Oleh Muhammad Subhan*)
Tidak banyak
orang yang mampu menulis panjang. Tidak banyak juga penulis yang baru pertama
kali membuat novel tiba-tiba naskahnya diterima editor lalu diterbitkan menjadi
buku dan beredar luas di pasaran. Kedua hal ini tidak berlaku bagi Maizul, pengarang
novel 5 Bintang yang karyanya
diterbitkan penerbit besar sekelas Salsabila (September 2011). Salsabila adalah
Divisi Sastra dari Penerbit buku-buku agama berkualitas Pustaka Al-Kautsar, Jakarta.
Novel 5 Bintang ketebalannya 606 halaman. Ini
buku yang sangat fantastis. Jarang novel-novel terbitan Indonesia memiliki
ketebalan di atas 500 halaman. Namun tentu saja Maizul dan banyak penulis Indonesia
lainnya masih tertinggal jauh dari penulis-penulis dunia yang menerbitkan novel
dengan ketebalan lebih dari seribu halaman. Satu diantara novel dunia itu
adalah “Perang dan Damai” (War and Peace)
karya Leo Tolstoy yang memiliki ketebalan 1.443 halaman.
Novel-novel era
pujangga lama dan pujangga baru malah lebih tipis lagi, rata-rata kurang dari
200 halaman. Novel Dibawah Lindungan
Ka’bah karya Hamka yang baru-baru ini dirilis kembali filmnya hanya
memiliki ketebalan 66 halaman. Novel Si
Jamin dan Si Johan karya Merari Siregar 102 halaman, novel Belenggu karya Armin Pane 150 halaman,
begitu juga novel Dari Ave Maria Jalan
Lain ke Roma 171 halaman. Itu beberapa contoh judul novel (roman) di era sebelumnya
yang terbit kurang dari 200 halaman. Tentu masih banyak judul yang lain.
Pertanyaan yang
layak diajukan, adakah korelasi antara tebalnya sebuah novel dengan bermutunya
isi novel itu sendiri? Tentu jawabannya sangat relatif. Ada novel-novel yang
dianggap sejumlah ahli sastra sebagai novel bermutu, tidak tebal-tebal amat, tetapi sulit didapatkan di pasaran
atau kalau pun ada sedikit sekali yang membeli dan membacanya. Sebaliknya ada
novel-novel yang dianggap “kurang bermutu” dan tidak layak disebut sebagai
sebuah novel malah menguasai pasar, dicetak berulang kali, menyandang status best seller book, diterjemahkan ke
berbagai bahasa bahkan difilmkan. Tentu ini sangat aneh tapi nyata. Bila
dipolemikkan di ruang media, tidak akan ada ujungnya.
Pada kesempatan
ini saya tidak mengkaji soal ketebalan novel atau laris tidaknya sebuah novel
di pasaran pascaterbitnya. Saya hanya ingin melihat sisi lain dari novel 5 Bintang yang coba saya ulas. Tentu ini
hanyalah pandangan subyektif usai menuntaskan membacanya.
* * *
Novel 5 Bintang berkategori cerita anak-anak semi
remaja. Nama 5 Bintang dilekatkan
kepada 5 orang anak sekolah dasar SDN 2 Sijunjung (Joel, Jamaris, Kenedy, Rajab
dan Kansas). Sejak pertama masuk sekolah kelimanya menjadi sahabat akrab meski
berbeda watak dan karakter. Ceritanya kocak, tetapi tutur bahasa penceritaan
yang dipakai pengarang terlalu cerdas, melampaui lumrahnya anak-anak yang
berbicara di dunianya. Agaknya Maizul sulit melepaskan dirinya sebagai
pengarang dari tokoh ciptaannya sehingga bahasa-bahasa yang sangat cerdas itu
menjadi tidak lumrah diucapkan oleh anak-anak usia sekolah dasar.
