Oleh Pit Sandra Sari*)
Seiring perkembangan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi,
terjadilah pergeseran budaya pada berbagai aspek kehidupan bangsa ini. Dengan
ditemukannya sesuatu yang baru, otomatis
kebiasaan atau budaya lama berangsur ditinggalkan, karena dipandang
usang, kurang up to date dan tidak
efektif. Kecendrungan ini salah satunya menimpa tradisi menulis sebagai media
untuk menyampaikan pesan, ide, dan pikiran kepada orang lain.
Orang mulai jarang menulis surat, mengisi buku harian
(diary), membuat rangkuman dan catatan, menulis untuk majalah dinding,
bersahabat pena, membuat karya ilmiah dan segala sesuatu yang berhubungan
dengan tulis menulis. Mereka lebih senang menggunakan media yang lebih canggih
dan cepat untuk menggantikan peran menulis dalam berkomunikasi dan berbagi
informasi. sebagai contoh televisi, Video
CD, internet, Hand Phone (HP) dan media mutakhir lainnya yang semakin diminati
dibanding menulis dan membaca. Hampir semua orang dari berbagai kalangan usia
mengkonsumsi layanan yang disuguhkan media tersebut bahkan tanpa batas.
Di samping tersedianya kemudahan akses yang ditawarkan oleh
media-media di atas, masyarakat zaman sekarang terbiasa dengan budaya instant,
ingin cepat, murah, mudah dan hasilnya wah. Hal ini menyebabkan masyarakat kita
kurang kreatif dan produktif. Sifat ini tanpa disadari mampu mematikan potensi
yang ada pada diri yang seharusnya dipupuk dan dikembangkan. Ketarampilan
menulis adalah salah satunya.
Kita kadang terlupa, padahal dengan kecanggihan media
informasi dan komunikasi saat ini, justru semakin memudahkan orang untuk banyak
menulis. Referensi untuk menulis tersedia secara tanpa batas pula. Menulis
sebenarnya bukanlah hal yang patut dilupakan, Suroso, dkk (1995) mengatakan
“moral, ilmu pengetahuan dan teknologi sampai ke tingkat perkembangannya yang
sekarang ini merupakan salah satu akibat dari kemampuan menulis yang dimiliki manusia.
Dengan kemampuan yang dimilikinya, mereka dapat menciptakan buku buku besar
yang bermanfaat bagi kehidupan manusia dan bermanfaat bagi perkembangan ilmu
pengetahuan serta tekhnologi”.
Artinya, menulis adalah awal dari perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi sekarang ini. Namun fenomena yang berkembang saat
ini, para pelajar, guru, dan sejumlah besar masyarakat kita masih jauh dari
tradisi menulis. Guru dan pelajar misalnya, yang selalu berkecimpung dalam
dunia pendidikan yang begitu dekat dengan literatur, buku dan bahan bacaan,
ternyata jarang meluangkan waktunya untuk menulis. Buktinya, keberadaan majalah
dinding dan majalah sekolah kadang hanya diisi oleh segelintir pelajar saja.
Sementara yang lainnyapun tidak punya kemauan untuk membacanya.
Begitupun halnya dengan guru kita saat ini, tak banyak yang
melahirkan karya tulis ilmiah, padahal keterampilan menulis mampu mendukung
perjalanan profesionalisme seorang pendidik. Kadang terdengar lucu ketika
seorang guru menyuruh anak didiknya mengarang dan menulis, sedangkan dirinya
sendiri tidak mampu melakukannya. Sebahagian orang menganggap bahwa para
penulis adalah orang-orang yang berbakat di bidang itu, sedangkan keterampilan
menulis itu sendiri sebenarnya sesuatu hal yang dapat dipelajari.
Menurut Roni Tabroni
(2007), “aktivitas menulis tidak ada hubungannya dengan bakat, yang ada adalah
potensi. Jika kita mengasah potensi dengan baik, maka tidak menutup kemungkinan
kita untuk menjadi penulis”. Bila orang yang tidak berbakat menulis saja bisa
menulis, apalagi bagi kita yang sudah memiliki bakat dibidang tersebut. Intinya
hanya kemauan untuk belajar dan mencoba, akhirnya bisa jadi terbiasa.
Sebenarnya menulis mempunyai berbagai manfaat. Hal yang
tampak jelas adalah, seorang yang gemar menulis tentu saja juga gemar membaca.
Artinya, mereka memiliki wawasan yang lebih luas, ide yang variatif dan
mempunyai solusi yang lebih banyak dalam hidupnya. Hebatnya, menulis ternyata
mampu menggugah dan memengaruhi orang lain. Menulis juga berguna untuk menyampaikan
saran dan unek-unek kepada siapa saja. Bahkan dengan menulis bisa mendatangkan
rezeki bagi si penulis.
Apa saja yang bisa dijadikan gagasan dalam menulis? “Secara
teoritis, topik atau gagasan tulisan itu dapat digali dari empat sumber, yaitu:
Pengalaman, pengamatan, khayalan (imajinasi) dan pendapat serta keyakinan” (M.
Atar Semi (1996). Pengalaman adalah fakta, suatu kenyataan yang dapat menjadi
bahan renungan, perbandingan bahkan pengetahuan yang apabila dituliskan dapat
bermanfaat bagi orang lain yang tentunya memiliki pengalaman hidup yang
berbeda.
Pengalaman hidup seorang guru yang mengajar di daerah
terpencil yang berjalan kaki sekian kilometer untuk sampai di sekolah yang
diajarnya. Melewati jalan-jalan setapak dan jembatan tua di atas aliran sungai.
Memandang para pelajar yang datang tanpa sepatu, tanpa seragam sekolah dan
tampil apa adanya, dengan fasilitas belajar kurang memadai. Bergaul dengan
masyarakat pedesaan yang minim pendidikan adalah hal yang menarik jika
dituliskan. Tulisannya bisa menjadi perbandingan bagi guru-guru yang mengajar di
daerah perkotaan dengan fasilitas lengkap dan hebat.
Demikian halnya hasil pengamatan juga dapat dijadikan ide
untuk menulis. Meskipun kita tidak mengalami secara langsung, hasil pengamatan
tetap bisa ditulis dengan menarik. Misalnya ketika berjalan di salah satu sudut
Kota Bukittinggi, kita melihat trotoar yang seharusnya digunakan oleh pejalan
kaki, telah menjelma menjadi arena strategis untuk berjualan bagi pedagang kaki
lima. Dari fenomena itu kita dapat mengembangkan tulisan untuk menyampaikan
unek-unek untuk mempertanyakan kebijakan pemerintah kota tentang hal tersebut.
Sementara itu, khayalan atau imajinasi meski tidak dapat
dituliskan ke dalam bentuk ilmiah dan artikel, ternyata bisa dituliskan ke dalam
tulisan fiksi, seperti cerita pendek, cerita bersambung atau novel. Demikian
halnya pendapat dan keyakinan pun dapat dituliskan menjadi sebuah tulisan yang
bagus. Seperti pentingnya pesantren kilat, jalan kaki 10.000 langkah sehari
dapat menyehatkan jantung dan sebagainya.
Begitu banyak hal yang dapat ditulis. Mengapa kita para
pelajar, mahasiswa, guru dan masyarakat modern yang memiliki banyak referensi
tidak memulainya dari sekarang, karena kemampuan menulis juga merupakan salah
satu aspek kemampuan berbahasa yang sangat penting dalam kehidupan.
*) Penulis adalah Guru
SD Negeri 03 Pakan Kurai Bukittinggi, Sumatera Barat
Sumber: KORAN-CYBER.com

Comments
Post a Comment