusan itu dengan penuh sukacita,
sedangkan aku? Bukannya aku tidak bersyukur, ibu... namun tidak bolehkah
kumerindukanmu?
Sungguh berkecamuk dadaku saat ini Tuhan. Serasa ingin luluh
semuanya, Tuhan. Tak terbendung lagi Tuhan. Jika Engkau masih mengizinkanku
menjadi penghuni dunia ini, mohon berikan aku kekuatan Tuhan.
Seharusnya ditulis:
Sungguh berkecamuk dadaku saat ini, Tuhan. Serasa ingin
luluh semuanya, Tuhan. Tak terbendung lagi, Tuhan. Jika Engkau masih
mengijinkanku menjadi penghuni dunia ini, berikanlah aku kekuatan, Tuhan.
Hari sudah gelap. Dan aku masih bernapas. Sepertinya aku
harus teruskan perjuangan ini. Meski cappuccinoku tidak hangat lagi, aku harus
tetap berjuang.
Seharusnya ditulis:
Hari sudah gelap dan aku masih bernapas. Sepertinya aku
harus teruskan perjuangan ini, meskipun cappuccinoku tidak hangat lagi. Aku
harus tetap berjuang.
Semoga, suatu hari nanti aku bisa berjumpa dengan Ayah dan
Ibuku.
Seharusnya ditulis:
Semoga suatu hari nanti aku bisa berjumpa dengan ayah dan ibuku.
Secara umum cerpen ini bagus. Menggugah. Bagi pembaca yang
tak lagi memiliki kedua orangtua, ketika membaca cerpen ini bisa meneteskan air
mata. Dan, itu lumrah.
Kepada penulisnya diharapkan terus berkarya, menulis
tema-tema kehidupan lainnya yang lebih luas, tidak larut dalam kesedihan bila
cerpen ini berangkat dari pengalaman empirik penulisnya. Sebab, hidup harus
tetap dijalankan.
Selamat berkarya, salam aktif, salam santun.
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.blogspot.com
[BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM
INDONESIA]
Cappuccinoku Tak
Hangat Lagi
Oleh Rahmizakia Rifka
FAM145M, Padang
Langit sore itu begitu elok. Udaranya begitu bersahabat.
Duduk aku sejenak di bangku di sudut teras rumahku. Pikiranku melayang jauh.
Mataku mengikuti arah terbang burung-burung itu. Sungguh, entah apa namanya.
Perasaanku sedang campur aduk. Rasanya, terlalu banyak partikel-partikel duka
yang melayang di alam pikirku. Kondisi ini, memutar memoriku beberapa tahun
lalu. Persis seperti ini langit di waktu itu. Burung-burung pun, terbang
mengikuti irama angin, persis seperti saat dulu.
Aku letih, baru pulang dari sekolah. Banyak sudah yang aku
hadapi hari ini. Bermacam-macam gejolak yang aku terima. Hhhh….rasanya aku
ingin berhenti saja menjadi penghuni dunia ini. Serasa tak sanggup aku
menghadapinya. Selalu saja begini, kalau aku pulang dari sekolah. Ada-ada saja
yang akan kupikirkan.
Aku tetap menghirup udara sore itu. Ditemani secangkir
cappuccino hangat. Hanya saja, rasa cappuccino itu begitu berbeda. Tidak persis
seperti saat itu. Hangat memang. Tapi, rasanya masih ada yang kurang.
Aku coba meneguk cappuccinoku perlahan. Sekilas, aku
melihatnya di depanku. Sekilas, aku merasakan kehadirannya di sampingku.
Sekilas, aku merasa berada dalam dekapannya.
Ternyata itu cuma perasaanku. Aku harus sadar. Aku tidak
boleh berkhayal atau pun berangan-angan.
“Siapa yang datang, nak?? “
“…………….” Aku hanya tersenyum.
Hari itu, adalah hari pembagian surat kelulusan siswa dalam
Ujian Nasional. Begitu ramai sekolahku hari itu. Lapangan parkir dipenuhi oleh
mobil-mobil mewah. Motor-motor tersusun rapi di pojok lapangan. Oh…tidak lama
lagi aku harus meninggalkan sekolah ini. Ya, jelas itu harus kulakukan. Aku
sudah lulus dari sekolah ini. Statusku, sebentar lagi akan menjadi alumni
sekolah ini.