Misalnya begini:
“Itulah kenapa ia tidak mau melepaskan kupu-kupu
imitasi dari kepalanya. Dibeli ibu saya seminggu sebelum ia meninggal di pasar
Sawah Lunto!” Itu keterangan terakhir yang dapat kusimak dari sang ibu, kenapa
anaknya sampai sudah seperti Xan-Thippe, seorang perempuan bengis yang
nyerempet jadi istri Socrates. (hal. 44)
Bagi seorang anak
sekolah dasar, baru pertama masuk sekolah pula, bagaimana ia dapat mengenal sosok
Xan-Thippe dan Socrates yang filosof itu? Sangat mustahil sekali. Anak SMP dan
SMA pun, saya kira sedikit yang tahu akan sosok itu, sebab porsi materi ajar
yang minus, kecuali mereka membaca buku-buku filsafat yang diajarkan di bangku
perguruan tinggi. Di sini yang cerdas bukanlah tokoh Aku (Joel) melainkan
pengarangnya sendiri.
Begitupun pada
paragraf berikut ini:
“...Mengambil ungkapan bijak dari kaum filosof
sekaliber Socrates, Aristoteles, Ibnu Sina, dan Imam Ghazali. Tapi yang sering
ia ucapkan adalah ungkapan dari tokoh yang bernama Jamain gelar Sutan Batuah
Muko Picak. Entah siapa tokoh keramat ini. Sampai tamat sekolah aku masih juga
belum bisa mengetahui apa saja penemuan penting beliau. Ataukah orang itu kawan
satu indekosnya Plato?
(hal. 46)
Sangat hebat
sekali saya kira bila seorang anak SD sudah tahu dan kenal akrab dengan
Socrates, Aristoteles, Ibnu Sina, dan Imam Ghazali. Disamping itu, walau
bernada guyon, mensejajarkan tokoh
yang bernama Jamain gelar Sutan Batuah Muko Picak sebagai kawan satu indekosnya
Plato juga tidak nyambung sebab
keduanya hidup di jaman yang berbeda.
* * *
Menulis cerita
anak dan cerita remaja memang tidak mudah walau semua orang pernah berangkat
dari dunia anak-anak kemudian hidup di dunia dewasa. Tetapi Maizul lihai menentukan
tulisannya agar enak dibaca, maka ia memakai sudut pandang orang pertama (Aku)
sebagai tokoh utama (Joel). Dengan sudut pandang ini pengarang dapat menyapa
pembaca tulisannya. Dapat menentukan reaksi ataupun respon pembaca bahkan
pembaca merasa menjadi pelaku utama di dalam tulisan tersebut dan berteman
dengan penulisnya. Tetapi seringkali teknik ini menjebak sehingga pengarang tidak
dapat melepas dirinya yang dewasa dengan tokoh ciptaannya yang anak-anak atau
remaja.
Aspek lainnya
yang penting diperhatikan seorang pengarang di dalam menulis cerita anak-anak
atau cerita remaja adalah aspek nilai moral. Taufiq Ismail (2003) menyebutnya
sebagai nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam karya sastra, seperti
keimanan, kejujuran, ketertiban, pengendalian diri, tanggung jawab, kerjasama,
kerja keras, optimisme dan menghargai nyawa manusia. Nilai luhur ini menjadi
penentu moral tokoh di dalam sebuah cerita.
Di dalam 5 Bintang, banyak saya temukan kata,
kalimat, dan ungkapan yang (maaf) agak tabu bila anak-anak seusia sekolah dasar
menyebutkannya, meski bukan berarti tidak ada anak-anak yang bertutur kata
demikian. Walaupun fiksi adalah karya imajinasi seorang pengarang, tetapi bila
pembacanya adalah anak-anak, tentu pesan moral yang ingin disampaikan pengarang
bila menyimpang malah akan menjadi sebuah pembenaran bagi mereka.
Beberapa bagian
di dalam 5 Bintang yang saya kutip
sebagai berikut:
Sang anak kian over acting berjalan dengan
mengipas-ngipas pantat, seraya mengangkat gaun setinggi paha... (hal. 12)
...Ia seperti tidak peduli dengan pantat yang
menggelepar-gelepar tak terkontrol. Dada aman! Sambil lari terus dipegangi
dengan kedua tangan.
