Lomba Menulis Surat: “Menulis Dongeng Tentang Putri Anastasya, Putri Elisabeth dan Pangeran Alexander”
Kepada
Ydh. FAM Indonesia
di
Tempat
Assalamualaikum Wr. Wb.
Mengawali surat dari saya terlebih dahulu saya ucapkan rasa
syukur yang tak terkira karena Allah telah mengizinkan saya menemukan FAM
Indonesia di tengah kebingungan saya mencari komunitas yang bisa meningkatkan
motivasi menulis saya.
FAM yang baik, saya akan bercerita tentang masa-masa awal
ketertarikan saya dengan pena. Semua terjadi ketika saya kelas empat Sekolah
Dasar (SD) di Ciamis. Kala itu saya bertemu dengan seorang anak perempuan
bernama Eka Septiani R. Kecintaan kami terhadap buku dan cerita dongeng pada
akhirnya membuat kami mulai menulis cerita dongeng sendiri. Saat itu belum ada
komputer di desa kami, bahkan mesin tik pun tidak ada. Kami menulis dengan pena
di kertas folio dan menyertakan gambar-gambar dari majalah untuk membuat cerita
kami semakin menarik.
Cerita dongeng yang paling saya ingat adalah tentang Putri
Anastasya, Putri Elisabeth dan Pangeran Alexander. Dongeng ini kami tulis saat
kelas lima Sekolah Dasar (SD), terinspirasi dari rasa suka kami terhadap salah
satu anak laki-laki di kelas bernama Andri. Lucu memang, kami menyukai anak
laki-laki di usia kami yang masih kanak-kanak saat itu. Putri Anastasya dalam
cerita itu adalah saya, sementara Eka dan Andri diibaratkan sebagai Putri
Elisabeth dan Pangeran Alexander. Kami menulis bersama-sama, bergantian dengan
pena. Tapi menjelang akhir cerita, diam-diam aku menulis ulang dan membuat
tempelan gambar-gambar sendiri dari Majalah Bobo,
akhir cerita kubuat dengan versiku sendiri. Pangeran Alexander akhirnya memilih
Putri Anastasya sebagai pendamping hidupnya. Tanpa sepengetahuanku, Eka
ternyata melakukan hal yang sama. Dia menulis ulang cerita yang kami buat dan
membuat akhir cerita yang indah di mana Pangeran Alexander akhirnya memilih
Putri Elisabeth. Padahal, akhir cerita yang kami buat bersama berakhir sedih di
mana Pangeran Alexander tewas di tangan penyihir jahat.
Saat kenaikan kelas ke kelas enam Sekolah Dasar, suatu pagi
aku dikejutkan dengan kabar kepindahan Eka ke Bandung karena orangtuanya pindah
ke sana. Aku sangat sedih saat itu, sahabat dan rekanku menulis harus pergi
jauh. Aku bahkan tidak pernah ke Bandung dalam usia sekecil itu. Kukira Bandung
– Ciamis memiliki jarak yang sangat jauh. Aku dan Eka belum mengenal handphone, sementara telepon dan
internet sama sekali belum masuk ke desaku. Di saat perpisahan itulah aku dan
dia menangis dan mengakui tentang akhir cerita yang sama-sama kami buat
berbeda. Pengakuanku dan dia menjadi lelucon indah di saat perpisahan kami.
Saat itu juga aku berjanji akan tetap menulis meskipun tak bersamanya lagi.
Waktu terus bertasbih, penggal cerita hilir mudik silih
berganti. Hampir sebelas tahun aku tak bersama Eka. Kesibukanku di Madrasah
Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah memang sempat membuatku lalai dari janji itu,
aku sempat vakum menulis. Tapi kini aku berniat untuk menunaikan janjiku
padanya lagi, tetap menulis dan berkarya. Di saat yang sama, aku bersyukur
bertemu dengan FAM Indonesia, semoga FAM bisa memotivasiku untuk tetap
menunaikan janjiku tanpa pernah lalai kembali.
Salam santun, salam karya.
Anisa Wijayanti
ID FAM 1020 U
Comments
Post a Comment