“Siapa yang datang, nak? “
“…………….” Aku tetap diam dan tersenyum.
Lagi-lagi, pertanyaan itu dilontarkan kepadaku.
Surat kelulusan itu belum di tanganku. Aku tahu dari Guru,
bahwa aku lulus dalam Ujian Nasional.
“Nak, ini sudah Ibu ambilkan suratnya. Ibu pulang dulu ya.”
“Oh…iya Bu. Terima kasih banyak.” Aku menerima surat itu dan
tersenyum.
Kembali aku teguk perlahan cappuccinoku yang sudah mulai
dingin. Pikiranku masih mengingat kejadian tadi siang di sekolah. Itulah yang
membuatku ingin mengundurkan diri menjadi penghuni dunia ini. Aku tidak sanggup
jika harus selalu dihadapkan pada kondisi seperti itu.
Terkadang aku iri pada teman-temanku. Mereka menjemput surat
kelulusan dengan didampingi orang tua. Jelas, mereka turun dari mobil mewah
mengkilap. Sementara aku?? Jangankan turun dari mobil mewah mengkilap. Yang
akan menjemput surat kelulusanku saja, aku tak tahu. Ayahku, sudah berhenti
jadi penghuni dunia ini, 6 tahun yang lalu. Ibuku sudah 3 tahun yang lalu.
Aku iri. Aku juga ingin merasakan seperti yang teman-temanku
rasakan. Aku rindu kepalaku dibelai. Aku rindu pundakku ditepuk. Aku juga rindu
tubuhku didekap. Oh Tuhan…kepada siapa harus kutunjukkan surat kelulusanku
ini?? Sungguh, pedih sekali rasanya. Belum ada yang bisa aku persembahkan.
Waktu itu aku belum tahu apa-apa. Tapi sekarang, saat aku ingin mencoba untuk
memberi sedikit saja yang kupunya, aku bingung. Pada siapa aku harus memberi? Pada
siapa aku harus berbagi?
Cappuccinoku terasa semakin tidak enak. Semakin dingin saja.
Semakin hambar terasa di lidahku. Tidak nikmat seperti dulu. Ibu, aku rindu
cappuccino buatanmu. Tidak ada cappuccino sehangat cappuccino buatanmu. Rindu
rasanya duduk bersamamu sembari meneguk cappuccino kita. Ibu, aku rindu berada
dalam dekapan cintamu. Aku sudah lulus SMA Ibu!! Anakmu sudah besar. Aku iri
pada mereka Ibu! Mereka menerima surat kelulusan itu dengan penuh suka cita.
Sedangkan aku?? Bukannya aku tidak bersyukur Ibu. Tapi, apa tidak boleh aku
merindu? Apa tidak boleh aku berharap, Ibu?
Tidak terasa, cangkirku sudah kosong. Hari juga semakin
gelap. Aku tinggalkan bangku di teras rumahku sembari membawa cangkir kosongku.
Aku masuk ke dalam rumah. Aku taruh cangkir kosongku, sebelum menutup pintu.
Surat kelulusan itu, tepat aku pajang di samping potret
kedua orang tuaku. Harus apakah diriku ini? Haruskah aku tersenyum?? Atau
haruskah aku menangis? Oh Tuhan surat itu sungguh menyulitkanku. Sungguh
berkecamuk dadaku saat ini Tuhan. Serasa ingin luluh semuanya, Tuhan. Tak
terbendung lagi Tuhan. Jika Engkau masih mengizinkanku menjadi penghuni dunia
ini, mohon berikan aku kekuatan Tuhan. Aku juga ingin tersenyum Tuhan. Aku juga
ingin tegak berdiri. Aku pun juga ingin kuat, menahan beban di pundakku. Mohon
Tuhan, kuatkan aku. Tapi, jika semua itu tidak mungkin, mohon pertemukan aku
dengan mereka Tuhan.
Hari sudah gelap. Dan aku masih bernapas. Sepertinya aku
harus teruskan perjuangan ini. Meski cappuccinoku tidak hangat lagi, aku harus
tetap berjuang. Surat kelulusanku adalah awal dari segalanya. Aku harus kuat.
Mereka adalah kekuatanku. Semoga, suatu hari nanti aku bisa berjumpa dengan
Ayah dan Ibuku. Ibu, tunggu aku dengan cappuccino hangat kita.
[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]

Comments
Post a Comment