(hal. 14)
Pertanyaan apa ini? Pakai acara pangkal-pangkal
segala. Otakku mikir! Haruskah aku menjawab dengan “pangkal paha”! Atau... (hal. 61)
“Aku sudah mempersiapkan kutang dan kolor baru
untukmu!” kata Dian pagi tadi terus mengiang...” (hal. 129)
“...Aku tersentak dari lamunan. Warna kolor yang
berwarna-warni dan kutang yang berwarna pink beterbangan di benakku. Dian
memang brengsek! Mampu memancing daya khayalku dengan celana dalam dan
kutang...” (hal. 132)
“...Sepertinya yang kulihat bukan Dian yang
anggun. Tapi Dian yang aneh. Memakai kolor di kepala dan kutang sebagai ikat
pinggang. Seperti mengukur masa depanku bahwa kelak dalam otakku hanya berisi
kolor wanita sementara daya pikiranku hanya selingkaran pinggangnya. (hal. 137)
Lumrahnya, batas
pubertas seorang anak laki-laki adalah usia 15 tahun. Namun dalam 5 Bintang, tokoh utama dan
kawan-kawannya yang masih duduk di bangku sekolah dasar berusia kurang dari 10
tahun sudah mengenal benda-benda vital di tubuh manusia yang selayaknya belum perlu
terlalu serius mereka pikirkan. Dan, bagi pembaca apa yang mereka ucapkan dan
perbuat itu tentulah sangat mengejutkan.
Itu hanya beberapa
hal saja yang sedikit mengusik pembacaan saya. Tetapi sesungguhnya novel ini
mengandung estetika bahasa luar biasa yang mewarnai kisah-kisah didalamnya,
khususnya soal cinta.
Seperti terungkap
dalam paragraf berikut ini:
Rupanya bila penyair jatuh cinta maka dunia akan
ikut menari. Namun bila sebaliknya cinta ditolak, maka dunia pun muram meratap.
Syair-syair duka. Pantun-pantun menawan penuh seribu makna luka dan
ungkapan-ungkapan malapetaka akan mengalir dari pena seorang seniman. Keluar
dan terus mengalir bak bunga-bunga layu di musim kemarau. (hal. 146).
Seniman memang tidak pernah sendirian dalam
menyimpan luka. Duka nestapa bagi mereka adalah sebuah bentuk kemenangan seni
yang akan menakjubkan dunia. (hal. 146)
Indah sekali
kalimat-kalimat itu. Walau tidak lumrah untaian kata sedemikian halus dan
indahnya diucapkan oleh anak sekolah dasar (yang cenderung berbahasa latah dan comel), tetapi di sinilah letak
kemampuan berbahasa pengarang yang pantas pula mendapat pujian. Artinya Maizul telah
bekerja keras agar karyanya memiliki nilai estetika yang tinggi agar menjadi
karya sastra yang benar-benar bernilai dan tentu juga memiliki makna yang
dalam.
Terlepas dari
segala kelebihan dan kekurangannya, novel 5
Bintang telah lahir ke tengah-tengah khalayak pembaca dan pantas diberikan
apresiasi yang tinggi kepada pengarangnya. Mengarang membutuhkan waktu dan
motivasi terus menerus agar karya itu dapat lahir sempurna dan tidak prematur.
Maizul telah membuktikan dirinya mampu duduk berlama-lama di depan komputer,
mengetik berlembar-lembar halaman, mengumpulkan ide dan gagasan hingga menjadi
sebuah cerita yang menarik dan enak dibaca. Sudah selesailah untuk sementara
waktu tugasnya sebagai seorang pengarang, yaitu menulis karangan. Setelah karya
itu menjadi buku, tentu kita sepakat bahwa setiap buku akan punya nasibnya
sendiri.
MUHAMMAD
SUBHAN, jurnalis dan
penulis. Novelnya Rinai Kabut Singgalang (2011), Cinta Regu Badak (akan terbit), Abu di Atas Tungku (akan terbit). Menulis
cerpen dan puisi. Berkegiatan di Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia.

Comments
Post a Comment